BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Psikologi merupakan salah satu
cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai ilmu kejiwaan manusia. Di dalam
dunia pendidikan, ilmu psikologi digunakan untuk membantu mengenali jiwa
peserta didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam
proses belajar mengajar dapat berjalan secara maksimal. Antara psikologi dengan
pendidikan dan pengajaran mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, karena
dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru dapat memberikan pendidikan dan
pengajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, artinya
psikologi digunakan sebagai pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan
pengajaran sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa
ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan dapat tercapai secara maksimal.
Dalam lingkup yang lebih khusus,
terutama dalam konteks kelas, psikologi pembelajaran banyak memusatkan
perhatiannya pada psikologi dan pembelajaran. Fokusnya dalam aspek-aspek
psikologis pada aktivitas pembelajaran, sehingga dapat diciptakan suatu proses
pembelajaran yang efektif dan efisien. Upaya menciptakan proses pembeljaran
efektif dapat dilakukan dengan mewujudkan perilaku mengajar yang efektif pada
guru, dan mewujudkan perilaku belajar pada siswa yang terkait dengan proses
pembelajaran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa psikologi, terlebih psikologi belajar
termasuk psikologi pembelajaran PAI, mempunyai peran yang besar dalam proses
pembelajaran pendidikan agama Islam.
Beberapa peran penting psikologi
dalam proses pembelajaran adalah : pertama, memahami siswa sebagai
pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi,
minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain. Kedua, memahami
prinsip-prinsip dan teori pembelajaran. Ketiga, memilih metode-metode
pembelajaran dan pengajaran yang efektif. Keempat, menetapkan tujuan
pembelajaran dan pengajaran. Kelima, menciptakan suasana pembelajaran
dan pengajaran yang kondusif. Keenam, memilih dan menetapkan isi
pengajaran. Ketujuh, membantu peserta didik yang mendapat kesulitan
dalam pembelajaran. Kedelapan, memilih alat bantu pembelajaran dan
pengajaran. Kesembilan, menilai hasil pembelajaran dan pengajaran.
Kesepuluh memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru. Kesebelas,
membimbing perkembangan siswa.
Banyak buku yang membahas tentang
tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum, akan tetapi
dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan
yaitu mengenai hubungan antara psikologi dengan pembelajaran pendidikan agama Islam.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
konsep Psikologi perkembangan ?
2.
Bagaimana
konsep Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ?
3.
Bagaimana
Hubungan Psikologi Dengan Pembelaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ?
C.
Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memberikan gambaran tentang hubungan psikologi dengan pembelajaran
pendidikan agama islam (PAI), sehingga para pendidik dalam memberikan pemahaman
kepada siswa selalu memperhatikan keadaan psikologi peserta didik, yang
kemudian dapat mengkonstruk pemahaman mereka secara maksimal.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kajian Teori Psikologi Perkembangan
1.
Pengertian Psikologi Perkembangan
Sebagaimana halnya Istilah-istilah
ilmiah lain, kata psikologi juga merupakan istilah ilmiah yang berasal dari
bahasa yunani. Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang
berarti “jiwa” dan “logos” yang berarti “ilmu”. Jadi secara harfiah,
psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala
kejiwaan.[1] Psikologi
juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia
dengan cara mengkaji sisi perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan bahwa
setiap perilaku manusia berkaitan dengan latar belakang kejiwaannya.[2]
Sedangkan arti psikologi secara
istilah, ada berbagai definisi dari para ahli psikologi, diantaranya;
1.
Robert
S. Woodwort dan D.G. Marquis mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang
mempelajari aktifitas-aktifitas individu dalam hubungan dengan lingkunganya.[3]
2.
Garner
Murphy, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon yang diberikan oleh
makhluk hidup terhadap lingkungannya.
3.
Clifford
T. Morgan, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan
hewan.[4]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa,
psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia
dalam hubungannya dengan alam sekelilingnya, mempelajari tingkah laku manusia
dalam hubungannya dengan sesama manusia dan mempelajari aktivitas-kativitas
jiwa yang tidak tampak dalam pernyataan-pernyataan, misalnya melamun,
berfantasi yang diekspresikan dan sebagainya.[5]
Sedangkang perkembangan sendiri dalam
kamus besar bahasa indonesia, berarti mekar, terbuka atau membentang menjadi
besar, luas dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam kepribadian,
pemikiran, pengetahuan dan sebagainya, perkembangan tidak saja bersifat abstrak
tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkrit.[6] Perkembangan menunjuk pada “suatu proses ke
arah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan
menunjukkan pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali”.[7]
Perkembangan juga merupakan perubahan-perubahan yang dialami
individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya
(Maturation) yang berlangsung secara sitematis, progresif, dan
berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (Rohaniah).[8]
Sehingga, dari defini-definisi
diatas dapat disimpulkan bahwa, psikologi perkembangan ilmu psikologi yang
mempelajari tingkah laku dan aspek kejiwaan individu dalam perkembangannya dan
latar belakang yang mempengaruhinya sejak masa dilahirkan sampai dengan
meninggal.
2.
Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Perspektif Psikologi
Sebelum membahas lebih jauh tentang konsep pembelajaran PAI dalam
perspektif psikologi maka perlu kiranya penulis paparkan secara singkat,
bagaimana pandangan psikologi tentang fase-fase perkembangan peserta didik. Karena
pembahasan ini dalam konteks pembelarana sehingga karakteristik tersebut ditinjau
dari aspek Kognitif, Afektif, Psikomorik.
- Kognitif: sejauh mana peserta didik mampu memahami materi yang telah
diajarkan oleh pendidik, dan pada level yang lebih atas seorang peserta didik
mampu menguraikan kembali kemudian memadukannya dengan pemahaman yang sudah ia
peroleh untuk kemudian diberi penilaian/pertimbangan.
- Afektif: adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Aspek afektif
pada dasarnya adalah merupakan bagian dari tingkah laku manusia, sebagai gejala
atau gambaran kepribadian yang memencar keluar.[9] Di
dalamnya mencakup penerimaan (receiving/attending), menanggapi (responding),
menilai (valuing), pengorganisasian/mengatur (organization), dan
karakterisasi (characterization). Dalam aspek ini peserta didik dinilai
sejauh mana ia mampu menginternalisasikan nilai-nilai pembelajaran ke dalam
dirinya.[10]
- Psikomotorik: aspek yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar
kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam
bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berprilaku) Aspek penilaian psikomotor
terdiri dari; persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan
terbimbing (guided response), gerakan yang terbiasa (mechanical
response), gerakan yang kompleks (complex response), penyesuaian
pola gerakan (adjustment), dan kreatifitas (creativity).[11]
a.
Fase
Prasekolah (0-6 tahun)
|
Usia
|
Aspek
|
Karakteristik (indikator)
|
Tambahan
|
|
0-2
Thn
|
Kognitif
|
a)
Dapat melihat cahaya dan mengikuti arah cahaya.
b)
Mengetahui secara visual objek yang diletakkan
didepan matanya
c)
Sudah bisa menghitung maksimal 2-4 buah benda yang
ia lihat.
d)
Mengikuti isyarat dan bicara orang dewasa, karena
diusia ini pemikiran mereka sama dengan mengikuti atau meniru.
e)
Mengetahui dan dapat menjelaskan objek yang
diletakan tak jauh dari sekitar mereka yakni 8-10 inci di depan matanya atau
disekitarnya.
f)
Menirukan isyarat-isyarat yang baru yang baru
didengar atau dikenal oleh mereka.
g)
Menamai atau menunjukkan pada gambar yang mewakili
benda tertentu dan sering dilihatnya atau terbiasa dilihatnya.
h)
Memahami kata minimal 2 kata depan atau bahasa
sederhana yang tidak terlalu rumit.
i)
Memperlihatkan ketertarikan dan ingin tahu pada
sekitarnya dengan dengan membongkar sesuatu.
j) Mengingat
benda yang ada dan bisa mengembalikanya ke tempat semula.
|
-
Disibut dengan tahap “sensori motor”[12]
-
Masa Bayi
-
Indera yang paling dominan adalah daerah “mulut”.[13]
-
Butuh ASI eksklufis dari ibu.
-
Periode vital pertama.[14]
-
Mengungkapkan ekspresi (berkomunikasi) dengan cara gelisah atau menangis.
-
Aktifitas penting adalah tidur (istirahat).
|
|
Afektif
|
a) Menunjukkan
kenyamanan, minat dan kesenangan
b) Bisa menanggapi
orang lain selain orang tuanya
c) Mempunyai pola tidur
yang teratur
d) Tersenyum melihat
benda bergerak atau bayangannya di cermin
e) Menyampaikan keinginan/kebutuhan dengan
bersuara (walau tidak dengan jelas)
f) Mulai secara terbuka menunjukkan gaya emosional
(melalui mimik wajah)
g) Bersuara atau berteriak tidak senang sebagai cara
lain dari pada menangis
|
||
|
Psikomotor
|
a)
Bermain dengan tangan
b)
Menahan barang yang dipegangnya
c)
Mampu mengikuti gerak benda yang
ada di depannya.
d)
Mencoba merangkak
e)
Mulai belajar merangkak, duduk dan
brjalan
f)
Menarik dan mendorong benda dengan
tangannya
|
||
|
2-4
Thn
|
Kognitif
|
a) Dapat
menunjuk dan menyebut gambar sederhana dan juga mudah diingat.
b) Anak-anak
dengan perkembangan kognitif tertarik mendengar seperti dongeng atau cerita.
c) Dapat
mengenal dan menunjuk anggota tubuhnya.
d) Dapat
mengenal dan mengelompokan warna.
e) Dapat
sudah mengerti konsep seperti besar dan kecil, luas dan sempit dan lainnya.
f) Dapat
mengenal fungsi benda dengan benar.
g) Ikut dalam
kegiatan membaca dengan mengisi kata-kata atau kalimat yang kosong.
h) Dapat
mencocokkan hingga sebelas warna.
|
- Disebut dengan tahap “pra-operasional”[15]
|
|
Afektif
|
a)
Mulai
menggunakan kata-kata atau gerakan yang kompleks untuk mengungkapkan perasaan
atau keinginan
b)
Mampu
mengungkapkan perasaan atau emosinya secara verbal
c)
Berpartisipasi
dalam kegiatan tertentu pada sebagian besar waktunya
d)
Bermain
permainan dalam kelompok
e)
Mengulang
kalimat yang terdiri dari lima kata
f)
Mampu
menjawab pertanyaan ”jika....lalu apa?”
|
||
|
Psikomotor
|
a)
Mulai memegang krayon atau pensil
dengan jari telunjuk dan ibu jari
b)
Dapat mengayuh sepeda roda tiga
c)
Dapat melompat turun dari
ketinggian 6-8- inci
d)
Mampu memutar/ membelok menghidari
rintangan sambil berlari atau bersepeda roda tiga
e)
Memanjat berbagai benda dan
rintangan
f)
Dapat membuat bangunan dengan
berbagai macam balok
g)
Sudah bisa berdiri tanpa jatuh.
|
||
|
4-6
Thn
|
Kognitif
|
a) Dapat
mengetahui fungsi benda dengan benar.
b) Dapat mengelompokkan
benda sesuai dengan bentuk, warna, ukuran dan fungsi secara sederhana.
c) Dapat
mencoba untuk menceritakan kembali suatu cerita berdasarkan ingatannya.
d) Dapat
menunjukkan dan menyebutkan anggota tubuhnya.
e) Dapat
mencocokkan hingga sebelas warna.
f) Dapat
membaca dengan memperhatikan gambar.
g) Sudah bisa
membaca kata-kata singkat dan juga ringan seperti 4-6 huruf.
h) Dapat
membaca cerita sederhana dengan lantang dan juga bersuara.
i) Dapat
membedakan fantasi ataupun realita.
|
- Disebut
dengan tahap “pemikiran
intuitif”[16]
- Masuk jenjang pendidikan play group dan TK.
|
|
Afektif
|
a)
Dapat
mengerjakan suruhan sederhana
b)
Dapat
memilih kegiatan sendiri
c)
Dapat
bermain pura-pura tentang profesi tertentu
d)
Dapat
menerima pesan sederhana dan menyampaikan pesan tersebut
|
||
|
Psikomotor
|
a)
Anak sangat aktif bergerak
b)
Dapat
bermain permainan di atas meja
c)
Bentuk permainan anak masih
bersifat individu, bukan permainan sosial, walaupun aktifitas bermain
dilakukan secara bersama.
|
b.
Peserta
Didik SD (6-12 Tahun)
|
Aspek
|
Usia
|
Karakteristik (indikator)
|
Tambahan
|
|
Kognitif
|
6- 12 Thn
usia ini dapat dibagi menjadi 2
kategori yakni: a) usia, 6-9 thn, masa kanak-kanak tengah,
b) 9-12 thn, masa kanak-kanak akhir.
|
a)
Anak telah memiliki kecakapan
berpikir, kongkrit, empiris dan objektif.
b)
Pemikiran tentang konsep abstrak
(fantasi) surga neraka, belum terlalu kuat.[17]
c)
Memiliki kemampuan,
mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, dan mengasoisasikan
(menghubungakan/ menghitung) angka/ bilangan.
d)
Perasaan intelektual sangat besar.
e)
Sudah mampu memecahkan masalah problem
solving yang sederhana.
f)
Sangat suka dengan cerita-cerita
dongeng.[18]
g)
Berfikir induktif
h)
Memiliki pengertian lebih baik
tentang sebab akibat.
|
- Disebut
dengan tahap “operasional konkrit”[19]
-
Anak lebih banyak terpengaruh “stimulus”
dari luar.
-
Bersifat dinamis dan banyak
bergerak serta tertarik dengan segala seuatu yang aktif dan bergerak.
-
Memiliki daya memori dan ingatan
yang sangat baik.
-
Perbendaharaan kata semakin
komplek
|
|
Afektif
|
a)
Mulai belajar menjalankan peranan
sosial sesuai dengan jenis kelamin
b)
Anak mulai banyak keluar ke
lingkungan sekolah (luar rumah)
c)
Dapat bergaul secara aktif
d)
Unsur kemauan belum berkembang
penuh.
e)
Kehidupan emosionalnya belum
begitu berkembang, kriteria baik-buruk, benar-salah, indah-jelek, mereka
peroleh dari orang tua atau orang dewasa.
f)
Mulai merasa takut atau cemas,
kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.
g)
Dalam periode menjajah dunia
sekitar ia akan selalu menengok pada ibunya.[21]
h)
Mulai memiliki rasa simpatik pada
sosok (guru/mata pelajaran ) yang menarik.
|
||
|
Psiko
motor
|
a)
Menguasai keterampilan fisik yang
diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik.
b)
Anak sudah siap menerima pelajaran
keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar,
mengetik, beranang,dll.
c)
Anak senang bermain, bergerak,
bekerja dalam kelompok.
|
c.
Peserta
Didik SMP (12-15 Tahun)
|
Aspek
|
Karakteristik (indikator)
|
Tambahan
|
|
Kognitif
|
a)
Proses berfikir
sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi,
diferen-siasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relatif
terbatas.
b)
Kecakapan dasar
intelektual berkembang mengikuti laju perkembangan yang pesat.
|
- Masa pra-Pubertas/
peural
|
|
Afektif
|
a)
Kecenderungan ambivalensi, antara
keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas
dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orangtua.
b)
Reaksi dan ekspresi emosi masih
labil.
c)
Mulai merasa tidak mau dianggap
anak kecil lagi tapi belum bisa menghilangkan pola kekanak-kanakannya.
e)
Mulai muncul upaya menggebu-gebu
untuk menarik perhatian.
|
|
|
Psiko
motor
|
a)
Mulai timbulnya ciri-ciri seks
sekunder
b)
Berkembangnya tenaga fisik yang
melimpah-limpah.
c)
Pertumbuhan jasmani sangat pesat.
d)
Kecenderungan minat dan pilihan
karier relatif sudah lebih jelas.
e)
Aktif dalam beberapa jenis
permainan jasmaniah (fisik).
|
d.
Peserta
Didik SMA (15-18 tahun)
|
Aspek
|
Karakteristik (indikator)
|
Keterangan
|
|
Kognitif
|
a)
Sudah bisa brfikir secara
sistematis
b) Memilih
dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.
c)
Mengembangkan keterampilan
intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga Negara
|
- Disebut
dengan tahap “operasional formal” atau masa puber.
- Masa rekonstruksi (menemukan kepastian-kepastia baru).[24]
|
|
Afektif
|
a)
Mencapai hubungan yang matang
dengan teman sebaya
b)
Dapat menerima dan belajar peran
sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
c)
Tidak mau dianggap anak-anak lagi ingin
cepat-cepat menjadi dewasa.[25]
d)
Rasa “AKU” nya semakin tinggi
e)
Mencapai tingkah laku yang
bertanggung jawab secara sosial
f)
Mulai muncul sifat-sifat khas,
yakni pasif menerima pada wanita, dan sifat aktif-berbuat pada laki-laki.
g)
Rasa bimbang dan takut mulai
menghilang (timbul keberanian berbuat).
h)
Anak laki-laki mulai menuntut
haknya untuk menentukan nasib sendiri, dan ikut menentukan segala keputusan.
Serta ingin memperlihatkan tingkah laku kepahlawanan.
i)
Sedangkan anak wanita berusaha
keras untuk disayang oleh siapapun. Serta lebih menampilkan lamunan dan rasa
kekaguman terhadap sifat-sifat kepahlawanan.
|
|
|
Psiko
motor
|
a)
Menerima keadaan fisik dan mampu
menggunakannya secara efektif
|
3.
Teori Belajar dan Pembelajaran Perspektif Psikologi
|
No
|
Teori
Belajar
|
Tokoh
|
Pokok
Pemikiran
|
|
1
|
Behavioristik
|
- Ivam Pavlov
- Edward Lee Throndike
- Burrhus Frederic Skinner
- Edwin R Gutrie
- Clark Hull.[26]
|
1.
Seseorang
dikatakan belajar jika terjadi perubahan
tingkah laku.
2.
Aliran ini
memandang bahwa manusia hanya pada sisi jasmania saja, mengabaikan aspek
mental rohaniah.[27]
3.
Proses pembelajaran
dipengaruhi oleh Stimulus (S) dan Respon (R).
|
|
2
|
Kognitivisme
|
- Kohler,
- Max wertheimer,
- Kurt Lewin,
- Bandura.
|
1. Tingkah laku seseorang didasarkan pada kognisi,
yakni tindakan mengenal dan memikirkan situasi dimana tingkah laku itu
terjadi.
2. Proses belajar melibatkan kegiatan mental yang ada
di dalam diri.
3. Belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk
mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan.
4. Sehingga prilaku yang nampak pada manusia tidak
dapat diukur dan diamati tanpa melihat proses mental (motivasi, keyakinan,
kefahaman, dll).[29]
|
|
3
|
Humanisme
|
- Combs
- Abraham Maslov
- Rogers.[30]
|
1. Tiap manusia (individu) dapat menentukan perilaku
mereka sendiri tidak terikat oleh lingkungannya.[31]
2. Belajar tidak
hanya sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga proses yang
terjadi dalam diri individu yeng melibatkan domain; kognitif, afektif,
psikomotorik.
3. Proses pembelajaran harus mengajarkan siswa
bagaimana belajar dan menilai kegunaan belajar bagi dirinya sendiri.
|
|
4
|
Konstruktivisme
|
- Jean Piaget
- Vygotsky
|
1. Guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada
siswa, tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran
mereka sendiri.
2. Hakikat belajar sebagai kegiatan manusia membangun
atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan
sesuai pengalamannya.
3. Dalam proses pembelajaran, siswa harus terlibat
aktif dan menjadi pusat kegiatan belajar dan pembelajaran di kelas.[32]
|
B.
Kajian Teori Pembelajaran Agama Islam
1.
Pengertian Pembelajaran Pendidikan Islam
Pembelajaran merupakan terjemahan
dari kata “instruction” yang dalam bahasa Yunani disebut instructus
atau “intruere”yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti
instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara
bermakna melalui pembelajaran.[33] Kegiatan
belajar dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses
mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan
guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi
dasar. Pembelajaran merupakan kegiatan
dimana guru melakukan peranan-peranan tertentu agar siswa dapat belajar untuk
mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Strategi pengajaran merupakan
keseluruhan metode dan prosedur yang menitikberatkan pada kegiatan peserta didik
dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.[34]
Pembelajaran menurut Oemar Hamalik
sebagai suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi,
fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai
tujuan pembelajaran.[35] Pada
hakekatnya pembelajaran terkait dengan bagaimana membelajarkan peserta didik
atau bagaimana membuat peserta didik dapat belajar dengan mudah dan terdorong
oleh kemampuannya sendiri untuk mempelajari apa yang tercanangkan dalam
kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik.[36] Sehingga,
Dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan segala upaya untuk menciptakan
kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated)
pencapaiannya.
Sedangkan pengertian Pendidikan
Agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan
peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.[37]
Zuhairimi mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai asuhan-asuhan secara
sistematis dalam membentuk anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran
Islam.[38]
Sedangkan Zakiyah Drajat dalam bukunya ilmu Pendidikan Agama Islam menyatakan
bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap
anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan
mengamalkan ajaran agama serta menjadikannya sebagai pedoman sebagai pandangan
hidup.[39]
Pendidikan agama Islam mempunyai peran penting dalam mengembangkan
potensi peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia
dan kepribadian muslim. Lebih lanjut definisi pendidikan Islam juga dirumuskan
dalam petunjuk pelaksanaan kurikulum atau GBPP PAI dinyatakan bahwa
Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan dengan memperhatikan
tuntutan untuk menghormati hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[40]
Dengan demikian, pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai suatu upaya membuat peserta
didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan
tertarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam, baik untuk kepentingan
mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai
pengetahuan yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif tetap dalam
tingkah laku seseorang yang baik dalam kognitif, afektif, dan psikomotorik.[41]
2.
Materi Pendidikan Agama Islam
a.
Karakteristik Materi Pembelajaran PAI
Menurut
Pusat Kurikulum Depdiknas, tujuan PAI adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan
keimanan peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan,
penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam
sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan
serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.[42]
Setiap mata pelajaran memiliki ciri
khas atau karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran
lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Adapun
karakteristik mata pelajaran PAI secara umum adalah sebagai berikut:[43]
1)
PAI
merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar)
yang terdapat dalam agama Islam, sehingga PAI merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari ajaran Islam dan bernilai ibadah.
2)
Mata
pelajaran PAI didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada dua sumber
pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah/al-Hadits Nabi Muhammad Saw. Juga
dengan Ijtihad (dalil aqli) para ulama dalam mengembangkan prinsip-prinsip PAI
tersebut dengan lebih rinci dan mendetail dalam bentuk fiqih dan hasil-hasil
ijtihad lainnya.
3)
Ditinjau
dari segi muatan pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi
satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang
bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Semua mata
pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan
yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI.
4)
Pendidikan
agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi
dalam setiap langkah dan geraknya.
5)
Diberikannya
mata pelajaran PAI, bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan
bertakwa kepada Allah Swt.
6)
PAI
adalah mata pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat
menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana
peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Dengan
demikian, PAI tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi yang
lebih penting adalah pada aspek afektif dan psikomotornya.
7)
Prinsip-prinsip
dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu aqidah,
syariah, dan akhlak.
8)
Tujuan
akhir dari mata pelajaran PAI adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki
akhlak yang mulia (budi pekerti yang luhur)
b.
Ruang Lingkup Materi PAI
Untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi yang
disebutkan dalam tujuan kurikulum PAI, maka isi materi kurikulum PAI didasarkan
dan dikembangkan dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam dua sumber pokok,
yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.[44]
Di samping itu, materi PAI juga diperkaya dengan hasil istimbat atau ijtihat
para ulama, sehingga ajaran-ajaran pokok yang bersifat umum, lebih rinci dan
mendalam.
Kurikulum PAI mencakup usaha untuk mewujudkan keharmonisan,
keserasian, kesesuaian, dan keseimbangan antara berikut ini;
1)
Hubungan
manusia dan Sang Pencipta (Allah SWT)
Sejauh mana kita sebagai hamba Allah SWT. Telah melaksanakan segala
kewajiban yang diperintahkan-Nya. Dan setaat kita telah mematuhi segala dalam
Islam dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali ayat Al Qur’an maupun hadits
Nabi yang menegaskan kewajiban seorang hamba dengan sang Khalik yaitu Allah
SWT.
2)
Hubungan
manusia dengan manusia
Apakah kita seorang muslim yang menjadikan orang lain merasa
tentram didekat kita. Sejauh mana hak-hak orang lain telah kita tunaikan.
Jangan sampai kita merugikan apalagi mendholimi atau menganiaya hak-hak orang
lain.
3)
Hubungan
manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alam
Kita sebagai khalifah dibumi, tentu mempunyai tugas dan
tanggung jawab mengelola dan melestarikan alam dan memakmurkan bumi jangan
sampai alam dan makhluk lain terpedaya dan terusik karena keberadaan kita yang
akibatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri.
4)
Hubungan
manusia dengan dirinya sendiri (berakhlak dengan diri sendiri)
Penghargaan orang lain terhadap diri kita, sangat tergantung kepada
sejauh mana kita menghargai atau dengan kata lain berakhlak kepada diri
sendiri.[45]
Mata pelajaran pendidikan agama Islam secara keseluruhan terbagi
dalam lima cakupan, yakni;[46]
|
No
|
Mata
Pelajaran PAI
|
Penekanan
Kemampuan
|
|
1
|
Al-Qur’an
|
Penekanan
pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual
dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari
|
|
2
|
Aqidah
|
Penekanan
pada kemampuan memahami rukun iman (keyakinan), yang benar serta menghayati
dan mengamalkan nilai-nilai asma’ul husna
|
|
3
|
Akhlak
|
Penekanan
pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela
dalam kehidupan sehari-hari
|
|
4
|
Fiqih
|
Penekanan
pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang baik dan benar.
|
|
5
|
Sejarah
kebudayaan Islam
|
Penekanan
pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah
(Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan
fenomena sosia, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni,dll.guna
mengembangkan kebudayaan dan peradapan Islam.
|
c.
Pemetaan Materi Pembelajaran PAI
Materi Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam jenjang
pendidikan TK, SD, SMP, SMA secara umum dapat dipetakan sebagai berikut;
1.
Materi
Taman Kanak-kanak
a)
Hafal
kalimat-kalimat thayyibah
b)
Mulai
tertanam keimanan kepada Allah SWT dan rasul-Nya
c)
Mulai
terbiasa berlaku sopan dan santun kepada semua orang
d)
Mulai
mengenal ibadah
e)
Mulai
mengenal tokoh-tokoh Muslim
2.
Materi
PAI bagi SD
Matrei PAI yang ada pada tingkatan
SD yaitu: Akhlak, Ibadah, Al-Qur’an, Keimanan, Tarikh Islam.[47] Itulah
materi yang secara umum ada dalam tingkatan SD. Dari materi PAI tersebut anak
SD diharapkan:
a)
Mampu
membaca Al-Qur’an dengan benar.
b)
Beriman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari
kiamat, dan qadha-qadar.
c)
Terbiasa
berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifdat tercela, dan bertata
kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d)
Mengenal
rukun Islam dan mampu melaksanakn beribadadah salat, puasa, zakat fitrah, dan
zikir serta do’a setelah salat.[48]
e)
Mengenal
beberapa tokoh dan kisah-kisah sejaran Islam.
3.
Materi
PAI bagi SMP
Materi PAI di tingkat SMP tidak jauh
beda dengan yang ada di SD. Materi-materi tersebut adalah: Keimanan,
Ibadah/fiqih, akhlak, Al-Qur’an, hadits, sejarah Islam.[49]
Dari materi tersebut anak-anak pada tingkatan SMP diharapkan:
a)
Mampu
membaca dan menulis ayat Al-Qur’an serta mengetahui hukum bacaannya.
b)
Beriman
kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari
kiamat, dan qadha-qadar dengan mengetahui maknanya.
c)
Terbiasa
berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata
kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d)
Memahami
ketentuan hukum Islam tentang ibadah dan muamalah serta terbiasa
mengamalkannya.
e)
Memahami
dan mampu mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam fase Makkah, Madinah,
dan Khulafaurrasyidin serta mampu melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.[50]
4.
Materi
PAI bagi SMA
Materi PAI untuk tingkatan SMA tidak
jauh beda dengan SD dan SMP. Akan tetapi hasil yang diinginkan pada tingkatan
SMA ini lebih tinggi dari pada tingkatan sebelumnya. Materi PAI bagi SMA yaitu:
Keimanan, Ibadah/Fiqih, Akhlak, Sejarah Islam, Tafsir/Hadits.[51]
Dari materi tersebut, anak SMA diharapkan mampu:
a)
Mampu
Membaca dengan mengetahui hukum bacaannya, menulis, dan memahami ayat Al-Qur’an
serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
b)
Beriman
kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari
kiamat, dan qadha qadar dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta
direfleksikan dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta didik pada dimensi
kehidupan sehari-hari.
c)
Terbiasa
berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata
kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d)
Memahami
sumber hukum dan ketentuan hukum Islam tentang ibadah, muamalah, mawaris,
munakahat, jenazah, dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
e)
Memahami
dan mampu mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam di Indonesia dan
dunia serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.[52]
C.
Analisis Sintesis Hubungan Psikologi dengan Pembelajaran PAI
1.
Usia
Bayi (0-2 tahun)
Pada periode ini orang tua mempunyai tugas penting dalam mengawali
perkembangan anak setelah terlahir di dunia, sebagaimana pada karakteristik
psikologi umur antara 0-2 proses perkembangan yang berjalan dengan pesat, sudah
bisa menggunakan panca indera mendengar dan penglihatan. Sehingga bebera
kewajiban yang harus dilakukan orang diantaranya adalah sebagai berikut.
a.
Adzan
dan Iqamah
Ketika hadir anak manusia dimuka bumi, maka yang pertama-tama
menunjukkan fungsi adalah indera pendengaran. Begitu lahir, pada sang bayi
perlu dibunyikan kalimat persaksian (adzan dan iqamah). Sebagaimana hadits Nabi
saw;[53]
“Barangsiapa
yang menerima kelahiran seorang anak, maka hendaklah ia mengumandangkan adzan
di telinga sebelah kanan dan iqamah di telinga sebelah kiri, agar tercabut
beban yang ditanggung ibunya”. [HR. Baihaqi].
‘Ubai bin Abi
Rafi’ berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah mengumandangkan adzan
ditelinga Hasan bin Ali ketika Fathimah melahirkannya, [HR. Abu Daud dan
Tirmidzi].
Adapun hikmah dari adzan dan iqamat menurut Ibnu Qayyum al Jauziyah
yaitu supaya suara yang pertama kali
didengar oleh anak adalah kalimat-kalimat seruan yang maha tinggi yang
mengandung kebesaran Tuhan. Hikmah lainnya adalah larinya syaitan hingga ia
lemah ketika pertama kali ingin mengikat atau mempengaruhinya. Adzan tersebut
juga mengandung makna agar dakwah Islam mendahului dakwah syaitan.[54]
b.
Memberi
Nama Yang Baik
Nama dan artinya adalah doa orang tua untuk bayi yang baru
dilahirkan. Nama bagi seseorang sangatlah penting karena mencerminkan dirinya
di dalam sebuah masyarakat serta mencerminkan karakter orang tersebut.[55]
Sebagaimana sabda nabi saw;
Dari Kharis bin
Nu’am ia berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Muliakanlah
anak-anak kalian dan berilah mereka nama-nama yang baik”. (H.R. Ibnu
Maajah)
c.
Di
Aqiqahi
Rasulullah
bersabda :
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْـنَـةٌ بِـعَـقِـيْقَتِهِ
تُذْبَحُ عَـنْـهُ يَـوْمَ سَابِـعِـهِ وَيُـسَـمَّى فِيْـهِ وَيُـحْلَـقُ
رَأْسُـهُ
“Semua anak
bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan
(kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi,
Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]
Dari Aisyah dia
berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing
yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Majah]
Diantara manfaat aqiqah seperti yang diebutkan oleh para ulama’,
diantaranya imam Ibnul Qoyyim dalam bukunya Tuhfatul Maudud bahwa aqiqah
itu sama dengan berkurban yakni sebagai wujud rasa syukur dan untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Juga sebagai upaya pembebasan bayi dari rintangan yang
menghambatnya untuk dapat memberi syafaat kepada orang tuanya, atau halangan
mendapat syafaat dari kedua orang tuanya.[56]
d.
Memberikan
ASI Esklusif
Pada masa bayi ini, penyusuan memegang peranan yang amat besar
dalam mengembangkan fisik, emosi, dan kognisi anak. Dalam Islam orang tua (ibu)
dianjurkan untuk menyusui anaknya sampai usia dua tahun tetapi apabila ingin
menyapihnya juga diperkenan, dan seorang ayah juga memiliki peran penting
didalamnya, sebagaimana telah digambarkan secara jelas dalam Al-Qur’an, QS.
Al-Baqarah[2] : 233.[57]
e.
Memaksimalkan
fungsi pendengaran
Fungsi pendengaran pada bayi sangat penting. Dia akan menggunakan
pendengarannya untuk memahami dan belajar untuk berkomunikasi dengan dunia di
sekelilingnya, Bayi menggunakan telinga mereka untuk menerima sejumlah besar
informasi tentang dunia di sekitarnya. Mendengar juga memungkinkan untuk
belajar bahasa dan merangsang perkembangan otak.[58]
Sehingga pada masa ini sebaiknya seorang bayi diperdengarkan dengan suara-suara
atau musik yang baik (islami) atau kata kata yang baik, sehingga yang masuk
dalam otak bayi adalah juga yang baik-baik.
Sehingga pada periode ini, peran dan kasih sayang orang tua
sangatlah diperlukan, dan pendidikan agama Islam bisa ditanamkan dengan
membacakan Al-Qur’an didekatnya, diperdengarkan suara-suara yang baik, diajak
interaksi yang baik, dan dibiasakan dengan berkata-kata yang baik. Jika
dikaitkan dengan psikologi pembelajaran maka pada usia ini dapat digolongkan
dalam teori behavioristik, artinya anak perlu untuk diberi stimulus-stimulus
yang baik, sehingga seluruh saraf motorik dapat berkembang secara maksimal.
2.
Usia
2-6 tahun
Sebagaimana pada teori psikologi, bahwa anak pada usia ini sudah
dapat berinteraksi secara baik dengan orang lain. Dalam segi kognitif anak
sudah muncul rasa penasaran dan ingin tau, Pendidikan anak usia dini tidak
sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang
lebih penting adalah untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Masa anak usia
dini sering disebut juga dengan istilah golden age atau masa emas. Pada
masa emas tersebut, hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk
tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat.
Pada masa ini anak akan lebih banyak terpengaruh pada
lingkungannya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila
mereka berada di lingkungan yang berkarakter pula. Begitu juga sebaliknya
seorang anak akan menjadi buruk jika berada di tempat atau suasana yang buruk.
Karena pada masa ini seluruh panca indera sudah dapat berfungsi secara maksimal
dan mengalami perkembangan yang signifikan. Sehingga apa yang dilihat, didengar
dan dialami itulah kemudian yang akan mereka tiru.[59]
Pada usia ini, materi pendidikan agama Islam dapat diajarnya pada
anak secara sederhana, melalui beberapa metode, diantaranya; Pembiasaan,
Sebagaimana jenjang perkembangan psikologi, bahwa pada usia ini anak belum bisa
berfikir secara logis dan sistematis, sehingga cara yang efektif adalah dengan
mengajak dan membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan
nilai-nilai pendidikan agama Islam. Contoh; 1) Shalat, anak tidak perlu
dijelaskan secara detail apa itu sholat, tetapi dengan cara mengajak anak
sholat atau membawa mereka ke masjid, memberinya peci, sarung dll, maka dengan
sendirinya mereka akan mengenal dan terbiasa. 2) Akhlak suka memberi, orang tua
bisa melatih sosial anak dengan cara membiasakan mereka memberikan sendiri uang
tersebut. Bisa juga dengan Cerita bergambar Pada usia ini kemampuan
linguistiknya mulai berkembang sehingga mereka dapat belajar membaca dengan
baik. mereka sangat tertarik dengan sesuatu yang unik, bergerak dan bergambar,
mereka sudah mampu menyebutkan nama-nama gambar, dan tertarik untuk
mengekspresikan warna atau coretan pada gambar. Sehingga pada periode ini
metode yang cocok dalam pembelajaran agama Islam adalah dengan menggunakan
media yang bergambar.[60]
Pada usia ini juga secara psikologis mereka butuh sahabat termasuk
kawan imajinatif (tokoh fiktif) yang bisa diajak bermain, bercerita, bertarung,
juga bobok bersama. Anak kecil juga sering berbicara dengan gaya meniru tokoh
yang ia sukai tersebut. Maka pada fase ini orang tua atau guru masuk mampu
memasukkan sosok (idola) yang baik seperni Nabi Muhammad, dan tokoh muslim
lain, lewat dongeng, cerita gambar, dll. Sehingga sedari kecil anak akan
memiliki pemahaman bahwa Nabi Muhammad adalah Idolah terbaik mereka.[61]
fase ini akan tetap berlangsung hingga anak masuk pada jenjang pendidikan
dasar.
3.
Usia
6-12 tahun (Pendidikan Dasar)
Pada
periode ini biasanya anak sudah mulai masuk pada jenjang pendidikan formal
(SD). Secara psikologis anak sudah memiliki kecakapan berfikir yang empirik,
kongkrit dan objektif serta memiliki daya ingatan yang sangat baik sehingga
anak benar-benar dalam stadium belajarnya. anak pada usia ini disebut dengan
masa “operasional kongkrit” yakni
aktifitas mental yang difokuskan pada obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa nyata
atau konkrit dapat diukur.[62]
Periode ini juga dianggap sebaga masa perkembangan saraf-saraf yang sangatlah
pesat inilah yang menjadikan anak lebih banyak bergerak (tidak bisa diam).
Di dalam tingkatan SD, tentu berbeda
cara pembelajaran dengan tingkat-tingkat yang lebih dari SD atau dibawahnya, seperti
di Taman Kanak-kanak. Kita ketahui di SD umur peserta didik adalah rata-rata
dari usia 6-12 tahun. Usia ini tergolong pada usia kanak-kanak. Umur 6-9 tahun
masuk dalam golongan usia pertengahan anak-anak. Sedangkan usia 9-12 tahun
masuk dalam golongan akhir masa anak-anak. Oleh karena itu dalam fase anak-anak
ini peserta didik yang duduk pada tingkatan SD merupakan permulaan bagi mereka
untuk mengenal orang dewasa di luar keluarganya. Dan juga pada masa ini, anak
yang pada mulanya tertuju kepada dirinya sendiri dan bersifat egosentris mulai
tertuju kepada dunia luar, terutama perilaku orang-orang disekitarnya, sopan
santun, dan tata kerama sesuai dengan lingkungan rumah dan sekolahnya.[63]
Oleh karena itu untuk tingkat SD materi PAI tersebut diberikan
secara sederhana sesuai dengan kemampuan daya berfikir anak, baik itu materi
PAI yang berhubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia
dengan alam sehingga ini dapat dipahami, diresapi oleh anak didik dan
selanjutnya dapat mewarnai tingkah lakunya sehari-hari.[64] Oleh
karena itu, pada fase sekitar umur 6-9 tahun (anak-anak pertengahan) pendekatan
pembelajaran PAI harus dengan pendekatan kasih sayang, karena pada umur ini
peserta didik belum bisa mengerjakan sesuatu secara mandiri, kemudian karena
anak pada fase ini memiliki karakter “banyak gerak” maka metode yang
digunakan juga harus metode yang dapat menarik perhatian (fokus) seperti media
bergambar, video, dongeng-dongeng yang menarik, bernyanyi sambil gerak, dan
mereka juga harus dilibatkan secara penuh dalam proses pembelajaran.
Sedangkan diumur-umur selanjutnya, karakter siswa sudah mulai sedikit
berkembang, mereka sudah bisa melakukan sesuatu hal secara mandiri, maka pada
fase ini mereka sudah mulai bisa dimasukkan pendekatan perintah dan larangan
(secara bertahap) sebagaimana Rasulullah saw bersabda;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ
أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya
: “Perintahlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan
pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan
pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan)!”. (HR.Abu Daud)”
Dari hadits diatas, Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang tua
(guru) harus memerintahkan (mengajak) anaknya untuk shalat mulai dari umur
tujuh sampai sepuluh tahun. Itu artinya selama tiga tahun dia harus bersabar
membimbing dan mengingatkan terus tentang shalat. Ini dapat difahami bahwa pada
umur tujuh tahun sudah dapat dimasukkan aspek perintah karena pada umur ini
anak sering merasa jenuh, dan kejenuhan inilah yang menjadikan anak malas
melakukan perintah agama, maka diumur sepuluh tahun dapat dikenai hukuman
(pukulan) yang sewajarnya, karena pada fase ini fisik siswa juga sudah
berkembang dengan baik. Nabi juga mengajarkan bahwa diusia ini anak harus
dibiasakan untuk mandiri, dimulai dari tidurnya yang harus dipisah dengan kedua
orang tuanya.[65]
4.
Usia
12-15 Tahun (Sekolah Menengah Pertama)
Pada tingkatan SMP yakni rata-rata
usia 12-15 tahun, ini masuk dalam golongan Pra-Pubertas. Dalam fase ini
ditandai dengan semakin meningkatnya sikap sosial pada anak. Gejala yang
dominan pada masa ini adalah kecenderungan untuk bersaing yang berlangsung
antara teman sebaya dan lingkungan jenis kelamin yang sama. Pada periode ini
ada kesempatan yang sangat baik untuk membantu anak, disamping menguasai ilmu
dan teknologi yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya, juga
menumbuhkan sikap tanggung jawab dan menghargai nilai-nilai, terutama yang
bersumber dari agama Islam.[66] Untuk
tingkat SMP cara penyampaiannya diperluas yaitu dengan mengemukakan alasan-alasan/dalil-dalil
baik naqli maupun aqli, sehingga anak didik yang telah meningkat remaja itu
dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikirannya dan
selanjutnya dapat memahami alasan-alasan tersebut dan menjadikannya sebuah
keyakinan.[67]
Pendekatan yang digunakan dalam fase
ini adalah dengan pemberian perintah yang masih dibarengi dengan kasih sayang
(kadarnya lebih dikurangi), sebagaimana misalnya Al-Qur’an menggambarkan cara
luqman mendidik anaknya dalam QS. Luqman: 13.[68]
وَإِذْ قَالَ
لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar”.
Dari ayat di atas dapat difahami
bahwa Luqman memberikan pelajaran berupa perintah untuk tidak mensekutukan
Allah swt, tetapi sebelum kalimat perintah itu diberikan didahului dengan
panggilan sayang, “يَابُنَيَ” “wahai anakku”. Kata “bunayy”,
menunjukkan bahwa anak itu secara fisik memang masih kecil, dan dapat pula
menunjukkan adanya hubungan kedekatan dalam arti kasih sayang.[69] Maka memberikan perintah dengan cara yang baik,
akan menjadikan anak mudah dan senang mengerjakan perintah atau kewajiban
tersebut. Jika dilihat dalam segi psikologi pendidikan, mak fase ini dapat di
golongkan dalam teori humanisme, karena pada fase ini siswa sudah berkembang
dengan baik aspek kognitif, afektif dan psikomotornya. Sehingga mereka sudah
mampu memahami dan melaksanakan sebuah perintah atau kewajiban dalam dirinya.
5.
Usia
15-18 Tahun
Dalam tingkatan SMA yang rata-rata usianya yaitu 15-18 tahun,
merupakan usia yang tergolong dalam masa pubertas. Masa ini merupakan tahap
akhir bagi individu dalam mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia dewasa
yang berdiri sendiri. Pada fase ini anak banyak mengalami krisis, namun krisis
itu tidak akan dirasakan berat jika sejak awal anak-anak dan para remaja telah
hidup dalam keluarga yang menempatkan ajaran Islam sebagai penuntunnya. Jika
dalam diri remaja telah tertanam nilai-nilai religi maka sebagai orang yang
beriman, ia akan selalu mampu menyikapi permasalahan hidup, baik yang muncul
dari dalam maupun dari luar dirinya.[70]
Pada tingkatan SMA cara penyampaiannya yaitu tiap materi yang
disampaikan dilengkapi dengan faedah atau arti dari materi PAI tersebut,
sehingga dengan demikian mereka dapat meningkatkan pengertiannya terhadap aspek
yang sedang dipelajari setelah mendapat penjelasan tentang faedah atau artinya.
Disamping itu dapat menolong untuk menentramkan jiwanya dalam menghadapi banyak
kegelisahan yang timbul dalam jiwa mudanya.[71]
Dalam konteks psikologi anak pada usia ini adalah masa dimana mereka butuh
pengakuan atau eksistensi, yang pertama mereka cari adalah eksistensi
dalam keluarga, disinilah peran penting keluarga karena jika itu tidak ia
dapatkan dalam keluarga biasanya mereka akan mencari eksistensi tersebut
diluar rumah bergaul dengan teman-teman tongkrongan yang bisa memberikan
pengakuan pada dirinya. Pada dasarnya anak yang suka keluar rumah atau
nongkrong itu bukan otomatis ia anak yang nakal tetapi memang pada periode ini
mereka dapat taraf pencarian jati diri.
Maka pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran PAI adalah
mengurangi aspek perintah dan mengajak mereka diskusi atau shering, hal
ini dicontohkan oleh nabi Ibrahim ketika ia mendapatkan perintah untuk
menyembelih anaknya (Ismail) Ibrahim menyampaikannya tidak dengan perintah
tetapi bertukar pikiran (shering), sehingga Ismail pun dengan sikap
dewasa memberikan argumen atau pendapatnya, sebagaimana dalam, QS. As.Shaffat:
102.
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya : Maka tatkala
anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai
ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.
Jika dilihat
dari aspek psikologi pembelajaran maka pada fase ini dapat dimasukkan dalam
teori pembelajaran kontruktivisme artinya tidak semua pengetahuan itu bersumber
dari guru tetapi siswalah yang aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka
sendiri. Pendekatan ini memandang bahwa belajar sebagai kegiatan manusia
membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada
pengetahuan sesuai pengalamannya.[72]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Psikologi dapat diartikan sebagai
ilmu yang mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia dengan cara mengkaji sisi
perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan bahwa setiap perilaku manusia
berkaitan dengan latar belakang kejiwaannya. Sedangkan perkembangan adalah perubahan-perubahan
yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau
kematangannya (Maturation) yang berlangsung secara sitematis, progresif, dan
berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (Rohaniah).
Sehingga psikologi perkembangan merupakan ilmu psikologi yang mempelajari
tingkah laku dan aspek kejiwaan individu dalam perkembangannya dan latar
belakang yang mempengaruhinya sejak masa dilahirkan sampai dengan meninggal.
Piaget mengklasifikasikan
perkembangan kognitif ke dalam empat fase perkembangan yaitu: Fase sensomotor
(usia 0-2 tahun), pada fase ini intelegensi/kognitif anak tampil dalam bentuk
kegiatan senso motorik. Fase praoperasional (2-7 tahun), dalam fase ini
intelgensi/kognitif anak tampil dalam bentuk berpikir secara intuitif. Fase
Operasional Konkret (7-12 tahun), Pada masa ini intelgensi/kognitif anak
menampilkan diri dalam bentuk kemampuan berpikir logis dan rasional terhadap
kejadian dan peristiwa yang tampil secara kongkrit. Fase Operasional Formal
(12-tahun sampai dewasa), Fase ini merupakan fase terakhir dalam perkembangan
kognitif. Pada masa ini intelgensi/kognitif menampilkan diri dalam
bentukkemampuan berpikir secara abstrak, yang ditampilkan dalam bentuk
kemampuan mengajukan hipotesis dan memprediksi hal-hal yang akan terjadi.
Pembelajaran merupakan kegiatan
belajar yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar dengan melibatkan
proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik
dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian
kompetensi dasar dan PAI sebagai obyek atau mata pelajaran yang ingin
disampaikan dan di tanamkan pada diri setiap peserta didik. Secara umum materi
pembelajaran pendidikan agama Islam dapat golongkan menjadi empat, yakni; yang
barkaitan antara manusia dengan Tuhan, Manusia dengan manusia yang lain,
manusia dengan alam sekitar, dan antara manusia dengan dirinya sendiri. adapun
materinya dapat di ringkas menjadi pelajaran Al-Qur’an, fiqih, akidah, akhlak
dan SKI.
Sehingga dari dua aspek (psikologi
dam pembelajaran PAI) di atas dapat di pahami bahwa untuk usia 0-2 thn,
sebagian besar berpusat pada orang tua, karena pada usia ini termasuk usia
vital pertama, kemudian usia 2-6 thn, anak sudah menunjukkan perkembangan
kognitif, afektif, psikomotorik yang baik sehingga mereka menjadi lebih aktif
bergerat dan mudah meniru apa saja yang dilihatnya, maka pada usia ini harus
dibiasakan hal-hal baik sehingga anak mulai terbiasa. Usia 6-12 tahun, masuk
pada usia sekolah dasar, pada usia ini anak sudah dapat berinteraksi secara
baik dengan orang lain dan mengalami perkembangan yang pesat sehingga
menjadikan mereka semakin banyak bergerak, maka guru harus menyampaikan materi
dengan metode atau media yang menarik perhatian (fokus) mereka. Usia 12-18
tahun merupakan usia pra pubertas, tanda-tanda perkembangan pubertas sudah
mulai terlihat. Mereka juga sudah bisa berfikir secara abtraks dan sistematis.
Sehingga pembelajaran PAI dapat disampaikan secara lebih rinci dan sistematis.
Dan terakhir usia 15-18 tahun merupakan masa pubertas atau tahap operasional
konkrit,pada usia ini anak sudah mulai berifir mandiri dan butuh pengakuan
diri, sehingga metode pembelajaran yang cocok adalah dengan pendekatan diskusi
atau shering.
B.
Daftar Pustaka
Abdul Majid dan Dina Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005
Ahmad Munjin Nasih,
dkk, Metode
dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama. Islam, Malang : PT
Refika Aditama, 2009
Alex Sobur. Psikologi
umum, Bandung: Pustaka Setia. 2003.
Baharuddin, Pendidikan & Psikologi Perkembangan, Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2009
Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan
Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.
Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran: landasan dan
Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Bukhari Umar, Ilmu
Pendidikan Islam , Jakarta: Amzah, 2010
Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2005
Fuad Nashori, Potensi-potensi Manusia seri pesikologi Islami, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005
Hamdan, Pengembangan dan Pembinaan Kurikulum (teori dan praktek
kurikulum PAI), Banjarmasin: Al-Hikmah Pustaka, 2009
Imam Musbikhin, Mendidik Anak ala Shinchan, Yogyakarta:
Mitra Pustaka, 2004
Ki Furdyanrtanta, Psikologi Umum I dan II , Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2001
Kementerian Agama RI, Modul pengembangan pendidikan agama Islam, Jakarta, Kementerian Agama
RI, 2010
Kartini kartono, Psikologi anak,Bandung : Alumni, 1986
Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), Bandung
: Mandar maju, 1990
Labib MZ., Namaku Nama Islami, Surabaya: Cipta Karya, 2003
Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prothetic Parenting, cara nabi
mendidik anak, Yogyakarta: Pro-U Media, 2010
Muhibbun Syah. Psikologi
Pendidikan, Bandung.PT. Remaja Rosdakarya, 2010
Miftahul Huda, Idealisme Pendidikan Anak, Tafsir tematik QS.
Luqman, Malang: UIN Press, 2009), hlm.97
Muhaimin, Peradigma Pendidikan Islam: Upaya
Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2002
Munawur Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang NU, Yogyakarta :
LKIS Pelangi Aksara, 2006
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka
Cipta,2001, Cet.2
Nana Syaoudih Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan,
Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007
Oemar Hamalik, Proses
Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2014, Cet. 16
Oemar Hamalik, Kurikulum
Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 1999
Rosleny Marliany, Psikologi Umum. CV Pustaka Setia :
Bandung, 2010
Sarlito W Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2010
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2012
Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2012
Saebani Ahmad Beni dan Akhdiyat Hendra, Ilmu Pendidikan Islam,
Bandung:CV Pustaka Setia, 2009
Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting pendidikan anak
metode Nabi,Solo: Aqwam, 2010
Sugiyono dan Mukarom Faisal Rosidin, Hadits Madrasah Aliyah
Program Keagamaan Kelas XII, Kementrian Agama RI Provinsi Jawa Tengah,
2010-2011
Zuhairimi, Metodik
Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Offset Printing, 1981
Zakiyah Drajat,
Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992
Abdul Mustaqim, Berbagai Penyebutan Anak dalam Al-Qur’an:
Implikasi Maknanya dalam Konteks Qura’anic Parenting, dalam
(file:///C:/Users/semesta/Downloads/226-540-1-PB.pdf).
[1] Alex Sobur. Psikologi umum, (Bandung :
Pustaka Setia. 2003), hlm. 19
[2] Rosleny
Marliany, Psikologi Umum. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 13
[3] Ki
Furdyanrtanta, Psikologi Umum I dan II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2001), hlm.1
[4] Sarlito W
Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2010), hlm. 6
[5] Ki
Furdyanrtanta, Psikologi Umum I dan II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2001), hlm.9
[6] Muhibbun Syah. Psikologi Pendidikan (Bandung.PT.
Remaja Rosdakarya, 2010) hlm:41
[7] Desmita, Psikologi
Perkembangan, (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009), hlm. 4
[8] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja, (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012), hlm 15
[9] Sudaryono, Dasar-Dasar
Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hlm. 46
[10] Sudaryono, Dasar-Dasar
Evaluasi Pembelajaran . . hlm. 118
[11] Sudaryono,Dasar-Dasar Evaluasi
Pembelajaran,... hlm. 47-49
[12] Nana Syaoudih
Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[13] Penggunaan
bibir dan lidah selain untuk menyusu dan menelan makanan, juga digunakan untuk
“menjelajahi” dunia sekitar. Sekalipun bayi sudah bisa menggunakan penglihatan
dan pendengaran, namun masih menggunakan mulut dan buburnya untuk “memahami
arti” macam-macam benda. Hal ini ditandai dengan ketika bayi mampu meraih dan
memegang benda-benda tertentu, maka hampir selalu akan dimasukkannya ke dalam
mulut, Lihat, Kartini kartono, Psikologi anak (Bandung : Alumni, 1986),
hlm.102-103.
[14] Karena kondisi
fisik dan mental bayi menjadi fondasi kokoh baik perkembangan dan pertumbuhan
selanjutnya, pada periode ini pula berlangsung proses pertumbuhan yang cepat
sekali, secara lengkap lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi
perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 78. hal ini juga
dikuatkan dengan firman Allah dalam QS.Al-Baqarah[2]: 233, dimana seorang ibu
dianjurkan untuk menyusui anaknya selama 2 tahun. Ini artinya pada usia ini
seorang bayi sangatlah butuh asupan gizi (ASI) agar bayi dapat tumbuh dengan
sehat.
[15] Nana Syaoudih
Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[16] Nana Syaoudih
Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[17] Sebab minat
anak periode ini begitu tercekam oleh Realitas di sekitar dirinya,
sehingga ia tidak mempunyai untuk menyibukkan diri dengan masalah “dibalik
kehidupan” atau hal yang abstrak. Pandangan anak betul-betul mengarah pada
masalah kehidupan sekarang. Tetapi bukan berarti tidak ada tetapi belumlah
menonjol.
[18] Kehidupan
fantasi mengalami perubahan penting, pada usia 8-9 thn, anak menyukai sekali
cerita-cerita dongeng yang hebat, ajaib atau mencekam. Lambat laun unsur kritis
mulai muncul, dan anak mulai mengkoreksi peristiwa yang dihayati. Kini anak
menghendaki peristiwa real yang betul-betul terjadi, atau semestinya harus
terjadi, karena itu anak lalu menyenangi cerita-cerita tentang kepahlawanan.
Lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), (Bandung
: Mandar maju, 1990), hlm. 138.
[19] Nana Syaoudih
Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[20] Pada fase ini
anak akan sangat berhasrat sekali mempelajari dan “menguasai” dunia secara
obyektif, untuk aktifitas tersebut ia memerlukan banyak informasi. Karenanya
dia selalu haus-bertanya, meminta bimbingan, menuntut pengajaran, serta
menginginkan pendidikan. lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi
perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 134.
[21] Sehingga
merupakan tindakan keliru jika orang tua bersikap keras, serta menggunakan
ancaman dan paksaan untuk menghilangkan rasa takut pada diri anak. Sebab
sekalipun anak tampaknya bisa diam (kelihatan tenang), namun dia masih belum
bisa menghilangkan rasa takutnya. Maka cinta kasih orang tua akan menambah
kepercayaan-diri dalam setiap tingkah laku akan.
[22] Pada saat
pertumbuhan ini anak muda atau pubescens pada umumnya mengalami satu bentuk
kritis, berupa kehilangan keseimbangan jasmani dan rohani. Kadang kala
harmoni fungsi-fungsi motoriknya juga terganggu. Sehingga dengan kejadian tadi
pubescens sering tampak kaku, canggung, tidak sopan, kasar tingkah lakunya,
juga perubahan pada muka yang agak buruk. Juga pada periode ini muncul gejala helliogene
acceleratie (akselerasi heliogin), yakni peroses pematangan tubuh,
disebabkan aleh pengaruh aktifitas terbuka, juga pengaruh makanan sehingga
tubuh kadang bertambah besar.
[23] Energi yang
keluar berlimpah-limpah memanifestasikan diri dalam bentuk keberanian,
keriangan, kericuhan, perkelahian, dan olok-olokan atau saling mengganggu.
Sedangkan pada anak gadis gejalanya tidak begitu “panas” seperti laki-laki.
Biasanya ditampilkan dengan sikap yang ketus, cerewet dan tertawa
“ngikik-ngikik” tanpa sebab penting, menjadi centil, banyak lagak, sombong,
gaya berpakaian, dan perhiasan. Lihat. Kartini kartono, Psikologi anak
(psikologi perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 153
[24] Anak puber ini
mulai menemukan diri sendiri atau jatidirinya, dan seperti pada setiap penemu,
anak melebih-lebihkan AKU-nya. Segala sesuatu yang menyangkut diri sendiri,
sekarang menjadi maha penting. Sedangkan sesuatu yang berbau tradisi dan
kakuasaan orang dewasa”, ingin dibuangnya jauh-jauh.
[25] Oleh karena
itu ia suka berlagak dewasa, antara lain; dengan merokok, ngebut naik motor,
banyak “ngibul”, dan bergaya seperti orang dewasa.
[26] Baharuddin
& Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 57-83
[27] Ratna
Yudhawati, Teori-teori Dasar Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Prestasi
Pustakarya, 2011), hlm. 41
[28] Dalyono, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 30
[29] Djaali, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2008), Cet. 3, hlm. 62.
[30] Dalyono, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 44
[31] Dalyono, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 44, aliran ini muncul
sebagai bentuk ketidak setujuan pada dua pandangan sebelumnya, yakni pandangan
behavioristik dan psikoanalisis dalam menjelaskan konsep manusia. Behavior
dianggap terlalu kaku, pasif, statis dan penutut, sedangkan psikoanalisis
dianggap menunjukkan psimisme suram serta keputus asaan. Lihat. M. Dalyono, Psikologi Pendidikan,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta,2001), Cet.2, hlm. 30.
[32] Baharuddin
& Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2007), hlm.115-117
[33] Bambang
Warsita, Teknologi Pembelajaran: landasan dan Aplikasinya, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2008), hlm. 265.
[34] Oemar Hamalik,
Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), Cet. 16, hlm.
201.
[35] Oemar Hamalik,
Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm. 57
[36] Muhaimin, Peradigma
Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di
Sekolah,, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 145
[37] Ibid., h. 183
[38] Zuhairimi, Metodik
Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 1981), hlm. 25
[39] Zakiyah
Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 86
[40] Muhaimin, et,
al,. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 7
[41] Abdul Majid
dan Dina Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 132
[42] Ahmad Munjin Nasih,
dkk, Metode
dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama. Islam, (Malang : PT
Refika Aditama, 2009), hlm. 9
[43] Kementerian Agama RI, Modul pengembangan
pendidikan agama Islam, (Jakarta, Kementerian Agama
RI, 2010), hlm. 17-18.
[44] Saebani Ahmad
Beni dan Akhdiyat Hendra, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung:CV Pustaka
Setia, 2009) hal 46
[45] Hamdan, Pengembangan
dan Pembinaan Kurikulum (teori dan praktek kurikulum PAI), (Banjarmasin:
Al-Hikmah Pustaka, 2009), hlm. 41-42
[46] Kementerian Agama RI, Modul pengembangan
pendidikan agama Islam, (Jakarta, Kementerian Agama
RI, 2010), hlm. 16-17
[47] Zuhairini
dkk., Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usana Offset printing,
1983), 68.
[48] Abdul Majid
dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompetensi (Bandung:
Remaja Rosada Karya, 2006), 147.
[49] Zuhairini
dkk., Methodik…,68.
[50] Abdul Majid
dan Dian Andayani, Pendidikan…, hlm. 147.
[51] Zuhairini
dkk., Methodik…, hlm. 69.
[52] Abdul Majid
dan Dian Andayani, Pendidikan…, hm. 148
[53] Fuad Nashori, Potensi-potensi
Manusia seri pesikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.
135
[54] Munawur Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang
NU (Yogyakarta : LKIS Pelangi Aksara, 2006), hlm. 313
[55] Labib MZ., Namaku
Nama Islami, (Surabaya: Cipta Karya, 2003), hlm. v.
[56] Syaikh Jamal
Abdurrahman, Islamic Parenting pendidikan anak metode Nabi (Solo :Aqwam,
2010), hlm.47
[57] Fuad Nashori, Potensi-potensi
Manusia seri pesikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.
145
[58] Bahkan sejak
masih dalam kandungan bayi sudah mendengar berbagai suara yang akan terekam
dalam memori otaknya. Secara detai Lihat, Widodo Judarwanto, Perkembangan
Normal dan Stimulus Dini Fungsi Pendengaran Bayi, dalam (kompasiana, 20
Agustus 2013), https://www.kompasiana.com/
sandiazyudhasmara/
perkembangan-normal-dan-stimulasi-dini-fungsi-pendengaran-bayi_552e14d06ea834f9338b45a3.
[59] Baharuddin, Pendidikan
& Psikologi Perkembangan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm.71
[60] Muhammad Nur
Abdul Hafizh Suwaid, Prothetic Parenting, cara nabi mendidik anak, (Yogyakarta:
Pro-U Media, 2010), hlm. 137-184
[61] Imam
Musbikhin, Mendidik Anak ala Shinchan, (Yogyakarta: Mitra Pustaka,
2004), hlm.10-11
[62] Desmita, Psikologi
Perkembangan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 156.
[63] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 120.
[64] Zakiah
Darajat, Ilmu Pendidikan islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 134
[65] Sugiyono dan
Mukarom Faisal Rosidin, Hadits Madrasah Aliyah Program Keagamaan Kelas XII,
(Kementrian Agama RI Provinsi Jawa Tengah, 2010-2011), hlm. 17-18
[66] Bukhari Umar, Ilmu
Pendidikan Islam (Jakarta: Amzah,
2010), hlm. 121.
[67] Zakiah
Darajat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 134
[68] Miftahul Huda,
Idealisme Pendidikan Anak, Tafsir tematik QS. Luqman (Malang: UIN Press,
2009), hlm.97
[69] Abdul
Mustaqim, Berbagai Penyebutan Anak dalam Al-Qur’an: Implikasi Maknanya dalam
Konteks Qura’anic Parenting, dalam
(file:///C:/Users/semesta/Downloads/226-540-1-PB.pdf).
[70] Bukhari
Umar, Ilmu Pendidikan Islam …, hlm. 122.
[71] Zakiah
Darajat, Ilmu Pendidikan Islam
…., hlm. 135.
[72] Baharuddin
& Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 115-116
Tidak ada komentar:
Posting Komentar