BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tujuan akhir atau hasil puncak (ultimate
goal) pendidikan Islam adalah keterjagaan dan keterbebasan individu dan
keluarganya dari kenestapaan, kesengsaraan dan siksa neraka sebagaimana
dielaborasi dalam firman Allah Swt. Surat at-Tahrim ayat 6.
Tujuan utama pendidikan Islam juga adalah merengkuh kebahagiaan hakiki
sebagaimana diungkapkan dalam surat al-Qashash ayat 77
dan al-Baqarah ayat 201-202.
Dan sebagai sebuah sistem, pendidikan Islam sendiri memiliki
sejumlah komponen yang saling berkaitan antara satu dan lainnya untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan. Komponen pendidikan tersebut antara lain komponen
kurikulum, guru, metode, sarana-prasarana, dan evaluasi. Selanjutnya dari
sekian komponen tersebut, guru merupakan komponen pendidikan yang paling penting,
terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan
peningkatan mutu pendidikan.
Guru menjadi komponen
terpenting dalam sebuah sistem pendidikan karena guru ibarat menjadi jantung
yang mengedarkan darah ke seluruh jaringan tubuh, begitu pula posisi guru yang
menjadi sentral transformasi, internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai dan
materi pendidikan dalam sebuah sistem pendidikan. Tanpa eksistensi guru dalam proses
pendidikan tidak akan dapat terlaksana sama sekali. Tanpa peran aktif guru sistem
pendidikan dimanapun akan terhenti. Karenanya kajian tentang pendidik atau guru
baik dalam ranah konseptual maupun ranah aktual selalu menarik dan penting
dilakukan terutama oleh para ahli atau intelektual yang concern dengan pendidikan.
Perumusan tentang konsep
pendidik ideal telah dilakukan oleh banyak tokoh. Dalam konteks pendidikan
Islam tokoh-tokoh utama (sekedar menyebut beberapa nama) seperti Al-Ghazali,
Ibn al-Qayyim al-Jauziah, Ibnu Khaldun, al-Zarnuji, dan lain-lain, sebenarnya
sudah cukup memadai untuk menjelaskan tentang konsep pendidik dalam konteks
pendidikan Islam. Ditambah lagi dengan gagasan-gagasan beberapa tokoh era kini
semisal Muhammad Abduh, Yusuf al-Qardhawi, Athiyah al-Abrasy, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Nequib al-Attas,
Hasan Langgulung dan lain-lain. Pandangan-pandangan mereka tentang konsep
pendidikan Islam (termasuk konsep pendidik) tentu merupakan hasil “ ijtihad tarbawi” yang mengacu pada sumber utama yaitu al-Qur’an dan Sunnah dengan sudut pandang
masing-masing berlatar belakang keilmuan, situasi zaman dan tempat hidup yang
mereka kuasai dan alami.
Upaya sistematis dan menyeluruh
dalam menggali pemikiran-pemikiran tentang pendidikan Islam selanjutnya
diharapkan seperti yang diutarakan oleh Azyumardi Azra, dapat mengembangkan
intelektual Muslim secara kualitatif dan mendasar. Kaum intelektual Muslim
dengan kualifikasi seperti itulah yang dapat diharapkan mewujudkan “kebangkitan islam”, karena pada akhirnya ia mampu mengetengahkan
ajaran-ajaran Islam secara sistematis, terpadu dan menyeluruh serta relevan
dengan tantangan dunia modern.
Makalah ini penulis susun
disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah study qur’an juga sebagai bagian
dari upaya intelektual untuk menjelaskan konsep pendidik dan tugas pendidik
dalam kajian Tafsir.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pengertian guru (pendidik) dalam pendidikan Islam ?
2.
Bagaimana tugas pendidik agama Islam dalam kajian tafsir QS. Ali
Imran ayat 164 ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian guru (pendidik)
Dalam Kamus
Bahasa Indonesia dinyatakan, bahwa pendidik adalah orang yang mendidik. Dalam
pengertian yang lazim digunakan, pendidikan adalah orang dewasa yang bertanggung
jawab memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani
dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam
memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, dan mampu melakukan tugas
sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang madiri.
Pendidik dalam
konteks Islam, sering disebut dengan murabbi, mu’allim, dan mu’addib,
yang pada dasarnya mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan konteks kalimat,
1. Murabbi (مربّي )
Berasal dari kata raba-yarbu yang
artinya (bertambah dan tumbuh). Kedua, berasal dari kata rabiya,
yarba yang mempunyai makna tumbuh (nasya’) dan
menjadi besar ( tarara’). Ketiga, berasal dari kata rabba,
yarubbu yang artinya, memperbaiki, menguasai, memimpin,
menjaga, dan memelihara. Kata
kerja rabba semenjak masa Rasulullah sudah di kenal dalam ayat al-Qur’an
dan Hadist nabi.
Firman Allah SWT :
ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u/u #ZÉó|¹ ÇËÍÈ
dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. al-Isra’ : 24)
Dalam bentuk kata benda, kata rabba digunakan
untuk Tuhan, hal tersebut karena tuhan juga besifat mendidik, mengasuh,
memelihara, dan bahkan menciptakan. Firman Allah SWT:
Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. ( Q.S.
al-Fatihah:2).
Dengan demikian istilah murabbi sebagai pendidik
mengandung makna yang luas, Secara ringkas term murabbi sebagai
pendidik mengandung empat tugas utama yaitu:
1. Memlihara dan
menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa.
2. Mengembangkan
seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3. Mengarahkan
seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4. Melaksanakan
pendidikan secara bertahap.
2. Mu’allim ( معلّم)
Istilah Mu’allim secara etimologi berasal
dari al-fi’l al-madhi ‘alama, mudhari’nya yu’allimu dan
mashdarnya al-ta’lim. Artinya, telah mengajar, sedang mengajar, dan
pengajaran. Kata mu’allim memiliki arti pengajar atau orang yang mengajar.
Dalam proses pendidikan istilah pendidikan yang
kedua yang di kenal sesudah al-tarbiyyat adalah al-ta’lim. Rasyid ridha,
mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada
jiwa individu. Dengan demikian maka mu’alim adalah orang yang melakukan proses
tersebut.
Firman Allah
SWT:
Artinya: “Sebagaimana
(kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah menutus kepadamu
Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu Rasul diantara kamu
yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan kami mensucikan kamu dan
mengajarkan kepada kamu apa yang telah belum kamu ketahui.” (Q.S. al_Baqarah
: 151).
Istilah Mu’allim pada ayat tersebut
diartikan sebagai pengajar, yakni memberi informasi tentang kebenaran dan ilmu
pengetahuan. Istilah Mu’allim ini termasuk yang banyak digunakan di
desa-desa di Indonesia, dengan pengertian sebagai orang yang menjadi guru agama
dan pemimpin spiritual di masyarakat.
3. Muaddib
Secara bahasa mu’addib merupakan
bentukan mashdar dari kata addaba yang berarti memberi adab,
mendidik. Adab dalam kehidupan sehari-hari sering di artikan tata krama, sopan
santun, akhlak, budi pekerti. Anak yang beradab biasanya sering di
pahamisebagai anak yang sopan yang mempunyai tingkah laku yang terpuji.
Selanjutnya
istilah al muaddib antara lain dijumpai dalam hadis Nabi Muhammad SAW
yang berbunyi :
“Tuhanku telah
mendidikku (memperbaiki akhlakku), maka perbaguslah didikan akhlakku ini.”
Berdasarkan tinjauan etimologi di atas, maka
secara terminologi mu’addib adalah seorang pendidik yang
bertugas untuk menciptakan suasana belajar yang dapat menggerakkan peserta
didik untuk berprilaku atau beradab sesuai dengan norma-norma, tata susila, dan
sopan santun yang berlaku dalam masyarakat.
Berdasarkan
pengertian di atas, dapat dipahami bahwa pendidik dalam perspektif pendidikan
Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani
dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu
menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (baik sebagai khalifah maupun abid)
sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
B.
Tafsir Tugas Guru Dalam Surat Ali Imran Ayat 164
1.
Ayat
ôs)s9 £`tB ª!$# n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øÎ) y]yèt/ öNÍkÏù Zwqßu ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr& (#qè=÷Gt öNÍkön=tæ ¾ÏmÏG»t#uä öNÍkÅe2tãur ãNßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê AûüÎ7B ÇÊÏÍÈ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan
mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan
(jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan
Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam
kesesatan yang nyata.
2.
Penafsiran ayat
ôs)s9 £`tB ª!$# n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øÎ) y]yèt/ öNÍkÏù Zwqßu ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr&
Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,
a). Kata مَنَّ dalam al-Quran mempunyai beberapa pengertian,
diantaranya adalah:
1)
Sejenis makanan yang turun
dari langit. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah: 57, yang berbunyi: وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى (dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa). Manna adalah sebuah
makanan yang berbentuk seperti jeli atau madu.
2) Perbuatan mengungkit-ungkit sebuah amalan. Seperti yang
tertera dalam surat Al-Baqarah: 254, yang berbunyi: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا
صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى (jangan kalian batalkan shadaqah-shadaqah kalian dengan
mengungkit-ungkitnya dan mengganggu orang yang diberi shadaqah).
3) Memutus. Seperti yang disebut dalam surat Al-Qalam: 3,
yang berbunyiوَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (dan sesungguhnya engkau
memiliki pahala yang tiada terputus).
Kata Manna (مَنّ) di sini mengandung arti memberikan anugrah kepada orang-orang
yang beriman dengan diutusnya seorang rasul kepada mereka, dan bukan مَنَّ yang memiliki arti tercela, yakni
menghitung-hitung dan mengungkit-ngungkit pemberian, sekalipun Allah ta’ala berhak
untuk mengungkit-ungkit nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan kepada hambaNya.
b). Mengapa dalam ayat ini hanya disebutkan orang mukmin saja? Bukankah Rasulullah saw. itu
diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam? Jawabannya adalah karena orang yang
mampu menerima manfaat dari kenikmatan dan hidayah itu hanya orang mukmin. Maka
disini disebutkan khusus bagi orang mukmin, sebagai bentuk penghormatan dan
kemuliaan.
c). Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kata (مِنْ
أَنْفُسِهِمْ):
·
Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan orang Arab. Karena kita tahu bahwa Nabi
Muhammad saw. diutus pertama kali di negeri Arab. Allah mengutus beliau dari
kalangan Arab sehingga mereka lebih memahami apa yang disampaikan oleh beliau.
Walaupun risalah beliau tidak khusus bagi orang arab.
·
Min anfusihim dimaksudkan dari
kalangan manusia. Allah mengutus Nabi dari golongan manusia. Bukan jin atau
malaikat. Karena kalau dari golongan selain manusia, umat manusia akan
kesulitan memahami apa yang disampaikan.
Ibnu Katsir dalam kitab
tafsirnya memilih pendapat yang kedua, bahwa Nabi diutus dari golongan manusia,
supaya mereka dapat berkomunikasi, bertanya-jawab, berdampingan, serta
mengambil manfaat darinya. Ini ditunjukkan dalam
Al-Kahfi:110:
ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ×|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqã ¥n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) ÓÏnºur
(katakanlah sesungguhnya tiada
lain aku juga manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian
hanyalah Tuhan yang Maha Esa...).
b). Tugas
Guru Pendidikan Agama Islam dalam Surat Ali Imran 164
1)
Tilawah
يَتْلُو
عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ
“Membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah”
Berasal dari kata “talaa” - “yatlu” - “tilawatan”, yang mempunyai 2 makna:
(a). Membacakan ayat-ayat
Allah, yaitu al-Qur`an kepada umatnya secara benar. Membaca dengan tartil sesuai
dengan tajwid, makhraj dan sifat-sifat hurufnya. Dan sudah menjadi kebiasaan
Rasulullah saw. tadarusan bersama dengan Jibril setahun sekali. Di tahun
Rasulullah meninggal, beliau tadarusan bersama Jibril sebanyak dua kali. Hal
ini dilakukan untuk menjaga keaslian al-Qur`an.
(b). Rasulullah saw. membuka
pengetahuan umatnya, baik melalui bacaan al-Qur`an atau sabda beliau, disamping
hukum agama, juga tentang ayat-ayat kekuasaan Allah, agar manusia mengimani-Nya
dan mampu meningkatkan kualitas keimanannya.
Secara umum makna “tilawah” berbeda
dengan “qiro’a”, jika qiro’a yang mempunyai arti membaca secara tekstual dan
berfokus pada intelektual. Sedangkan tilawah lebih dalam daripada itu, selain
membaca tilawah juga mengandung makna memahami dan menjalankan ajaran Al Qur’an
(yang dibaca).
Pada
dasarnya konsep membaca di bagi menjadi dua macam yakni membaca secara tekstual
yakni membaca yang dilakukan dengan hanya berpedoman (fokus) pada teks semata.
Dan secara kontekstual yakni membaca keadaan sekitar, sehingga darinya akan
mendapatkan ilmu yang semakin luas.
Itulah
kenapa ayat Al Qur’an yang pertama di turunkan adah perintah untuk membaca (iqro’)
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ
Dalam ayat diatas ditunjukkan bahwa tidak hanya
sekedar membaca, tapi membaca harus dengan menyebut nama Allah, dan di akhir
dilanjutkan dengan makna mencipta, ini menunjukkan bahwa membaca sangat penting
sebagai bahan untuk mencipta.
2). Membersihkan
Jiwa (Tadzkiyah)
يُزَكِّيهِمْ
“Membersihkan (jiwa) mereka”
Berasal dari
kata “Zakka”-“yuzakki”-“tazkiyatan” artinya membersihkan
dan mensucikan.
Makna asli tazkiyah adalah membersihkan dan mensucikan dari segala noda,
baik dhahir maupun batin. Yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah membersihkan
dari berbagai kepercayaan-kepercayaan jahiliyah, atau pemahaman-pemahaman yang
salah. Rasulullah diutus kepada umat manusia untuk meluruskan mereka dari
pemahaman, pola hidup, kepercayaan, cara pikir yang tidak benar, dengan
menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyebarkan kebenaran risalah Islam.
3).
Mengajarkan Al Qur’an
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
artinya: dan dia mengajari
Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada mereka. Maksudnya adalah Rasul bertugas
mentransfer (memindahkan) ilmu yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk umatnya. Ilmu tersebut ada di
dalam Al-Qur`an dan hadits. Al-Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur`an.
Al-Hikmah adalah Hadits. Secara umum, hikmah adalah setiap kalimat yang
mengandung kebaikan dan berguna sepanjang masa
(tidak lekang ditelan zaman).
Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam , (Jakarta : PT. Grasindo,
2001), h. 132
Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999,) h. 27