Kamis, 19 April 2018

POSISI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM SISTEM KEILMUAN SAINS DAN TEKNOLOGI



Oleh : Ahmad Faisol
Ahmad.faisol039@gmail.com

PENDAHULUAN

Pembahasan pada artikel ini, menggunakan tiga konsep pendekatan yakni, “Base Value”, “Persepsi” dan “Manifestasi”. Konsep ini terinspirasi dari sebuah khutbah singkat Prof. Samsul Arifin dalam sebuah kesempatan. Tiga konsep ini sering digunakan dalam melihat praktek-praktek amalan ibadah keagamaan sehari-hari, dimana dari sumber yang sama bisa memunculkan berbagai pendapat, pemikiran, bahkan kelompok yang berbeda. Satu ayat Al-Qur’an sebagai base value (nilai dasar) dapat di persepsikan secara tafsir dan pemahaman yang berbeda oleh para ulama’ sehingga dapat di manifestasikan sebagai ciri khas tertentu bagi para pengikut sesudahnya.
Untuk itu, perlu kiranya dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam di fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang untuk dipaparkan bagaimana karakteristik PAI sebagai nilai dasar (Base Value) yang kemudian dipersepsikan dalam sebuah gagasan yang menjiwai keilmuan UIN Malang kemudian barulah kita dapat melihat manifestasi dalam prakteknya menjadi karakteristik tertentu.
Sehingga dengan mengetahui tiga tahap tersebut diharapkan dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam dapat selaras dan sesuai dengan cita-cita besar faounding father UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

A.   Konsep Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
1.    Konsep Pendidikan Agama Islam
Dalam menjelaskan konsep “pendidikan agama Islam” kiranya perlu diuraikan terlebih dahulu bahwa setidaknya kalimat “pendidikan Agama Islam” mengandung dua suku kata penting yakni “pendidikan” dan “ Agama Islam”. Berbagai definisi telah menjelaskan apa itu pendidikan dan apa itu agama Islam diantaranya, pendidikan secara etimology berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an sehingga pengertian pendidikan adalah sebuah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik, akhlak dan kecerdasan berfikir.[1]  Sedangkan secara terminology telah banyak dirumuskan berbagai macam definisi tentang apa itu pendidikan.
Menurut George F. Kneller, sebagaimana dikutip oleh Wiji Suwarno, mengemukakan bahwa: pendidikan memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas, pendidikan diartikan sebagai tindakan atau pengalaman yang memengaruhi perkembangan jiwa, watak, ataupun kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan adalah suatu proses mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan dari generasi ke generasi, yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan secara sistematis seperti sekolah, pendidikan tinggi, atau lembaga-lembaga lain.[2]  Menurut John Dewey: “Education is thus a fostering, a nurturing, a cultivating, process. All of these words mean that it implies attention to the conditions of growth”. Pendidikan adalah sebuah perkembangan, pemeliharaan, pengasuhan, proses. Yang mengandung pengertian bahwa pendidikan secara tidak langsung memperhatikan keadaan-keadaan pertumbuhan peserta didiknya.[3] Pendidikan tidak hanya proses pengayaan intelektual, tetapi juga meliputi aspek yang lain, seperti aspek afektif dan psikomotorik.
Dari definisi-defini di atas maka dibuatlah definisi pendidikan Dalam  UU  RI  No.  20  tahun  2003  tentang  sistem  pendidikan Nasional,  BAB 1 pasal  1  yang menyatakan  bahwa  pendidikan  adalah  usaha  sadar  dan terencana untuk mewujudakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta  didik  secara  aktif mengembangkan  potensi  pada  dirinya  untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[4] Sehingga dapat difahami bahwa pendidikan adalah proses atau sarana dalam menyampaikan sebuah nilai-nilai kebaikan untuk dapat ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sehingga dapat berkembang seluruh potensi-potensi yang dimiliki.
Definisi yang kedua adalah “Agama Islam” kata ini terdiri dari “Agama” dan “Islam” Untuk pengertian tentang agama, dalam buku Al-Islam yang ditulis oleh Drs. H. Rois Mahfud, M.Pd. dijelaskan bahwa kata “Agama” menurut istilah Al-Qur’an disebut Al-Din. Secara bahasa, kata “Agama” ini diambil dari bahasa Sankrit (Sansekerta), sebagai pecahan dari kata-kata “A” artinya “tidak” dan “gama” artinya “kacau.” “Agama” berarti “tidak kacau”. Pengertian di atas mengandung makna bahwa agama sebagai pedoman aturan hidup akan memberikan petunjuk kepada manusia sehingga dapat menjalani kehidupan ini dengan baik, teratur, aman, dan tidak terjadi kekacauan yang berujung pada tindakan anarkis.[5] Sedangkan pengertian Islam sendiri adalah “damai” atau “perdamaian” (al-salamu/peace) dan “keamanan”. Islam adalah agama yang mengajarkan pada pemeluknya, orang Islam untuk menyebarkan benih perdamaian, keamanan, dan keselamatan untuk diri sendiri, sesama manusia (Muslim dan Non-Muslim) dan kepada lingkungan sekitarnya (rahmatan lilalamin).[6]
Maka dapat difahami bahwa agama Islam adalah sebuah nilai-nilai kebaikan sebagai sebuah pedoman dalam seluruh aspek kehidupan manusia yang karenanya menjadi damai dan tertata. Sehingga dari dua definisi pendidikan dan agama Islam di atas memberikan gambaran yang jelas dan lugas dalam proses pendefinisian apa itu pendidikan agama Islam. Sebagaimana Muhaimin dalam bukunya yang berjudul Paradigma Pendidikan Islam, mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya mendidik agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.[7] Dalam refrensi yang lain, secara rinci dijelaskan bahwa Pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.[8] Sebagaimana pendapat A. Tafsir, bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang lain agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[9]
Dalam petunjuk pelaksanaan kurikulum atau GBPP PAI dinyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[10] Pendidikan Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu usaha yang secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan sebagai salah satu sarana pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.[11]
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya seperti keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

2.    Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT yang selalu beriman dan bertakwa kepadaNya dan dapat mencapai kesuksesan dan berbahagia di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Al-Dzariat:56; QS Al Baqarah: 21, QS. Ali Imran: 102.
Dalam konteks sosiologi, pribadi yang bertaqwa menjadi rahmatan lil ‘alamin, baik dalam skala kecil maupun besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut sebagai tujuan akhir pendidikan Islam. Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah SWT. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan diri kepada Allah SWT. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah SWT.[12]
Dalam kaitan ini Zakiah Darojad, menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam yaitu; membina manusia beragama, manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.[13]
Secara terperinci Imam Suprayogo dalam berbagai kesempatan mengungkapkan, bahwa tujuan pendidikan Islam tercermin dalam ayat-ayat Al-Qur’an pedoman hidup yang membawa lima misi penting yakni:[14]
a.    Mencetak umat Islam yang kaya Ilmu
Misi Islam yang pertama dan utama adalah menjadikan umatnya kaya akan ilmu pengetahuan, sebagaimana ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca, dalam QS Al alaq 1-5. Membaca memiliki makna yang luas, baik makna “qouliyah” yakni firman Allah SWT dan Sunnah RasulNya, juga secara “kauniyah” yakni alam semesta ini, sebagaimana yang digambarkan dalam karakter Ulul albab (QS. Ali imran: 191) selalu berfikir tentang penciptaan alam semesta dan dari sana akan muncul keimanan bahwa semua tidak ada yang sia-sia.

b.    Membangun manusia unggul dan berkualitas
a.       Mengenal dirinya, sebagaimana dalam riwayat diterangkan bahwa مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ “barang siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal tuhannaya”.
b.      Manusia yang bisa dipercaya, merupakan karakter utama yang harus dimiliki seorang Muslim sebagaimana Rasulullah di usia yang masih mudah sudah memperoleh gelar “al amin” yakni orang yang dapat dipercaya.
c.       Tazkiyatun nafs, yakni menghindari dan membersihkan diri dari perkara-perkara yang di larang oleh Allah SWT.
d.      Bermanfaat untuk orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya (خير الناس أنفعهم للناس )
c.    Risalah Keadilan, Kedudukan manusia sama di mata tuhannya kecuali kualitas iman dan ketaqwaannya, sebagaimana Rasulullah mengubah kebiayasaan orang-orang kafir dengan tradisi jahiliyah  menjadi masyarakat yang adil dan beradab.
d.   Tuntunan ritual sepiritual, Islam memberikan ajaran ibadah berupa ritual-ritual yang menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

e.    Konsep Amal sholeh, dalam beberapa ayat Al Qur’an konsep iman selalu disandingkan dengan amal shaleh آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

   Tujuan Pendidikan Agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan. Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam adalah suatu harapan yang diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.[15] Yang menjadikan peserta didiknya mampu meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam secara baik dan benar.

3.    Skema

PENDIDIKAN

Proses Sadar dan Terencana

Meyakini, Memahami, Menghayati dan Mengamalkan

AGAMA ISLAM

Nilai-nilai dan Ajaran Islam
 




























B.     Persepsi Founding Father dalam Keilmuan UIN Malang
Berbagai definisi dan tujuan pendidikan Agama Islam pada point di atas kemudian dipersepsikan dalam sebuah penafsiran pada visi misi Universitas. Dengan visi misi inilah yang membawa lembaga pendidikan (UIN Malang) dapat mencapai target yang di cita-citakan.
1.      Visi dan Misi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Adapun visi dan misi pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara ringkas yakni mencetak generasi yang mempunyai jiwa “ulul albab” dengan empat pilar utamanya yakni:
a.    Kedalaman spiritual yaitu kemampuan individu dalam memaknai kehidupan dan berperilaku yang didasari dengan adanya semangat spiritual. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kesadaran terhadap kehadiran Allah, kemampuan untuk mengagumi ciptaan Allah, dan adanya rasa takut hanya oleh Allah.
b.    Keagungan akhlak yaitu kemampuan individu untuk berperilaku mulia sesuai dengan ajaran Islam sehingga perilaku tersebut menjadi ciri dari kepribadiannya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup baik berupa keyakinan, lisan, maupun perbuatan, dan kemampuan untuk bersabar dalam menghadapi cobaan, dan kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk. 
c.    Keluasan ilmu yaitu kualitas seseorang yang dicirikan dengan kepintaran dan kecerdikan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan bidang keahliannya. Kemampuan ini dicirikan dengan sikap bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, kemampuan untuk selalu menggunakan potensi akal fikiran, dan kemampuan untuk selalu menggunakan potensi kalbu (perasaan).
d.   Kematangan profesional yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dan berperilaku sebagai seorang profesional dibidangnya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kebiasaan untuk bertindak sesuai dengan ilmu, kesediaan untuk menyampaikan ilmu, kesediaan berperan serta dalam memecahkan masalah umat.

Sehingga pada akhirnya nanti, tercetak generasi-generasi ulama’ intelektual profesional sekaligus intelektual profesional yang ulama’. Ulama’ yang mempunyai pengetahuan keagamaan kuat dan kompeten sekaligus dapat menguraikan konsep-konsep agama dalam bingkai keilmuan yang logis dan ilmiah berdasarkan perenungan, pemikiran, pengamatan dan penyelidikan (research) sehingga dalam beragama menjadi semakin yakin dan mantab. Sebagaimana sebuah adagium mengatakan “ilmu agama tanpa ilmu umum seperti orang buta, tetapi ilmu umum tanpa ilmu agama seperti orang lumpuh” artinya harus ada keseimbangan antara ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu umum yang terjalin secara sinergi, holistic dan integral.
Berangkat dari persepsi pemikiran seperti itulah kemudian tercipta konsep keilmuan UIN Malang yang digambarkan dengan sebuah “pohon ilmu”, sebagai berikut:


Sistem Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang




Pohon sebagai metafora Integrasi Keilmuan di UIN Malang dapat dipahami melalui tabel dibawah ini :

Bag Pohon
Keterangan
Fardlu ‘ain
Fardlu Kifayah
Akar
Ilmu Alat
Yaitu : B. Indonesia, B Arab, B Inggris, Filsifat, Ilmu-ilmu Alam, Ilmu Sosial dan Pancasila
v
x
Batang
Kajian yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits
v
x
Dahan, ranting dan Daun
Jenis fakultas yang dipilih
x
v
Buah
Bangunan ilmu yang integratid antara ilmu umum dan agama yaitu amal  sholeh dan akhlakul karimah


Melalui metafora pohon ilmu tersebut, Prof. Imam Suprayogo menjelaskan bahwa jika berbicara tentang Islam sebenarnya sudah menyangkut agama, ilmu, dan peradaban. Oleh karena itu mendikotomikan antara Islam dan ilmu pengetahuan umum sebenarnya tidaklah tepat. Berbicara Islam sudah dengan sendirinya juga berbicara tentang ilmu pengetahuan. Setidaknya, Islam sudah mendorong dan bahkan memerintahkan agar umatnya mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
Prof. Imam Suprayogo melihat sebuah gambar pohon yang tumbuh subur, lebat dan rindang, semakin terlihat menarik untuk disimbolisasikan. Karena pada sebatang pohon terdapat sebuah keindahan, dan sangat tepat digunakan untuk menerangkan tentang integrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Pohon tumbuh dalam waktu lama, bertahun-tahun, bahkan beberapa jenis tertentu usianya melebihi usia manusia. Kehidupan dan pertumbuhan pohon juga dapat untuk menggambarkan, bahwa ilmu  juga selalu tumbuh dan berkembang.[16] Beberapa komponen-komponen yang ada pada pohon diantaranya adalah, akar yang kuat menghujam ke tanah, akar yang kuat akan menjadikan batang pohon berdiri tegak dan kokoh. Pohon itu juga akan menumbuhkan dahan, ranting, daun dan buah yang sehat dan segar.
Bangunan keilmuan yang bersifat komprehensif, yaitu mencakup agama dan ilmu pengetahuan tersebut ternyata semakin dipahami dan diakui oleh berbagai kalangan setelah kelembagaan perguruan tinggi Islam negeri ini berhasil berubah dari sekolah tinggi, atau STAIN Malang menjadi UIN Malang. Memang pada awalnya, perubahan kelembagaan tersebut dikhawatirkan akan berdampak negatif, yaitu mendangkalkan pengetahuan agama dikalangan perguruan tinggi Islam, terutama oleh mereka yang menganggap bahwa Islam hanya sebatas ilmu ushuluddin, syari'ah, tarbiyah, adab, dan dakwah.[17]

C.    Manifestasi PAI di Fakultas Sains dan Teknologi
Sebagaimana visi misi yang dibawa oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui konsep pohon ilmunya dapat difahami bahwa sistem keilmuan yang dikembangkan adalah konsep integrasi antara keilmuan umum dengan ilmu-ilmu keIslaman.  Sehingga dalam manifestasinya konsep “dikotomi keilmuan” menjadi tidak relefan untuk diterapkan. Integrasi Ilmu adalah keterpaduan secara nyata antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam) dengan Ilmu Pengetahuan Umum atau Sains. Jika dipelajari secara seksama, sesungguhnya ilmu pengetahuan di dunia ini dapat di klasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social science), dan ilmu humaniora (humanities). Ketiga jenis ilmu (ilmu alam, ilmu social dan ilmu humaniora) berlaku secara universal di mana saja. Hanya saja, dikalangan umat islam merumuskan ilmu tersendiri yang  bersumberkan pada al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan hadits dalam pengembangan ilmu diposisikan sebagai sumber ayat-ayat Qouliyah sedangkan hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis diposisikan sebagai sumber ayat-ayat Kauniyah. Dengan posisinya yang seperti ini, maka berbagai cabang ilmu pengetahuan selalu dapat dicari sumbernya dari al-Qur’an dan Hadits. Ilmu sains dikembangkan dengan mencari sumbernya (base value) dalam al-Qur’an dan Hadits yang kemudian dikuatkan dan dijabarkan melalui hasil-hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis sebagai ayat-ayat Kauniyah.
Sehingga dalam manifestasi dilapangan fakultas sains dan teknologi merupakan sebuah konsep Ideal dimana ilmu pengetahuan umum (fisika, kimia, biologi, matematika, dll) dipadukan dengan sumber keislaman yakni Al-Qur’an dan Hadits. Sebagaimana dalam defisini
Pengertian Sains (science) menurut Agus S. diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. “Real Science is both product and process, inseparably Joint”.[18] Sedangkan teknologi adalah aktivitas atau kajian yang menggunakan pengetahuan sains untuk tujuan praktis dalam industri, pertanian, perobatan, perdagangan dan lain-lain. Teknologi juga dapat didefinisikan sebagai kaedah atau proses menangani suatu masalah teknis yang berasaskan kajian saintifik termaju seperti menggunakan peralatan elektronik, proses kimia, manufaktur, permesinan yang canggih dan lain-lain.[19] Teknologi merupakan bagian dari sains yang berkembang secara mandiri, menciptakan dunia tersendiri. Akan tetapi teknologi tidak mungkin berkembang tanpa didasari sains yang kokoh begitu juga sebaliknya sains tanpa didasari dengan teknologi yang baik juga tidak bisa maksimal. Maka sains dan teknologi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.
Integrasi sains dan teknologi dengan Islam dalam konteks sains modern bisa dikatakan sebagai profesionalisme atau kompetensi dalam satu keilmuan yang bersifat duniawi di bidang tertentu dibarengi atau dibangun dengan pondasi kesadaran ketuhanan. Kesadaran ketuhanan tersebut akan muncul dengan adanya pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu Islam. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu Islam dan kepribadian merupakan dua aspek yang saling menopang satu sama lain dan secara bersama-sama menjadi sebuah fondasi bagi pengembangan sains dan teknologi. Bisa disimpulkan, integrasi pendidikan agama dengan sains dan teknologi berarti adanya penguasaan sains dan teknologi dipadukan dengan ilmu-ilmu Islam dan kepribadian Islam.[20]
Melalui sains dan teknologi inilah kemudian ayat-ayat Al-Qur’an dapat di buktikan secara ilmiah, sebagai contoh misalnya:
a.    Fungsi Gunung
Dalam QS. Al Anbiya:31 : “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka...” dengan menggunakan penelitian berdasarkan sains dan teknologi maka diketahui bahwa memang benar bahwa fungsi gunung adalah menjaga keseimbangan bumi.
b.    Dasar lautan yang gelap
Dalam QS. An-Nuur: 40 : “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” melalui sains dan teknologi yang canggih dapat membuktikan bahwa pada kedalaman 200 meter hampir tidak dijumpai cahaya, sedangkan pada kedalaman  1000 meter  tidak terdapat cahaya sama sekali.
c.    Lautan yang tidak bercampur satu sama lain
Dalam QS. Ar Rahman:19-20 : Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” Setelah memlaui penelitian fisika ditemukan bahwa kadar garam, masa jenis dan tegangan permukaan air yang menjadikan keduanya tidak dapat menyatu satu sama lain.
d.   Penciptaan Manusia
Dalam QS. Al ‘Alaq:1-3 : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” Melalui penelitian sains yang mendalam maka ditemukannlah konsep embriologi modern yang menjelaskan tentang fase fase perkembangan janin. Atau dalam QS. QS. Al-Hijr : 26 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) daritanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
e.    Segala yang hidup berasal dari air
Dalam QS. Al-Anbiya; 30 : “. . .dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup… “ setelah diteliti memang benar bahwa segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air.
f.     Madu menjadi obat
Dalam QS. An-Nahl: 69 : “ . . .Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan," melalui sebuah penelitian sains ditemukan bahwa memang madu mengandung berbagai macam khasiat yang dapat digunakan sebagai obat.

Tentunya masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang sesuai dengan pembuktian sains dan teknologi modern. Dan diakhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa antara fakultas sains dan teknologi tidak dapat dipisahkan dengan ilmu keislaman (pendidikan agama Islam) merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendidikan agama Islam sebagai dasar penanaman luhur ketuhanan sedangkan sains dan teknologi meningkatkan keimanannya hingga pada akhirnya tercapai sebuah kesimpulan dalam QS. Ali Imron : 191
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,


Wassalam







[1] W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), hlm. 250
[2] 5 Wiji Suwarno, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media: 2009), hlm. 19-20
[3] John Dewey, Democracy and Education, (New York: The Macmillan Company, 1964), hlm. 10
[4] Undang-undang Replubik Indonesia No. 14 tahun 2005. (Bandung: Citra Umbara, 2006). hlm. 70
[5] Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Palangka Raya: Erlangga, 2011), hlm. 2.  
[6] Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama ..., hlm. 4.
[7] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam ..., hlm. 30
[8] Departemen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan Luar Biasa, tt, hlm. 2.
[9]Abdul Majid, dkk, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 130
[10] Muhaimin, et, al,. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 7
[11] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 172
[12] https://islamiced.wordpress.com/tugas/ilmu-pendidikan-islam/pengertian-dasar-dan-tujuan-pendidikan-islam /
[13] Zakiah Daradjad (1982)
[14] Imam Suprayogo, Keindahan dan lima misi Al Qur’an, dalam (https://www.youtube.com/ watch?v = y6IAxq7 DrI8&t=5s)
[15] A. Rusdiana, Integrasi Pendidikan Agama Islam dengan Sains dan Teknologi, (edisi Agustus 2014) ISSN 1979-8911, hlm.127-128
[16] Suprayogo, Imam.2009. Paradigma Pengembangan Keilmuan di Perguruan Tinggi.Malang:UIN Malang Press.
[17] Imam Suprayogo, Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan (dalam: http://uin-malang.ac.id/r/160701/ integrasi-islam-dan-ilmu-pengetahuan.html)
[18] Agus S. dalam, Ilmu Alam dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_alam, diakses 25 November 2011
[19] Abdurrahman R Effendi dan Gina Puspita, Membangun Sains dan Teknologi Menurut Kehendak Tuhan, (Jakarta: Giliran Timur, 2007), hlm. 2.
[20] U Maman Kh, Urgensi Memadukan Kembali Sains dan Teknologi dengan Islam, http://www. pusbangsitek.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Revitalisasi Perumusan Kompetensi Lulusan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh : Ahmad Faisol A.     Rasionalitas Gelegar Masyarakat Ekonomi A SEAN 2015 (MEA) telah menggema, meskipun belum diterima ...