Oleh : Ahmad Faisol
Ahmad.faisol039@gmail.com
PENDAHULUAN
Pembahasan pada
artikel ini, menggunakan tiga konsep pendekatan yakni, “Base Value”, “Persepsi”
dan “Manifestasi”. Konsep ini terinspirasi dari sebuah khutbah singkat Prof.
Samsul Arifin dalam sebuah kesempatan. Tiga konsep ini sering digunakan dalam melihat
praktek-praktek amalan ibadah keagamaan sehari-hari, dimana dari sumber yang
sama bisa memunculkan berbagai pendapat, pemikiran, bahkan kelompok yang
berbeda. Satu ayat Al-Qur’an sebagai base value (nilai dasar) dapat di
persepsikan secara tafsir dan pemahaman yang berbeda oleh para ulama’ sehingga
dapat di manifestasikan sebagai ciri khas tertentu bagi para pengikut sesudahnya.
Untuk itu,
perlu kiranya dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam di fakultas
Sains dan Teknologi UIN Malang untuk dipaparkan bagaimana karakteristik PAI
sebagai nilai dasar (Base Value) yang kemudian dipersepsikan dalam sebuah
gagasan yang menjiwai keilmuan UIN Malang kemudian barulah kita dapat melihat
manifestasi dalam prakteknya menjadi karakteristik tertentu.
Sehingga dengan
mengetahui tiga tahap tersebut diharapkan dalam pembelajaran pendidikan Agama
Islam dapat selaras dan sesuai dengan cita-cita besar faounding father
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
A.
Konsep Dasar dan Tujuan
Pendidikan Agama Islam
1.
Konsep Pendidikan Agama Islam
Dalam
menjelaskan konsep “pendidikan agama Islam” kiranya perlu diuraikan terlebih
dahulu bahwa setidaknya kalimat “pendidikan Agama Islam” mengandung dua suku
kata penting yakni “pendidikan” dan “ Agama Islam”. Berbagai definisi telah
menjelaskan apa itu pendidikan dan apa itu agama Islam diantaranya, pendidikan secara
etimology berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an
sehingga pengertian pendidikan adalah sebuah sistem cara mendidik atau
memberikan pengajaran dan peranan yang baik, akhlak dan kecerdasan berfikir.[1] Sedangkan secara terminology telah banyak dirumuskan
berbagai macam definisi tentang apa itu pendidikan.
Menurut
George F. Kneller, sebagaimana dikutip oleh Wiji Suwarno, mengemukakan bahwa:
pendidikan memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas, pendidikan diartikan
sebagai tindakan atau pengalaman yang memengaruhi perkembangan jiwa, watak,
ataupun kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan adalah suatu proses
mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan dari generasi ke
generasi, yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan secara
sistematis seperti sekolah, pendidikan tinggi, atau lembaga-lembaga lain.[2] Menurut John Dewey: “Education is thus a
fostering, a nurturing, a cultivating, process. All of these words mean that it
implies attention to the conditions of growth”. Pendidikan adalah sebuah
perkembangan, pemeliharaan, pengasuhan, proses. Yang mengandung pengertian bahwa
pendidikan secara tidak langsung memperhatikan keadaan-keadaan pertumbuhan
peserta didiknya.[3]
Pendidikan tidak hanya proses pengayaan intelektual, tetapi juga meliputi aspek
yang lain, seperti aspek afektif dan psikomotorik.
Dari
definisi-defini di atas maka dibuatlah definisi pendidikan Dalam UU
RI No. 20
tahun 2003 tentang
sistem pendidikan Nasional, BAB 1 pasal
1 yang menyatakan bahwa
pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk
mewujudakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi
pada dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[4]
Sehingga dapat difahami bahwa pendidikan adalah proses atau sarana dalam
menyampaikan sebuah nilai-nilai kebaikan untuk dapat ditanamkan dalam diri
setiap peserta didik sehingga dapat berkembang seluruh potensi-potensi yang
dimiliki.
Definisi
yang kedua adalah “Agama Islam” kata ini terdiri dari “Agama” dan “Islam” Untuk
pengertian tentang agama, dalam buku Al-Islam yang ditulis oleh Drs. H. Rois
Mahfud, M.Pd. dijelaskan bahwa kata “Agama” menurut istilah Al-Qur’an disebut Al-Din.
Secara bahasa, kata “Agama” ini diambil dari bahasa Sankrit (Sansekerta),
sebagai pecahan dari kata-kata “A” artinya “tidak” dan “gama” artinya “kacau.”
“Agama” berarti “tidak kacau”. Pengertian di atas mengandung makna bahwa agama
sebagai pedoman aturan hidup akan memberikan petunjuk kepada manusia sehingga
dapat menjalani kehidupan ini dengan baik, teratur, aman, dan tidak terjadi
kekacauan yang berujung pada tindakan anarkis.[5] Sedangkan
pengertian Islam sendiri adalah “damai” atau “perdamaian” (al-salamu/peace)
dan “keamanan”. Islam adalah agama yang mengajarkan pada pemeluknya, orang
Islam untuk menyebarkan benih perdamaian, keamanan, dan keselamatan untuk diri
sendiri, sesama manusia (Muslim dan Non-Muslim) dan kepada lingkungan
sekitarnya (rahmatan lil „alamin).[6]
Maka
dapat difahami bahwa agama Islam adalah sebuah nilai-nilai kebaikan sebagai
sebuah pedoman dalam seluruh aspek kehidupan manusia yang karenanya menjadi
damai dan tertata. Sehingga dari dua definisi pendidikan dan agama Islam di
atas memberikan gambaran yang jelas dan lugas dalam proses pendefinisian apa
itu pendidikan agama Islam. Sebagaimana Muhaimin dalam bukunya yang berjudul
Paradigma Pendidikan Islam, mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah
upaya mendidik agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way
of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.[7] Dalam
refrensi yang lain, secara rinci dijelaskan bahwa Pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana
untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan
mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.[8]
Sebagaimana pendapat A. Tafsir, bahwa pendidikan agama Islam adalah
bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang lain agar ia berkembang
secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[9]
Dalam
petunjuk pelaksanaan kurikulum atau GBPP PAI dinyatakan bahwa Pendidikan Agama
Islam merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini,
memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk
menghormati hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional.[10] Pendidikan
Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu usaha yang
secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan
manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan
sebagai salah satu sarana pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.[11]
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui
ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak
didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya
secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu
pandangan hidupnya seperti keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun
di akhirat kelak.
2.
Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan
pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu
untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT yang selalu beriman dan bertakwa
kepadaNya dan dapat mencapai kesuksesan dan berbahagia di dunia dan akhirat.
Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Al-Dzariat:56;
QS Al Baqarah: 21, QS. Ali Imran: 102.
Dalam
konteks sosiologi, pribadi yang bertaqwa menjadi rahmatan lil ‘alamin,
baik dalam skala kecil maupun besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam inilah
yang dapat disebut sebagai tujuan akhir pendidikan Islam. Menurut Abdul Fatah
Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba
Allah SWT. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia
yang menghambakan diri kepada Allah SWT. Yang dimaksud menghambakan diri ialah
beribadah kepada Allah SWT.[12]
Dalam
kaitan ini Zakiah Darojad, menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam yaitu;
membina manusia beragama, manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama
Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan
dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan
dunia dan akhirat yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan
efektif.[13]
Secara
terperinci Imam Suprayogo dalam berbagai kesempatan mengungkapkan, bahwa tujuan
pendidikan Islam tercermin dalam ayat-ayat Al-Qur’an pedoman hidup yang membawa
lima misi penting yakni:[14]
a.
Mencetak
umat Islam yang kaya Ilmu
Misi
Islam yang pertama dan utama adalah menjadikan umatnya kaya akan ilmu
pengetahuan, sebagaimana ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah
perintah untuk membaca, dalam QS Al alaq 1-5. Membaca memiliki makna yang luas,
baik makna “qouliyah” yakni firman Allah SWT dan Sunnah RasulNya, juga
secara “kauniyah” yakni alam semesta ini, sebagaimana yang digambarkan
dalam karakter Ulul albab (QS. Ali imran: 191) selalu berfikir tentang
penciptaan alam semesta dan dari sana akan muncul keimanan bahwa semua tidak
ada yang sia-sia.
b.
Membangun
manusia unggul dan berkualitas
a.
Mengenal
dirinya, sebagaimana dalam riwayat diterangkan bahwa مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ “barang siapa
yang mengenal dirinya maka akan mengenal tuhannaya”.
b.
Manusia
yang bisa dipercaya, merupakan karakter utama yang harus dimiliki seorang
Muslim sebagaimana Rasulullah di usia yang masih mudah sudah memperoleh gelar
“al amin” yakni orang yang dapat dipercaya.
c.
Tazkiyatun
nafs, yakni menghindari dan membersihkan diri dari perkara-perkara yang di
larang oleh Allah SWT.
d.
Bermanfaat
untuk orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa sebaik-baiknya manusia
adalah yang bermanfaat untuk sesamanya (خير الناس
أنفعهم للناس )
c.
Risalah
Keadilan, Kedudukan manusia sama di mata tuhannya kecuali kualitas iman dan ketaqwaannya,
sebagaimana Rasulullah mengubah kebiayasaan orang-orang kafir dengan tradisi
jahiliyah menjadi masyarakat yang adil
dan beradab.
d.
Tuntunan
ritual sepiritual, Islam memberikan ajaran ibadah berupa ritual-ritual yang
menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
e.
Konsep
Amal sholeh, dalam beberapa ayat Al Qur’an konsep iman selalu disandingkan
dengan amal shaleh آَمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Tujuan Pendidikan Agama Islam identik dengan
tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan
yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan
pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.
Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam adalah suatu harapan yang
diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.[15] Yang
menjadikan peserta didiknya mampu meyakini, memahami, menghayati, dan
mengamalkan nilai-nilai agama Islam secara baik dan benar.
3.
Skema
|
PENDIDIKAN
|
|
Proses Sadar dan Terencana
|
|
Meyakini, Memahami, Menghayati dan Mengamalkan
|
|
AGAMA ISLAM
|
|
Nilai-nilai dan Ajaran Islam
|
B.
Persepsi Founding Father dalam Keilmuan UIN Malang
Berbagai definisi dan tujuan pendidikan Agama Islam pada point di
atas kemudian dipersepsikan dalam sebuah penafsiran pada visi misi Universitas.
Dengan visi misi inilah yang membawa lembaga pendidikan (UIN Malang) dapat
mencapai target yang di cita-citakan.
1.
Visi
dan Misi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Adapun visi dan
misi pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara ringkas yakni
mencetak generasi yang mempunyai jiwa “ulul albab” dengan empat pilar utamanya
yakni:
a.
Kedalaman
spiritual yaitu kemampuan individu dalam memaknai kehidupan dan berperilaku
yang didasari dengan adanya semangat spiritual. Kemampuan ini dicirikan dengan
adanya kesadaran terhadap kehadiran Allah, kemampuan untuk mengagumi ciptaan
Allah, dan adanya rasa takut hanya oleh Allah.
b.
Keagungan
akhlak yaitu kemampuan individu untuk berperilaku mulia sesuai dengan ajaran
Islam sehingga perilaku tersebut menjadi ciri dari kepribadiannya. Kemampuan
ini dicirikan dengan adanya kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup baik
berupa keyakinan, lisan, maupun perbuatan, dan kemampuan untuk bersabar dalam
menghadapi cobaan, dan kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk.
c.
Keluasan
ilmu yaitu kualitas seseorang yang dicirikan dengan kepintaran dan kecerdikan dalam
menyelesaikan masalah sesuai dengan bidang keahliannya. Kemampuan ini dicirikan
dengan sikap bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, kemampuan untuk selalu
menggunakan potensi akal fikiran, dan kemampuan untuk selalu menggunakan
potensi kalbu (perasaan).
d.
Kematangan
profesional yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dan berperilaku sebagai
seorang profesional dibidangnya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya
kebiasaan untuk bertindak sesuai dengan ilmu, kesediaan untuk menyampaikan
ilmu, kesediaan berperan serta dalam memecahkan masalah umat.
Sehingga
pada akhirnya nanti, tercetak generasi-generasi ulama’ intelektual profesional sekaligus
intelektual profesional yang ulama’. Ulama’ yang mempunyai pengetahuan keagamaan
kuat dan kompeten sekaligus dapat menguraikan konsep-konsep agama dalam bingkai
keilmuan yang logis dan ilmiah berdasarkan perenungan, pemikiran, pengamatan
dan penyelidikan (research) sehingga dalam beragama menjadi semakin
yakin dan mantab. Sebagaimana sebuah adagium mengatakan “ilmu agama tanpa ilmu
umum seperti orang buta, tetapi ilmu umum tanpa ilmu agama seperti orang
lumpuh” artinya harus ada keseimbangan antara ilmu-ilmu keagamaan dengan
ilmu-ilmu umum yang terjalin secara sinergi, holistic dan integral.
Berangkat
dari persepsi pemikiran seperti itulah kemudian tercipta konsep keilmuan UIN Malang
yang digambarkan dengan sebuah “pohon ilmu”, sebagai berikut:
Sistem Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Pohon
sebagai metafora Integrasi Keilmuan di UIN Malang dapat dipahami melalui tabel
dibawah ini :
Bag
Pohon
|
Keterangan
|
Fardlu
‘ain
|
Fardlu
Kifayah
|
Akar
|
Ilmu Alat
Yaitu : B.
Indonesia, B Arab, B Inggris, Filsifat, Ilmu-ilmu Alam, Ilmu Sosial dan
Pancasila
|
v
|
x
|
Batang
|
Kajian yang
bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits
|
v
|
x
|
Dahan,
ranting dan Daun
|
Jenis
fakultas yang dipilih
|
x
|
v
|
Buah
|
Bangunan ilmu
yang integratid antara ilmu umum dan agama yaitu amal sholeh dan akhlakul karimah
|
||
Melalui
metafora pohon ilmu tersebut, Prof. Imam Suprayogo menjelaskan bahwa jika berbicara
tentang Islam sebenarnya sudah menyangkut agama, ilmu, dan peradaban. Oleh
karena itu mendikotomikan antara Islam dan ilmu pengetahuan umum sebenarnya
tidaklah tepat. Berbicara Islam sudah dengan sendirinya juga berbicara tentang
ilmu pengetahuan. Setidaknya, Islam sudah mendorong dan bahkan memerintahkan
agar umatnya mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
Prof.
Imam Suprayogo melihat sebuah gambar pohon yang tumbuh subur, lebat dan rindang,
semakin terlihat menarik untuk disimbolisasikan. Karena pada sebatang pohon terdapat
sebuah keindahan, dan sangat tepat digunakan untuk menerangkan tentang
integrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Pohon tumbuh dalam waktu
lama, bertahun-tahun, bahkan beberapa jenis tertentu usianya melebihi usia
manusia. Kehidupan dan pertumbuhan pohon juga dapat untuk menggambarkan, bahwa
ilmu juga selalu tumbuh dan berkembang.[16]
Beberapa komponen-komponen yang ada pada pohon diantaranya adalah, akar yang
kuat menghujam ke tanah, akar yang kuat akan menjadikan batang pohon berdiri
tegak dan kokoh. Pohon itu juga akan menumbuhkan dahan, ranting, daun dan buah
yang sehat dan segar.
Bangunan
keilmuan yang bersifat komprehensif, yaitu mencakup agama dan ilmu pengetahuan
tersebut ternyata semakin dipahami dan diakui oleh berbagai kalangan setelah
kelembagaan perguruan tinggi Islam negeri ini berhasil berubah dari sekolah
tinggi, atau STAIN Malang menjadi UIN Malang. Memang pada awalnya, perubahan
kelembagaan tersebut dikhawatirkan akan berdampak negatif, yaitu mendangkalkan
pengetahuan agama dikalangan perguruan tinggi Islam, terutama oleh mereka yang
menganggap bahwa Islam hanya sebatas ilmu ushuluddin, syari'ah, tarbiyah, adab,
dan dakwah.[17]
C.
Manifestasi PAI di Fakultas Sains dan Teknologi
Sebagaimana visi misi yang dibawa oleh UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang melalui konsep pohon ilmunya dapat difahami bahwa sistem keilmuan yang
dikembangkan adalah konsep integrasi antara keilmuan umum dengan ilmu-ilmu keIslaman. Sehingga dalam manifestasinya konsep “dikotomi
keilmuan” menjadi tidak relefan untuk diterapkan. Integrasi Ilmu adalah
keterpaduan secara nyata antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam) dengan
Ilmu Pengetahuan Umum atau Sains. Jika dipelajari secara seksama, sesungguhnya
ilmu pengetahuan di dunia ini dapat di klasifikasikan menjadi tiga golongan,
yaitu ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social science),
dan ilmu humaniora (humanities). Ketiga jenis ilmu (ilmu alam, ilmu
social dan ilmu humaniora) berlaku secara universal di mana saja. Hanya saja,
dikalangan umat islam merumuskan ilmu tersendiri yang bersumberkan pada al-Qur’an dan Hadits.
Al-Qur’an dan hadits dalam pengembangan ilmu diposisikan sebagai sumber
ayat-ayat Qouliyah sedangkan hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis
diposisikan sebagai sumber ayat-ayat Kauniyah. Dengan posisinya yang seperti
ini, maka berbagai cabang ilmu pengetahuan selalu dapat dicari sumbernya dari
al-Qur’an dan Hadits. Ilmu sains dikembangkan dengan mencari sumbernya (base
value) dalam al-Qur’an dan Hadits yang kemudian dikuatkan dan dijabarkan
melalui hasil-hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis sebagai
ayat-ayat Kauniyah.
Sehingga dalam manifestasi dilapangan fakultas sains dan teknologi
merupakan sebuah konsep Ideal dimana ilmu pengetahuan umum (fisika, kimia,
biologi, matematika, dll) dipadukan dengan sumber keislaman yakni Al-Qur’an dan
Hadits. Sebagaimana dalam defisini
Pengertian Sains (science) menurut Agus S. diambil dari kata latin
scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge
merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan
Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara
untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan
proses yang tidak dapat dipisahkan. “Real Science is both product and
process, inseparably Joint”.[18] Sedangkan
teknologi adalah aktivitas atau kajian yang menggunakan pengetahuan sains untuk
tujuan praktis dalam industri, pertanian, perobatan, perdagangan dan lain-lain.
Teknologi juga dapat didefinisikan sebagai kaedah atau proses menangani suatu
masalah teknis yang berasaskan kajian saintifik termaju seperti menggunakan
peralatan elektronik, proses kimia, manufaktur, permesinan yang canggih dan
lain-lain.[19]
Teknologi merupakan bagian dari sains yang berkembang secara mandiri,
menciptakan dunia tersendiri. Akan tetapi teknologi tidak mungkin berkembang
tanpa didasari sains yang kokoh begitu juga sebaliknya sains tanpa didasari
dengan teknologi yang baik juga tidak bisa maksimal. Maka sains dan teknologi
menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.
Integrasi sains dan teknologi dengan Islam dalam konteks sains
modern bisa dikatakan sebagai profesionalisme atau kompetensi dalam satu
keilmuan yang bersifat duniawi di bidang tertentu dibarengi atau dibangun
dengan pondasi kesadaran ketuhanan. Kesadaran ketuhanan tersebut akan muncul
dengan adanya pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu Islam. Oleh sebab itu,
ilmu-ilmu Islam dan kepribadian merupakan dua aspek yang saling menopang satu
sama lain dan secara bersama-sama menjadi sebuah fondasi bagi pengembangan
sains dan teknologi. Bisa disimpulkan, integrasi pendidikan agama dengan sains
dan teknologi berarti adanya penguasaan sains dan teknologi dipadukan dengan ilmu-ilmu
Islam dan kepribadian Islam.[20]
Melalui sains dan teknologi inilah kemudian ayat-ayat Al-Qur’an
dapat di buktikan secara ilmiah, sebagai contoh misalnya:
a.
Fungsi
Gunung
Dalam QS. Al Anbiya:31 : “Dan telah Kami
jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang
bersama mereka...” dengan
menggunakan penelitian berdasarkan sains dan teknologi maka diketahui bahwa
memang benar bahwa fungsi gunung adalah menjaga keseimbangan bumi.
b.
Dasar
lautan yang gelap
Dalam QS. An-Nuur: 40 : “Atau seperti
gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya
ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih,
apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang
siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai
cahaya sedikit pun.” melalui sains
dan teknologi yang canggih dapat membuktikan bahwa pada kedalaman 200 meter
hampir tidak dijumpai cahaya, sedangkan pada kedalaman 1000 meter
tidak terdapat cahaya sama sekali.
c.
Lautan
yang tidak bercampur satu sama lain
Dalam QS. Ar
Rahman:19-20 : Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya
kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh
masing-masing.” Setelah
memlaui penelitian fisika ditemukan bahwa kadar garam, masa jenis dan tegangan
permukaan air yang menjadikan keduanya tidak dapat menyatu satu sama lain.
d.
Penciptaan
Manusia
Dalam QS. Al ‘Alaq:1-3 : “Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” Melalui penelitian sains yang mendalam maka
ditemukannlah konsep embriologi modern yang menjelaskan tentang fase fase
perkembangan janin. Atau dalam QS. QS. Al-Hijr : 26 “Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) daritanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
e.
Segala
yang hidup berasal dari air
Dalam QS. Al-Anbiya; 30 : “. . .dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup… “ setelah
diteliti memang benar bahwa segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu
pasti mengandung air dan juga membutuhkan air.
f.
Madu
menjadi obat
Dalam QS. An-Nahl: 69 : “ . . .Dari perut
lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya
terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang
memikirkan," melalui sebuah
penelitian sains ditemukan bahwa memang madu mengandung berbagai macam khasiat
yang dapat digunakan sebagai obat.
Tentunya masih
banyak lagi ayat-ayat lainnya yang sesuai dengan pembuktian sains dan teknologi
modern. Dan diakhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa antara fakultas sains
dan teknologi tidak dapat dipisahkan dengan ilmu keislaman (pendidikan agama
Islam) merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendidikan agama Islam sebagai dasar
penanaman luhur ketuhanan sedangkan sains dan teknologi meningkatkan
keimanannya hingga pada akhirnya tercapai sebuah kesimpulan dalam QS. Ali Imron
: 191
رَبَّنَا
مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
"Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Wassalam
[2] 5
Wiji Suwarno, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media:
2009), hlm. 19-20
[3]
John Dewey, Democracy and Education, (New York: The Macmillan Company,
1964), hlm. 10
[5]
Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Palangka Raya: Erlangga,
2011), hlm. 2.
[6]
Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama ..., hlm. 4.
[7]
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam ..., hlm. 30
[8]
Departemen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan Luar
Biasa, tt, hlm. 2.
[9]Abdul Majid, dkk, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan
Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 130
[10] Muhaimin, et, al,. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan
Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm.
7
[12]
https://islamiced.wordpress.com/tugas/ilmu-pendidikan-islam/pengertian-dasar-dan-tujuan-pendidikan-islam /
[14] Imam Suprayogo, Keindahan dan lima misi Al Qur’an, dalam (https://www.youtube.com/
watch?v = y6IAxq7 DrI8&t=5s)
[15] A. Rusdiana, Integrasi Pendidikan Agama Islam dengan Sains dan
Teknologi, (edisi Agustus 2014) ISSN 1979-8911, hlm.127-128
[16]
Suprayogo, Imam.2009. Paradigma Pengembangan Keilmuan di
Perguruan Tinggi.Malang:UIN Malang Press.
[17] Imam Suprayogo, Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan (dalam: http://uin-malang.ac.id/r/160701/ integrasi-islam-dan-ilmu-pengetahuan.html)
[18] Agus S. dalam, Ilmu Alam dalam
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_alam, diakses 25 November 2011
[19]
Abdurrahman R Effendi dan Gina Puspita, Membangun Sains dan Teknologi
Menurut Kehendak Tuhan, (Jakarta: Giliran Timur, 2007), hlm. 2.
[20] U
Maman Kh, Urgensi Memadukan Kembali Sains dan Teknologi dengan Islam, http://www. pusbangsitek.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar