Kamis, 19 April 2018

Revitalisasi Perumusan Kompetensi Lulusan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN



Oleh :
Ahmad Faisol

A.    Rasionalitas
Gelegar Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (MEA) telah menggema, meskipun belum diterima sepenuhnya oleh seluruh masyarakat. Mengapa demikian, karena kehadiran pasar ini tampil dengan perspektif ekonomi saja, sehingga masyarakat yang berada di luar ranah ekonomi, bisa jadi tidak tahu atau tidak mau tahu. MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) yang akan di-launching pada 31 Desember 2015, memungkinkan mudahnya mobilitas barang, jasa, dan orang antarnegara di wilayah ASEAN. Tentu saja ini merupakan angin segar bagi yang siap bersaing, namun menjadi badai yang melumpuhkan bagi yang tidak siap. Kita akan melihat betapa mudahnya barang, jasa, dan orang di wilayah ASEAN memasuki negara kita demikian juga sebaliknya apabila kita memiliki daya saing. Berbagai kemungkinan bisa terjadi seperti: supir angkot orang Kamboja, buruh pabrik dan pekerja bangunan orang Laos dan Vietnam, pedagang di pasar orang Thailand dan Malaysia.
Jutaan orang akan bersaing dengan tenaga kerja asing pasca mereka lulus dari satuan pendidikan tertentu. Suatu fakta yang tidak bisa dihindari karena perjanjian tersebut telah disepakati oleh seluruh anggota ASEAN. Tema implementasi pasar tunggal ASEAN 2015 adalah sektor barang dan jasa. Tujuh sektor barang yang dimaksud yaitu produk berbasis pertanian, otomotif, elektronik, karet, tekstil, perikanan, dan barang dari kayu, sedangkan lima sektor jasanya adalah layanan transportasi udara, layanan dalam jaringan, pariwisata, kesehatan, dan logistik.
Meskipun saat ini hanya terbatas beberapa sektor, perjanjian ini menimbulkan tanda tanya besar bagi insan pendidikan tentang sejauh mana kemampuan anak didik kita dalam bersaing secara global. Semakin dekatnya MEA dan masih banyaknya masyarakat yang belum memahami hal ini, besar kemungkinan menjadi masalah besar bagi bangsa kita, sebab akan muncul kegagapan massal terutama bagi angkatan kerja yang tidak terdidik dan tidak  terlatih.
Bagaimana pendidikan (khususnya lembaga pendidikan Islam) kita merespon MEA yang sudah ada di pelupuk mata? Akankah kita korbankan generasi sekarang bersaing tanpa persiapan?. Era perdagangan bebas ASEAN harus disambut oleh dunia pendidikan dengan cepat, agar sumber daya manusia Indonesia siap menghadapinya tanpa banyak menimbulkan masalah.
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang menempati peran penting di muka bumi ini, karena dengan pendidikan Islam inilah nilai-nilai yang baik bisa di ajarkan. Sehingga dengan datangnya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini, lembaga pendidikan Islam pun harus melakukan perumusan setrategis agar mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing tinggi.


B.     Rumusan Masalah
1.    Apa yang harus di lakukan lembaga pendidikan Islam dalam mempersiapkan lulusan yang berkompeten dalam MEA ?

C.    Solusi
Keadaan yang digambarkan diatas tidak mungkin untuk dihindari, apalagi di cegah, sehingga satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menyiapkan diri dengan cara “Merevitalisasi kembali kompetensi apa saja yang di butuhkan dalam persaingan MEA”.
Minimal ada dua pendekatan dalam upaya “revitalisasi” peningkatan standar kompetensi lulusan lembaga pendidikan Islam, yakni :
1.    Mensosialisasikan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), dengan menentukan stadart kelulusan yang berskala ASEAN.
2.    Merumuskan kompetensi pokok, yang menjadi ciri lulusan lembaga pendidikan Islam sebagai modal mandiri dalam persaingan MEA.

Pada pendekatan yang pertama, standar kerangka kualifikasi ini harus ditentukan oleh negara. Standart tersebut mulai dari satu hingga sembilan. Standar satu sampai tiga untuk TK sampai MI, standar empat untuk SLTP (MTs), standar lima untuk SLTA (MA), standar enam untuk jenjang strata satu (S-1), standar tujuh untuk strata dua (S-2), standar delapan untuk spesialis atau master filosofi, dan standar sembilan untuk doktor.
Standart ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan Islam di Indonesia dapat setara dengan kualitas lembaga-lembaga pendidikan lain di seluruh anggota ASEAN. Juga dengan standart guru dan dosen sehingga mereka mengajar adalah guru yang memiliki kompetensi dan integritas bersekalan ASEAN.
Pada pendekatan yang kedua, merupakan bagian yang paling penting dimana lembaga pendidikan Islam harus memiliki rumusan grend desain setandart kompetensi lulusan yang dirumuskan dari hasil analisis kritis pokok-pokok ajaran Islam, diantaranya adalah lulusan pendidikan Agama Islam diharapkan memiliki spesifikasi kemandirian, berupa :
a.    Pandai Membaca, membaca yang tidak hanya terbatas pada bacaan tekstual, tetapi lebih mampu membaca situasi (kontekstual) “mampu meneliti”, sehingga barang siapa yang mampu membaca kondisi persaingan maka ia yang akan mampu bersaing.
b.   Pandai Mencipta, dengan MEA ini agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi penonton dan konsumen semata, maka kompetensi yang harus dimiliki adalah kreatifitas yakni inovatif partisipatif.
c.    Pandai Bekerja Sama, dengan datangnya masyarakat dari berbagai Negara ASEAN maka kemampuan bahasa yang komunikatif dalam menjalin kerja sama adalah hal pokok dan urgen untuk dikuasai.
d.   Pandai Menyelesaikan Masalah, dengan datangnya MEA maka masalah pun pasti semakin banyak, maka dibutuhkan individu-individu yang arif, bijaksana dan dewasaan dalam menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul.   

Empat point diatas, merupakan rumusan prinsip ideal yang menjadi kompetensi pokok dan ideal, hasil manifestasi dari berbagai ajaran keislaman yang sudah sepatutnya di implementasikan dan dikembangkan di lembaga pendidikan Islam melalui berbagai macam metode dan kebijakannya.
Sehingga lembaga pendidikan Islam pun dapat diperhitungkan peranannya dalam mempersiapkan generasi muda pada persaingan “Masyarakat Ekonomi Asean” yang mau tidak mau pasti akan dilalui.


Tugas pendidik dalam QS Ali Imran 164


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Tujuan akhir atau hasil puncak (ultimate goal) pendidikan Islam adalah keterjagaan dan keterbebasan individu dan keluarganya dari kenestapaan, kesengsaraan dan siksa neraka sebagaimana dielaborasi dalam firman Allah Swt. Surat at-Tahrim ayat 6.[1] Tujuan utama pendidikan Islam juga adalah merengkuh kebahagiaan hakiki sebagaimana diungkapkan dalam surat al-Qashash ayat 77[2] dan al-Baqarah ayat 201-202.[3]
Dan sebagai sebuah sistem, pendidikan Islam sendiri memiliki sejumlah komponen yang saling berkaitan antara satu dan lainnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Komponen pendidikan tersebut antara lain komponen kurikulum, guru, metode, sarana-prasarana, dan evaluasi. Selanjutnya dari sekian komponen tersebut, guru merupakan komponen pendidikan yang paling penting, terutama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan.[4]
Guru menjadi komponen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan karena guru ibarat menjadi jantung yang mengedarkan darah ke seluruh jaringan tubuh, begitu pula posisi guru yang menjadi sentral transformasi, internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai dan materi pendidikan dalam sebuah sistem pendidikan. Tanpa eksistensi guru dalam proses pendidikan tidak akan dapat terlaksana sama sekali. Tanpa peran aktif guru sistem pendidikan dimanapun akan terhenti. Karenanya kajian tentang pendidik atau guru baik dalam ranah konseptual maupun ranah aktual selalu menarik dan penting dilakukan terutama oleh para ahli atau intelektual yang concern dengan pendidikan.
Perumusan tentang konsep pendidik ideal telah dilakukan oleh banyak tokoh. Dalam konteks pendidikan Islam tokoh-tokoh utama (sekedar menyebut beberapa nama) seperti Al-Ghazali, Ibn al-Qayyim al-Jauziah, Ibnu Khaldun, al-Zarnuji, dan lain-lain, sebenarnya sudah cukup memadai untuk menjelaskan tentang konsep pendidik dalam konteks pendidikan Islam. Ditambah lagi dengan gagasan-gagasan beberapa tokoh era kini semisal Muhammad Abduh, Yusuf al-Qardhawi, Athiyah al-Abrasy, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Nequib al-Attas, Hasan Langgulung dan lain-lain. Pandangan-pandangan mereka tentang konsep pendidikan Islam (termasuk konsep pendidik) tentu merupakan hasil “ ijtihad tarbawi” yang mengacu pada sumber utama yaitu al-Qur’an dan Sunnah dengan sudut pandang masing-masing berlatar belakang keilmuan, situasi zaman dan tempat hidup yang mereka kuasai dan alami.
Upaya sistematis dan menyeluruh dalam menggali pemikiran-pemikiran tentang pendidikan Islam selanjutnya diharapkan seperti yang diutarakan oleh Azyumardi Azra, dapat mengembangkan intelektual Muslim secara kualitatif dan mendasar. Kaum intelektual Muslim dengan kualifikasi seperti itulah yang dapat diharapkan mewujudkan “kebangkitan islam”, karena pada akhirnya ia mampu mengetengahkan ajaran-ajaran Islam secara sistematis, terpadu dan menyeluruh serta relevan dengan tantangan dunia modern.[5]
Makalah ini penulis susun disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah study qur’an juga sebagai bagian dari upaya intelektual untuk menjelaskan konsep pendidik dan tugas pendidik dalam kajian Tafsir.




B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian guru (pendidik) dalam pendidikan Islam ?
2.      Bagaimana tugas pendidik agama Islam dalam kajian tafsir QS. Ali Imran ayat 164 ?




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian guru (pendidik)
Dalam Kamus Bahasa Indonesia dinyatakan, bahwa pendidik adalah orang yang mendidik. Dalam pengertian yang lazim digunakan, pendidikan adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang madiri.[6]
Pendidik dalam konteks Islam, sering disebut dengan murabbi, mu’allim, dan mu’addib, yang pada dasarnya mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan konteks kalimat,
1.      Murabbi (مربّي )
Berasal dari kata raba-yarbu yang artinya  (bertambah dan tumbuh). Kedua, berasal dari kata rabiya, yarba yang mempunyai makna tumbuh (nasya’) dan menjadi besar ( tarara’). Ketiga, berasal dari kata rabba, yarubbu yang artinya, memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara.[7] Kata kerja rabba semenjak masa Rasulullah sudah di kenal dalam ayat  al-Qur’an dan Hadist nabi.

     Firman Allah SWT :
ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ  
dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. al-Isra’ : 24)

Dalam bentuk kata benda, kata rabba digunakan untuk Tuhan, hal tersebut karena tuhan juga besifat mendidik, mengasuh, memelihara, dan bahkan menciptakan.   Firman Allah SWT:

Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. ( Q.S. al-Fatihah:2).

Dengan demikian istilah murabbi sebagai pendidik mengandung makna yang luas, Secara ringkas term murabbi sebagai pendidik mengandung empat tugas utama yaitu:
1.      Memlihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa.
2.      Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3.      Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4.      Melaksanakan pendidikan secara bertahap.[8]

2.      Mu’allim ( معلّم)
   Istilah Mu’allim secara etimologi berasal dari al-fi’l al-madhi ‘alama, mudhari’nya yu’allimu dan mashdarnya al-ta’lim. Artinya, telah mengajar, sedang mengajar, dan pengajaran. Kata mu’allim memiliki arti pengajar atau orang yang mengajar.[9]
Dalam proses pendidikan istilah pendidikan yang kedua yang di kenal sesudah al-tarbiyyat adalah al-ta’lim. Rasyid ridha, mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu. Dengan demikian maka mu’alim adalah orang yang melakukan proses tersebut.[10]
Firman Allah SWT:

Artinya: “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah menutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan kami mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang telah belum kamu ketahui.” (Q.S. al_Baqarah : 151).

Istilah Mu’allim pada ayat tersebut diartikan sebagai pengajar, yakni memberi informasi tentang kebenaran dan ilmu pengetahuan. Istilah Mu’allim ini termasuk yang banyak digunakan di desa-desa di Indonesia, dengan pengertian sebagai orang yang menjadi guru agama dan pemimpin spiritual di masyarakat. [11]

3.      Muaddib

Secara bahasa mu’addib merupakan bentukan mashdar dari kata addaba yang berarti memberi adab, mendidik. Adab dalam kehidupan sehari-hari sering di artikan tata krama, sopan santun, akhlak, budi pekerti. Anak yang beradab biasanya sering di pahamisebagai anak yang sopan yang mempunyai tingkah laku yang terpuji.[12]
Selanjutnya istilah al muaddib antara lain dijumpai dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
“Tuhanku telah mendidikku (memperbaiki akhlakku), maka perbaguslah didikan akhlakku ini.”

Berdasarkan tinjauan etimologi di atas, maka secara terminologi mu’addib adalah seorang pendidik yang bertugas untuk menciptakan suasana belajar yang dapat menggerakkan peserta didik untuk berprilaku atau beradab sesuai dengan norma-norma, tata susila, dan sopan santun yang berlaku dalam masyarakat.[13]

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (baik sebagai khalifah maupun abid) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.[14]









B.     Tafsir Tugas Guru Dalam Surat Ali Imran Ayat 164

1.    Ayat
ôs)s9 £`tB ª!$# n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) y]yèt/ öNÍkŽÏù Zwqßu ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr& (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÅe2tãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê AûüÎ7B ÇÊÏÍÈ  

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

2.    Penafsiran ayat
ôs)s9 £`tB ª!$# n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) y]yèt/ öNÍkŽÏù Zwqßu ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr&
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,

a). Kata مَنَّ dalam al-Quran mempunyai beberapa pengertian, diantaranya adalah:
1)   Sejenis makanan yang turun dari langit. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah: 57, yang berbunyi: وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى (dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa)Manna adalah sebuah makanan yang berbentuk seperti jeli atau madu.
2)    Perbuatan mengungkit-ungkit sebuah amalan. Seperti yang tertera dalam surat Al-Baqarah: 254, yang berbunyi: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى (jangan kalian batalkan shadaqah-shadaqah kalian dengan mengungkit-ungkitnya dan mengganggu orang yang diberi shadaqah).
3)    Memutus. Seperti yang disebut dalam surat Al-Qalam: 3, yang berbunyiوَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (dan sesungguhnya engkau memiliki pahala yang tiada terputus).[15]


Kata Manna (مَنّ) di sini mengandung arti memberikan anugrah kepada orang-orang yang beriman dengan diutusnya seorang rasul kepada mereka, dan bukan مَنَّ yang memiliki arti tercela, yakni menghitung-hitung dan mengungkit-ngungkit pemberian, sekalipun Allah ta’ala berhak untuk mengungkit-ungkit nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan kepada hambaNya.[16]

b). Mengapa dalam ayat ini hanya disebutkan orang mukmin saja? Bukankah Rasulullah saw. itu diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam? Jawabannya adalah karena orang yang mampu menerima manfaat dari kenikmatan dan hidayah itu hanya orang mukmin. Maka disini disebutkan khusus bagi orang mukmin, sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan.[17]
c).  Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kata (مِنْ أَنْفُسِهِمْ):
·      Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan orang Arab. Karena kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw. diutus pertama kali di negeri Arab. Allah mengutus beliau dari kalangan Arab sehingga mereka lebih memahami apa yang disampaikan oleh beliau. Walaupun risalah beliau tidak khusus bagi orang arab.
·      Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan manusia. Allah mengutus Nabi dari golongan manusia. Bukan jin atau malaikat. Karena kalau dari golongan selain manusia, umat manusia akan kesulitan memahami apa yang disampaikan.[18]

          Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memilih pendapat yang kedua, bahwa Nabi diutus dari golongan manusia, supaya mereka dapat berkomunikasi, bertanya-jawab, berdampingan, serta mengambil manfaat darinya.  Ini ditunjukkan dalam Al-Kahfi:110: 
ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ׎|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqム¥n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) ÓÏnºur
(katakanlah sesungguhnya tiada lain aku juga manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian hanyalah Tuhan yang Maha Esa...).
b). Tugas Guru Pendidikan Agama Islam dalam Surat Ali Imran 164
1)   Tilawah
          يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ 
           “Membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah”

Berasal dari kata talaa-yatlu-tilawatan”, yang mempunyai 2 makna:
(a). Membacakan ayat-ayat Allah, yaitu al-Qur`an kepada umatnya secara benar. Membaca dengan tartil sesuai dengan tajwid, makhraj dan sifat-sifat hurufnya. Dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. tadarusan bersama dengan Jibril setahun sekali. Di tahun Rasulullah meninggal, beliau tadarusan bersama Jibril sebanyak dua kali. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian al-Qur`an.
(b). Rasulullah saw. membuka pengetahuan umatnya, baik melalui bacaan al-Qur`an atau sabda beliau, disamping hukum agama, juga tentang ayat-ayat kekuasaan Allah, agar manusia mengimani-Nya dan mampu meningkatkan kualitas keimanannya.[19]

        Secara umum makna “tilawah” berbeda dengan “qiro’a”, jika qiro’a yang mempunyai arti membaca secara tekstual dan berfokus pada intelektual. Sedangkan tilawah lebih dalam daripada itu, selain membaca tilawah juga mengandung makna memahami dan menjalankan ajaran Al Qur’an (yang dibaca).
        Pada dasarnya konsep membaca di bagi menjadi dua macam yakni membaca secara tekstual yakni membaca yang dilakukan dengan hanya berpedoman (fokus) pada teks semata. Dan secara kontekstual yakni membaca keadaan sekitar, sehingga darinya akan mendapatkan ilmu yang semakin luas.
        Itulah kenapa ayat Al Qur’an yang pertama di turunkan adah perintah untuk membaca  (iqro’)
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ  

Dalam ayat diatas ditunjukkan bahwa tidak hanya sekedar membaca, tapi membaca harus dengan menyebut nama Allah, dan di akhir dilanjutkan dengan makna mencipta, ini menunjukkan bahwa membaca sangat penting sebagai bahan untuk mencipta.

2). Membersihkan Jiwa (Tadzkiyah)
        يُزَكِّيهِمْ 
       “Membersihkan (jiwa) mereka”

Berasal dari kata “Zakka”-“yuzakki”-“tazkiyatan artinya membersihkan dan mensucikan.
Makna asli tazkiyah adalah membersihkan dan mensucikan dari segala noda, baik dhahir maupun batin. Yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah membersihkan dari berbagai kepercayaan-kepercayaan jahiliyah, atau pemahaman-pemahaman yang salah. Rasulullah diutus kepada umat manusia untuk meluruskan mereka dari pemahaman, pola hidup, kepercayaan, cara pikir yang tidak benar, dengan menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyebarkan kebenaran risalah Islam.
3). Mengajarkan Al Qur’an
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
 artinya: dan dia mengajari Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada mereka. Maksudnya adalah Rasul bertugas mentransfer (memindahkan) ilmu yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk umatnya. Ilmu tersebut ada di dalam Al-Qur`an dan hadits. Al-Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur`an. Al-Hikmah adalah Hadits. Secara umum, hikmah adalah setiap kalimat yang mengandung kebaikan dan berguna sepanjang masa (tidak lekang ditelan zaman).


[1] Teks nas ayat ini adalah :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

[2] Teks nas ayat ini adalah :
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ  
dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

[3] Teks nas ayat ini adalah :
Oßg÷YÏBur `¨B ãAqà)tƒ !$oY­/u $oYÏ?#uä Îû $u÷R9$# ZpuZ|¡ym Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#xtã Í$¨Z9$# ÇËÉÊÈ   y7Í´¯»s9'ré& óOßgs9 Ò=ŠÅÁtR $£JÏiB (#qç7|¡x. 4 ª!$#ur ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇËÉËÈ  
dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka". Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
[4] Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam , (Jakarta : PT. Grasindo, 2001), h. 132
[5] Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999,) h. 27

[6] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2010), hlm. 159
[7] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, (Yokyakarta : Teras, 2011), hlm. 84
[9] Op.Cit, hlm. 85
[11] Abudin Nata, Ibid, hlm.160
[12] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yokyakarta : Teras, 2011), hlm. 85
[13] Abudin Nata, Ibid, hlm. 163
[14] Bukhori Umar, Hadis Tarbawi, pendidikan dalam perspektif hadis, (Jakarta : Amzah, 2012), hlm.68
[16] Syikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2007), hlm.248
[18] Op.Cit.

Revitalisasi Perumusan Kompetensi Lulusan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh : Ahmad Faisol A.     Rasionalitas Gelegar Masyarakat Ekonomi A SEAN 2015 (MEA) telah menggema, meskipun belum diterima ...