Kamis, 19 April 2018

Pembelajaran PAI Perspektif Psikologi Perkembangan


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai ilmu kejiwaan manusia. Di dalam dunia pendidikan, ilmu psikologi  digunakan untuk membantu mengenali jiwa peserta didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar dapat berjalan secara maksimal. Antara psikologi dengan pendidikan dan pengajaran mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru dapat memberikan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, artinya psikologi digunakan sebagai pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pengajaran sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan dapat tercapai secara maksimal.
Dalam lingkup yang lebih khusus, terutama dalam konteks kelas, psikologi pembelajaran banyak memusatkan perhatiannya pada psikologi dan pembelajaran. Fokusnya dalam aspek-aspek psikologis pada aktivitas pembelajaran, sehingga dapat diciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Upaya menciptakan proses pembeljaran efektif dapat dilakukan dengan mewujudkan perilaku mengajar yang efektif pada guru, dan mewujudkan perilaku belajar pada siswa yang terkait dengan proses pembelajaran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa psikologi, terlebih psikologi belajar termasuk psikologi pembelajaran PAI, mempunyai peran yang besar dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam.
Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah : pertama, memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain. Kedua, memahami prinsip-prinsip dan teori pembelajaran. Ketiga, memilih metode-metode pembelajaran dan pengajaran yang efektif. Keempat, menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran. Kelima, menciptakan suasana pembelajaran dan pengajaran yang kondusif. Keenam, memilih dan menetapkan isi pengajaran. Ketujuh, membantu peserta didik yang mendapat kesulitan dalam pembelajaran. Kedelapan, memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran. Kesembilan, menilai hasil pembelajaran dan pengajaran. Kesepuluh memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru. Kesebelas, membimbing perkembangan siswa.
Banyak buku yang membahas tentang tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum, akan tetapi dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan yaitu mengenai hubungan antara psikologi dengan pembelajaran pendidikan agama Islam.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana konsep Psikologi perkembangan ?
2.    Bagaimana konsep Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ?
3.    Bagaimana Hubungan Psikologi Dengan Pembelaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ?

C.  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan psikologi dengan pembelajaran pendidikan agama islam (PAI), sehingga para pendidik dalam memberikan pemahaman kepada siswa selalu memperhatikan keadaan psikologi peserta didik, yang kemudian dapat mengkonstruk pemahaman mereka secara maksimal.












BAB II
PEMBAHASAN

A.  Kajian Teori Psikologi Perkembangan
1.      Pengertian Psikologi Perkembangan
Sebagaimana halnya Istilah-istilah ilmiah lain, kata psikologi juga merupakan istilah ilmiah yang berasal dari bahasa yunani. Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti “jiwa” dan “logos” yang berarti “ilmu”. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.[1] Psikologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia dengan cara mengkaji sisi perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan bahwa setiap perilaku manusia berkaitan dengan latar belakang kejiwaannya.[2]
Sedangkan arti psikologi secara istilah, ada berbagai definisi dari para ahli psikologi, diantaranya;
1.    Robert S. Woodwort dan D.G. Marquis mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari aktifitas-aktifitas individu dalam hubungan dengan lingkunganya.[3]
2.    Garner Murphy, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
3.    Clifford T. Morgan, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.[4]

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan alam sekelilingnya, mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia dan mempelajari aktivitas-kativitas jiwa yang tidak tampak dalam pernyataan-pernyataan, misalnya melamun, berfantasi yang diekspresikan dan sebagainya.[5]
Sedangkang perkembangan sendiri dalam kamus besar bahasa indonesia, berarti mekar, terbuka atau membentang menjadi besar, luas dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam kepribadian, pemikiran, pengetahuan dan sebagainya, perkembangan tidak saja bersifat abstrak tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkrit.[6]  Perkembangan menunjuk pada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan menunjukkan pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali”.[7] Perkembangan juga merupakan perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (Maturation) yang berlangsung secara sitematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (Rohaniah).[8]
Sehingga, dari defini-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, psikologi perkembangan ilmu psikologi yang mempelajari tingkah laku dan aspek kejiwaan individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang mempengaruhinya sejak masa dilahirkan sampai dengan meninggal.

2.      Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Perspektif Psikologi
Sebelum membahas lebih jauh tentang konsep pembelajaran PAI dalam perspektif psikologi maka perlu kiranya penulis paparkan secara singkat, bagaimana pandangan psikologi tentang fase-fase perkembangan peserta didik. Karena pembahasan ini dalam konteks pembelarana sehingga karakteristik tersebut ditinjau dari aspek Kognitif, Afektif, Psikomorik.
-       Kognitif: sejauh mana peserta didik mampu memahami materi yang telah diajarkan oleh pendidik, dan pada level yang lebih atas seorang peserta didik mampu menguraikan kembali kemudian memadukannya dengan pemahaman yang sudah ia peroleh untuk kemudian diberi penilaian/pertimbangan.
-       Afektif: adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Aspek afektif pada dasarnya adalah merupakan bagian dari tingkah laku manusia, sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memencar keluar.[9] Di dalamnya mencakup penerimaan (receiving/attending), menanggapi (responding), menilai (valuing), pengorganisasian/mengatur (organization), dan karakterisasi (characterization). Dalam aspek ini peserta didik dinilai sejauh mana ia mampu menginternalisasikan nilai-nilai pembelajaran ke dalam dirinya.[10]
-       Psikomotorik: aspek yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan untuk berprilaku) Aspek penilaian psikomotor terdiri dari; persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guided response), gerakan yang terbiasa (mechanical response), gerakan yang kompleks (complex response), penyesuaian pola gerakan (adjustment), dan kreatifitas (creativity).[11]

a.    Fase Prasekolah (0-6 tahun)
Usia
Aspek
Karakteristik (indikator)
Tambahan
0-2 Thn

Kognitif
a)     Dapat melihat cahaya dan mengikuti arah cahaya.
b)    Mengetahui secara visual objek yang diletakkan didepan matanya
c)     Sudah bisa menghitung maksimal 2-4 buah benda yang ia lihat.
d)    Mengikuti isyarat dan bicara orang dewasa, karena diusia ini pemikiran mereka sama dengan mengikuti atau meniru.
e)     Mengetahui dan dapat menjelaskan objek yang diletakan tak jauh dari sekitar mereka yakni 8-10 inci di depan matanya atau disekitarnya.
f)     Menirukan isyarat-isyarat yang baru yang baru didengar atau dikenal oleh mereka.
g)     Menamai atau menunjukkan pada gambar yang mewakili benda tertentu dan sering dilihatnya atau terbiasa dilihatnya.
h)    Memahami kata minimal 2 kata depan atau bahasa sederhana yang tidak terlalu rumit.
i)      Memperlihatkan ketertarikan dan ingin tahu pada sekitarnya dengan dengan membongkar sesuatu.
j)      Mengingat benda yang ada dan bisa mengembalikanya ke tempat semula.
-   Disibut dengan tahap “sensori motor”[12]
-   Masa Bayi
-   Indera yang paling dominan adalah daerah “mulut”.[13]
-   Butuh ASI eksklufis dari ibu.
-   Periode vital pertama.[14]
-   Mengungkapkan ekspresi  (berkomunikasi) dengan cara gelisah atau menangis.
-   Aktifitas penting adalah tidur (istirahat).
Afektif
a)      Menunjukkan kenyamanan, minat dan kesenangan
b)     Bisa menanggapi orang lain selain orang tuanya
c)      Mempunyai pola tidur yang teratur
d)     Tersenyum melihat benda bergerak atau bayangannya di cermin
e)      Menyampaikan keinginan/kebutuhan dengan bersuara (walau tidak dengan jelas)
f)      Mulai secara terbuka menunjukkan gaya emosional (melalui mimik wajah)
g)      Bersuara atau berteriak tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis


Psikomotor
a)     Bermain dengan tangan
b)     Menahan barang yang dipegangnya
c)     Mampu mengikuti gerak benda yang ada di depannya.
d)     Mencoba merangkak
e)     Mulai belajar merangkak, duduk dan brjalan
f)      Menarik dan mendorong benda dengan tangannya

2-4 Thn
Kognitif
a)     Dapat menunjuk dan menyebut gambar sederhana dan juga mudah diingat.
b)     Anak-anak dengan perkembangan kognitif tertarik mendengar seperti dongeng atau cerita.
c)      Dapat mengenal dan menunjuk anggota tubuhnya.
d)     Dapat mengenal dan mengelompokan warna.
e)      Dapat sudah mengerti konsep seperti besar dan kecil, luas dan sempit dan lainnya.
f)      Dapat mengenal fungsi benda dengan benar.
g)      Ikut dalam kegiatan membaca dengan mengisi kata-kata atau kalimat yang kosong.
h)     Dapat mencocokkan hingga sebelas warna. 
- Disebut dengan tahap “pra-operasional[15]
Afektif
a)      Mulai menggunakan kata-kata atau gerakan yang kompleks untuk mengungkapkan perasaan atau keinginan
b)      Mampu mengungkapkan perasaan atau emosinya secara verbal
c)      Berpartisipasi dalam kegiatan tertentu pada sebagian besar waktunya
d)     Bermain permainan dalam kelompok 
e)      Mengulang kalimat yang terdiri dari lima kata
f)       Mampu menjawab pertanyaan ”jika....lalu apa?”


Psikomotor
a)     Mulai memegang krayon atau pensil dengan jari telunjuk dan ibu jari
b)    Dapat mengayuh sepeda roda tiga
c)     Dapat melompat turun dari ketinggian 6-8- inci
d)    Mampu memutar/ membelok menghidari rintangan sambil berlari atau bersepeda roda tiga
e)     Memanjat berbagai benda dan rintangan
f)     Dapat membuat bangunan dengan berbagai macam balok
g)     Sudah bisa berdiri tanpa jatuh.

4-6
Thn
Kognitif
a)     Dapat mengetahui fungsi benda dengan benar.
b)     Dapat mengelompokkan benda sesuai dengan bentuk, warna, ukuran dan fungsi secara sederhana.
c)      Dapat mencoba untuk menceritakan kembali suatu cerita berdasarkan ingatannya.
d)     Dapat menunjukkan dan menyebutkan anggota tubuhnya.
e)      Dapat mencocokkan hingga sebelas warna.
f)      Dapat membaca dengan memperhatikan gambar.
g)      Sudah bisa membaca kata-kata singkat dan juga ringan seperti 4-6 huruf.
h)     Dapat membaca cerita sederhana dengan lantang dan juga bersuara.
i)       Dapat membedakan fantasi ataupun realita.
- Disebut
   dengan tahap “pemikiran intuitif[16]
- Masuk jenjang pendidikan play group dan TK.
Afektif
a)     Dapat mengerjakan suruhan sederhana
b)    Dapat memilih kegiatan sendiri
c)     Dapat bermain pura-pura tentang profesi tertentu
d)    Dapat menerima pesan sederhana dan menyampaikan pesan tersebut

Psikomotor
a)    Anak sangat aktif bergerak
b)   Dapat bermain permainan di atas meja
c)    Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial, walaupun aktifitas bermain dilakukan secara bersama.


b.    Peserta Didik SD (6-12 Tahun)

Aspek
Usia
Karakteristik (indikator)
Tambahan
Kognitif
6- 12 Thn

 usia ini dapat dibagi menjadi 2 kategori yakni: a) usia, 6-9 thn, masa kanak-kanak tengah,

b) 9-12 thn, masa kanak-kanak akhir.
a)   Anak telah memiliki kecakapan berpikir, kongkrit, empiris dan objektif.
b)   Pemikiran tentang konsep abstrak (fantasi) surga neraka, belum terlalu kuat.[17]
c)   Memiliki kemampuan, mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, dan mengasoisasikan (menghubungakan/ menghitung) angka/ bilangan.
d)   Perasaan intelektual sangat besar.
e)   Sudah mampu memecahkan masalah problem solving yang sederhana.
f)    Sangat suka dengan cerita-cerita dongeng.[18]
g)   Berfikir induktif
h)   Memiliki pengertian lebih baik tentang sebab akibat.

-  Disebut dengan tahap “operasional konkrit”[19]
-  Anak lebih banyak terpengaruh “stimulus” dari luar.
-  Bersifat dinamis dan banyak bergerak serta tertarik dengan segala seuatu yang aktif dan bergerak.
-  Mulai belajar menjadi “realis kecil”[20]
-  Memiliki daya memori dan ingatan yang sangat baik.
-  Perbendaharaan kata semakin komplek

Afektif
a)   Mulai belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
b)   Anak mulai banyak keluar ke lingkungan sekolah (luar rumah)
c)   Dapat bergaul secara aktif
d)   Unsur kemauan belum berkembang penuh.
e)   Kehidupan emosionalnya belum begitu berkembang, kriteria baik-buruk, benar-salah, indah-jelek, mereka peroleh dari orang tua atau orang dewasa.
f)    Mulai merasa takut atau cemas, kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.
g)   Dalam periode menjajah dunia sekitar ia akan selalu menengok pada ibunya.[21]
h)   Mulai memiliki rasa simpatik pada sosok (guru/mata pelajaran ) yang menarik. 

Psiko
motor
a)     Menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik.
b)   Anak sudah siap menerima pelajaran keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, mengetik, beranang,dll.
c)    Anak senang bermain, bergerak, bekerja dalam kelompok.


c.    Peserta Didik SMP (12-15 Tahun)
Aspek
Karakteristik (indikator)
Tambahan
Kognitif
a)    Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, diferen-siasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relatif terbatas.
b)   Kecakapan dasar intelektual berkembang mengikuti laju perkembangan yang pesat.

- Masa pra-Pubertas/    
  peural
-    Proses pematangan fungsi biologis.[22]

Afektif
a)    Kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orangtua.
b)    Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
c)     Mulai merasa tidak mau dianggap anak kecil lagi tapi belum bisa menghilangkan pola kekanak-kanakannya.
d)    Muncul rasa harga diri (pengakuan) yang semakin menguat.[23]
e)     Mulai muncul upaya menggebu-gebu untuk menarik perhatian.

Psiko
motor
a)   Mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder
b)   Berkembangnya tenaga fisik yang melimpah-limpah.
c)   Pertumbuhan jasmani sangat pesat.
d)   Kecenderungan minat dan pilihan karier relatif sudah lebih jelas.
e)   Aktif dalam beberapa jenis permainan jasmaniah (fisik).


d.   Peserta Didik SMA (15-18 tahun)

Aspek
Karakteristik (indikator)
Keterangan
Kognitif
a)   Sudah bisa brfikir secara sistematis
b)  Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.
c)   Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga Negara

- Disebut dengan tahap “operasional formal” atau masa puber.
- Masa rekonstruksi (menemukan kepastian-kepastia baru).[24]
Afektif
a)   Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya
b)   Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
c)   Tidak mau dianggap anak-anak lagi ingin cepat-cepat menjadi dewasa.[25]
d)   Rasa “AKU” nya semakin tinggi
e)   Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial
f)    Mulai muncul sifat-sifat khas, yakni pasif menerima pada wanita, dan sifat aktif-berbuat pada laki-laki.
g)   Rasa bimbang dan takut mulai menghilang (timbul keberanian berbuat).
h)   Anak laki-laki mulai menuntut haknya untuk menentukan nasib sendiri, dan ikut menentukan segala keputusan. Serta ingin memperlihatkan tingkah laku kepahlawanan.
i)     Sedangkan anak wanita berusaha keras untuk disayang oleh siapapun. Serta lebih menampilkan lamunan dan rasa kekaguman terhadap sifat-sifat kepahlawanan.

Psiko
motor
a)    Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif
3.      Teori Belajar dan Pembelajaran Perspektif Psikologi

No
Teori Belajar
Tokoh
Pokok Pemikiran
1
Behavioristik
-  Ivam Pavlov
-  Edward Lee Throndike
-  Burrhus Frederic Skinner
-  Edwin R Gutrie
-  Clark Hull.[26]

1.     Seseorang dikatakan belajar jika terjadi  perubahan tingkah laku.
2.     Aliran ini memandang bahwa manusia hanya pada sisi jasmania saja, mengabaikan aspek mental rohaniah.[27]
3.     Proses pembelajaran dipengaruhi oleh Stimulus (S) dan Respon (R).
4.     Menggunakan pengukuran, untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku.[28]

2
Kognitivisme
-   Kohler,
-   Max wertheimer,
-   Kurt Lewin,
-   Bandura.
1.     Tingkah laku seseorang didasarkan pada kognisi, yakni tindakan mengenal dan memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
2.     Proses belajar melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam diri.
3.     Belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan.
4.     Sehingga prilaku yang nampak pada manusia tidak dapat diukur dan diamati tanpa melihat proses mental (motivasi, keyakinan, kefahaman, dll).[29]

3
Humanisme
-   Combs
-   Abraham Maslov
-   Rogers.[30]
1.     Tiap manusia (individu) dapat menentukan perilaku mereka sendiri tidak terikat oleh lingkungannya.[31]
2.      Belajar tidak hanya sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga proses yang terjadi dalam diri individu yeng melibatkan domain; kognitif, afektif, psikomotorik.
3.     Proses pembelajaran harus mengajarkan siswa bagaimana belajar dan menilai kegunaan belajar bagi dirinya sendiri.

4
Konstruktivisme
-  Jean Piaget
-  Vygotsky
1.    Guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri.
2.    Hakikat belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya.
3.    Dalam proses pembelajaran, siswa harus terlibat aktif dan menjadi pusat kegiatan belajar dan pembelajaran di kelas.[32]



B.  Kajian Teori Pembelajaran Agama Islam
1.    Pengertian Pembelajaran Pendidikan Islam
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang dalam bahasa Yunani disebut instructus atau “intruere”yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran.[33] Kegiatan belajar dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pembelajaran merupakan kegiatan dimana guru melakukan peranan-peranan tertentu agar siswa dapat belajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Strategi pengajaran merupakan keseluruhan metode dan prosedur yang menitikberatkan pada kegiatan peserta didik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.[34]
Pembelajaran menurut Oemar Hamalik sebagai suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran.[35] Pada hakekatnya pembelajaran terkait dengan bagaimana membelajarkan peserta didik atau bagaimana membuat peserta didik dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemampuannya sendiri untuk mempelajari apa yang tercanangkan dalam kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik.[36] Sehingga, Dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan segala upaya untuk menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated) pencapaiannya.
Sedangkan pengertian Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[37] Zuhairimi mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai asuhan-asuhan secara sistematis dalam membentuk anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.[38] Sedangkan Zakiyah Drajat dalam bukunya ilmu Pendidikan Agama Islam menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama serta menjadikannya sebagai pedoman sebagai pandangan hidup.[39]
Pendidikan agama Islam mempunyai peran penting dalam mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia dan kepribadian muslim. Lebih lanjut definisi pendidikan Islam juga dirumuskan dalam petunjuk pelaksanaan kurikulum atau GBPP PAI dinyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[40]
Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai suatu upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku seseorang yang baik dalam kognitif, afektif, dan psikomotorik.[41]

2.    Materi Pendidikan Agama Islam
a.    Karakteristik Materi Pembelajaran PAI

Menurut Pusat Kurikulum Depdiknas, tujuan PAI adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[42]
Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Adapun karakteristik mata pelajaran PAI secara umum adalah sebagai berikut:[43]       
1)        PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam, sehingga PAI merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam dan bernilai ibadah.
2)        Mata pelajaran PAI didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah/al-Hadits Nabi Muhammad Saw. Juga dengan Ijtihad (dalil aqli) para ulama dalam mengembangkan prinsip-prinsip PAI tersebut dengan lebih rinci dan mendetail dalam bentuk fiqih dan hasil-hasil ijtihad lainnya.
3)        Ditinjau dari segi muatan pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI.
4)        Pendidikan agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.
5)        Diberikannya mata pelajaran PAI, bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.
6)        PAI adalah mata pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, PAI tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi yang lebih penting adalah pada aspek afektif dan psikomotornya.
7)        Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu aqidah, syariah, dan akhlak.
8)        Tujuan akhir dari mata pelajaran PAI adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak yang mulia (budi pekerti yang luhur)

b.   Ruang Lingkup Materi PAI
Untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi yang disebutkan dalam tujuan kurikulum PAI, maka isi materi kurikulum PAI didasarkan dan dikembangkan dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam dua sumber pokok, yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.[44] Di samping itu, materi PAI juga diperkaya dengan hasil istimbat atau ijtihat para ulama, sehingga ajaran-ajaran pokok yang bersifat umum, lebih rinci dan mendalam.
Kurikulum PAI mencakup usaha untuk mewujudkan keharmonisan, keserasian, kesesuaian, dan keseimbangan antara berikut ini;
1)         Hubungan manusia dan Sang Pencipta (Allah SWT)
Sejauh mana kita sebagai hamba Allah SWT. Telah melaksanakan segala kewajiban yang diperintahkan-Nya. Dan setaat kita telah mematuhi segala dalam Islam dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali ayat Al Qur’an maupun hadits Nabi yang menegaskan kewajiban seorang hamba dengan sang Khalik yaitu Allah SWT.


2)         Hubungan manusia dengan manusia
Apakah kita seorang muslim yang menjadikan orang lain merasa tentram didekat kita. Sejauh mana hak-hak orang lain telah kita tunaikan. Jangan sampai kita merugikan apalagi mendholimi atau menganiaya hak-hak orang lain.

3)         Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alam
Kita sebagai khalifah dibumi, tentu mempunyai tugas dan tanggung jawab mengelola dan melestarikan alam dan memakmurkan bumi jangan sampai alam dan makhluk lain terpedaya dan terusik karena keberadaan kita yang akibatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri.

4)         Hubungan manusia dengan dirinya sendiri (berakhlak dengan diri sendiri)
Penghargaan orang lain terhadap diri kita, sangat tergantung kepada sejauh mana kita menghargai atau dengan kata lain berakhlak kepada diri sendiri.[45]
Mata pelajaran pendidikan agama Islam secara keseluruhan terbagi dalam lima cakupan, yakni;[46]

No
Mata Pelajaran PAI
Penekanan Kemampuan
1
Al-Qur’an
Penekanan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari

2
Aqidah
Penekanan pada kemampuan memahami rukun iman (keyakinan), yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai asma’ul husna

3
Akhlak
Penekanan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari

4
Fiqih
Penekanan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang baik dan benar.

5
Sejarah kebudayaan Islam
Penekanan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosia, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni,dll.guna mengembangkan kebudayaan dan peradapan Islam.


c.    Pemetaan Materi Pembelajaran PAI
Materi Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA secara umum dapat dipetakan sebagai berikut;
1.    Materi Taman Kanak-kanak
a)   Hafal kalimat-kalimat thayyibah
b)   Mulai tertanam keimanan kepada Allah SWT dan rasul-Nya
c)   Mulai terbiasa berlaku sopan dan santun kepada semua orang
d)  Mulai mengenal ibadah
e)   Mulai mengenal tokoh-tokoh Muslim

2.    Materi PAI bagi SD
Matrei PAI yang ada pada tingkatan SD yaitu: Akhlak, Ibadah, Al-Qur’an, Keimanan, Tarikh Islam.[47] Itulah materi yang secara umum ada dalam tingkatan SD. Dari materi PAI tersebut anak SD diharapkan:
a)   Mampu membaca Al-Qur’an dengan benar.
b)   Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar.
c)   Terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifdat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d)  Mengenal rukun Islam dan mampu melaksanakn beribadadah salat, puasa, zakat fitrah, dan zikir serta do’a setelah salat.[48]
e)   Mengenal beberapa tokoh dan kisah-kisah sejaran Islam.

3.    Materi PAI bagi SMP
Materi PAI di tingkat SMP tidak jauh beda dengan yang ada di SD. Materi-materi tersebut adalah: Keimanan, Ibadah/fiqih, akhlak, Al-Qur’an, hadits, sejarah Islam.[49] Dari materi tersebut anak-anak pada tingkatan SMP diharapkan:
a)   Mampu membaca dan menulis ayat Al-Qur’an serta mengetahui hukum bacaannya.
b)   Beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar dengan mengetahui maknanya.
c)   Terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d)  Memahami ketentuan hukum Islam tentang ibadah dan muamalah serta terbiasa mengamalkannya.
e)   Memahami dan mampu mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam fase Makkah, Madinah, dan Khulafaurrasyidin serta mampu melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.[50]

4.    Materi PAI bagi SMA
Materi PAI untuk tingkatan SMA tidak jauh beda dengan SD dan SMP. Akan tetapi hasil yang diinginkan pada tingkatan SMA ini lebih tinggi dari pada tingkatan sebelumnya. Materi PAI bagi SMA yaitu: Keimanan, Ibadah/Fiqih, Akhlak, Sejarah Islam, Tafsir/Hadits.[51] Dari materi tersebut, anak SMA diharapkan mampu:
a)   Mampu Membaca dengan mengetahui hukum bacaannya, menulis, dan memahami ayat Al-Qur’an serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
b)   Beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha qadar dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta direfleksikan dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta didik pada dimensi kehidupan sehari-hari.
c)   Terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d)  Memahami sumber hukum dan ketentuan hukum Islam tentang ibadah, muamalah, mawaris, munakahat, jenazah, dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
e)   Memahami dan mampu mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam di Indonesia dan dunia serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.[52]



C.  Analisis Sintesis Hubungan Psikologi dengan Pembelajaran PAI
1.    Usia Bayi (0-2 tahun)
Pada periode ini orang tua mempunyai tugas penting dalam mengawali perkembangan anak setelah terlahir di dunia, sebagaimana pada karakteristik psikologi umur antara 0-2 proses perkembangan yang berjalan dengan pesat, sudah bisa menggunakan panca indera mendengar dan penglihatan. Sehingga bebera kewajiban yang harus dilakukan orang diantaranya adalah sebagai berikut. 
a.       Adzan dan Iqamah
Ketika hadir anak manusia dimuka bumi, maka yang pertama-tama menunjukkan fungsi adalah indera pendengaran. Begitu lahir, pada sang bayi perlu dibunyikan kalimat persaksian (adzan dan iqamah). Sebagaimana hadits Nabi saw;[53]

Barangsiapa yang menerima kelahiran seorang anak, maka hendaklah ia mengumandangkan adzan di telinga sebelah kanan dan iqamah di telinga sebelah kiri, agar tercabut beban yang ditanggung ibunya”. [HR. Baihaqi].

‘Ubai bin Abi Rafi’ berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah mengumandangkan adzan ditelinga Hasan bin Ali ketika Fathimah melahirkannya, [HR. Abu Daud dan Tirmidzi].

Adapun hikmah dari adzan dan iqamat menurut Ibnu Qayyum al Jauziyah yaitu  supaya suara yang pertama kali didengar oleh anak adalah kalimat-kalimat seruan yang maha tinggi yang mengandung kebesaran Tuhan. Hikmah lainnya adalah larinya syaitan hingga ia lemah ketika pertama kali ingin mengikat atau mempengaruhinya. Adzan tersebut juga mengandung makna agar dakwah Islam mendahului dakwah syaitan.[54]

b.      Memberi Nama Yang Baik
Nama dan artinya adalah doa orang tua untuk bayi yang baru dilahirkan. Nama bagi seseorang sangatlah penting karena mencerminkan dirinya di dalam sebuah masyarakat serta mencerminkan karakter orang tersebut.[55] Sebagaimana sabda nabi saw;
Dari Kharis bin Nu’am ia berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Muliakanlah anak-anak kalian dan berilah mereka nama-nama yang baik”. (H.R. Ibnu Maajah)
c.       Di Aqiqahi
Rasulullah bersabda :

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْـنَـةٌ بِـعَـقِـيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَـنْـهُ يَـوْمَ سَابِـعِـهِ وَيُـسَـمَّى فِيْـهِ وَيُـحْلَـقُ رَأْسُـهُ
Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]


Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]


Diantara manfaat aqiqah seperti yang diebutkan oleh para ulama’, diantaranya imam Ibnul Qoyyim dalam bukunya Tuhfatul Maudud bahwa aqiqah itu sama dengan berkurban yakni sebagai wujud rasa syukur dan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Juga sebagai upaya pembebasan bayi dari rintangan yang menghambatnya untuk dapat memberi syafaat kepada orang tuanya, atau halangan mendapat syafaat dari kedua orang tuanya.[56]

d.      Memberikan ASI Esklusif
Pada masa bayi ini, penyusuan memegang peranan yang amat besar dalam mengembangkan fisik, emosi, dan kognisi anak. Dalam Islam orang tua (ibu) dianjurkan untuk menyusui anaknya sampai usia dua tahun tetapi apabila ingin menyapihnya juga diperkenan, dan seorang ayah juga memiliki peran penting didalamnya, sebagaimana telah digambarkan secara jelas dalam Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah[2] : 233.[57]

e.       Memaksimalkan fungsi pendengaran
Fungsi pendengaran pada bayi sangat penting. Dia akan menggunakan pendengarannya untuk memahami dan belajar untuk berkomunikasi dengan dunia di sekelilingnya, Bayi menggunakan telinga mereka untuk menerima sejumlah besar informasi tentang dunia di sekitarnya. Mendengar juga memungkinkan untuk belajar bahasa dan merangsang perkembangan otak.[58] Sehingga pada masa ini sebaiknya seorang bayi diperdengarkan dengan suara-suara atau musik yang baik (islami) atau kata kata yang baik, sehingga yang masuk dalam otak bayi adalah juga yang baik-baik.

Sehingga pada periode ini, peran dan kasih sayang orang tua sangatlah diperlukan, dan pendidikan agama Islam bisa ditanamkan dengan membacakan Al-Qur’an didekatnya, diperdengarkan suara-suara yang baik, diajak interaksi yang baik, dan dibiasakan dengan berkata-kata yang baik. Jika dikaitkan dengan psikologi pembelajaran maka pada usia ini dapat digolongkan dalam teori behavioristik, artinya anak perlu untuk diberi stimulus-stimulus yang baik, sehingga seluruh saraf motorik dapat berkembang secara maksimal.

2.    Usia 2-6 tahun
Sebagaimana pada teori psikologi, bahwa anak pada usia ini sudah dapat berinteraksi secara baik dengan orang lain. Dalam segi kognitif anak sudah muncul rasa penasaran dan ingin tau, Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting adalah untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Masa anak usia dini sering disebut juga dengan istilah golden age atau masa emas. Pada masa emas tersebut, hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat.
Pada masa ini anak akan lebih banyak terpengaruh pada lingkungannya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila mereka berada di lingkungan yang berkarakter pula. Begitu juga sebaliknya seorang anak akan menjadi buruk jika berada di tempat atau suasana yang buruk. Karena pada masa ini seluruh panca indera sudah dapat berfungsi secara maksimal dan mengalami perkembangan yang signifikan. Sehingga apa yang dilihat, didengar dan dialami itulah kemudian yang akan mereka tiru.[59]
Pada usia ini, materi pendidikan agama Islam dapat diajarnya pada anak secara sederhana, melalui beberapa metode, diantaranya; Pembiasaan, Sebagaimana jenjang perkembangan psikologi, bahwa pada usia ini anak belum bisa berfikir secara logis dan sistematis, sehingga cara yang efektif adalah dengan mengajak dan membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan agama Islam. Contoh; 1) Shalat, anak tidak perlu dijelaskan secara detail apa itu sholat, tetapi dengan cara mengajak anak sholat atau membawa mereka ke masjid, memberinya peci, sarung dll, maka dengan sendirinya mereka akan mengenal dan terbiasa. 2) Akhlak suka memberi, orang tua bisa melatih sosial anak dengan cara membiasakan mereka memberikan sendiri uang tersebut. Bisa juga dengan Cerita bergambar Pada usia ini kemampuan linguistiknya mulai berkembang sehingga mereka dapat belajar membaca dengan baik. mereka sangat tertarik dengan sesuatu yang unik, bergerak dan bergambar, mereka sudah mampu menyebutkan nama-nama gambar, dan tertarik untuk mengekspresikan warna atau coretan pada gambar. Sehingga pada periode ini metode yang cocok dalam pembelajaran agama Islam adalah dengan menggunakan media yang bergambar.[60]
Pada usia ini juga secara psikologis mereka butuh sahabat termasuk kawan imajinatif (tokoh fiktif) yang bisa diajak bermain, bercerita, bertarung, juga bobok bersama. Anak kecil juga sering berbicara dengan gaya meniru tokoh yang ia sukai tersebut. Maka pada fase ini orang tua atau guru masuk mampu memasukkan sosok (idola) yang baik seperni Nabi Muhammad, dan tokoh muslim lain, lewat dongeng, cerita gambar, dll. Sehingga sedari kecil anak akan memiliki pemahaman bahwa Nabi Muhammad adalah Idolah terbaik mereka.[61] fase ini akan tetap berlangsung hingga anak masuk pada jenjang pendidikan dasar.

3.    Usia 6-12 tahun (Pendidikan Dasar)
Pada periode ini biasanya anak sudah mulai masuk pada jenjang pendidikan formal (SD). Secara psikologis anak sudah memiliki kecakapan berfikir yang empirik, kongkrit dan objektif serta memiliki daya ingatan yang sangat baik sehingga anak benar-benar dalam stadium belajarnya. anak pada usia ini disebut dengan masa “operasional kongkrit”  yakni aktifitas mental yang difokuskan pada obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.[62] Periode ini juga dianggap sebaga masa perkembangan saraf-saraf yang sangatlah pesat inilah yang menjadikan anak lebih banyak bergerak (tidak bisa diam).
Di dalam tingkatan SD, tentu berbeda cara pembelajaran dengan tingkat-tingkat yang lebih dari SD atau dibawahnya, seperti di Taman Kanak-kanak. Kita ketahui di SD umur peserta didik adalah rata-rata dari usia 6-12 tahun. Usia ini tergolong pada usia kanak-kanak. Umur 6-9 tahun masuk dalam golongan usia pertengahan anak-anak. Sedangkan usia 9-12 tahun masuk dalam golongan akhir masa anak-anak. Oleh karena itu dalam fase anak-anak ini peserta didik yang duduk pada tingkatan SD merupakan permulaan bagi mereka untuk mengenal orang dewasa di luar keluarganya. Dan juga pada masa ini, anak yang pada mulanya tertuju kepada dirinya sendiri dan bersifat egosentris mulai tertuju kepada dunia luar, terutama perilaku orang-orang disekitarnya, sopan santun, dan tata kerama sesuai dengan lingkungan rumah dan sekolahnya.[63]
Oleh karena itu untuk tingkat SD materi PAI tersebut diberikan secara sederhana sesuai dengan kemampuan daya berfikir anak, baik itu materi PAI yang berhubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam sehingga ini dapat dipahami, diresapi oleh anak didik dan selanjutnya dapat mewarnai tingkah lakunya sehari-hari.[64] Oleh karena itu, pada fase sekitar umur 6-9 tahun (anak-anak pertengahan) pendekatan pembelajaran PAI harus dengan pendekatan kasih sayang, karena pada umur ini peserta didik belum bisa mengerjakan sesuatu secara mandiri, kemudian karena anak pada fase ini memiliki karakter “banyak gerak” maka metode yang digunakan juga harus metode yang dapat menarik perhatian (fokus) seperti media bergambar, video, dongeng-dongeng yang menarik, bernyanyi sambil gerak, dan mereka juga harus dilibatkan secara penuh dalam proses pembelajaran.
Sedangkan diumur-umur selanjutnya, karakter siswa sudah mulai sedikit berkembang, mereka sudah bisa melakukan sesuatu hal secara mandiri, maka pada fase ini mereka sudah mulai bisa dimasukkan pendekatan perintah dan larangan (secara bertahap) sebagaimana Rasulullah saw bersabda;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya : “Perintahlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan)!”. (HR.Abu Daud)”


Dari hadits diatas, Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang tua (guru) harus memerintahkan (mengajak) anaknya untuk shalat mulai dari umur tujuh sampai sepuluh tahun. Itu artinya selama tiga tahun dia harus bersabar membimbing dan mengingatkan terus tentang shalat. Ini dapat difahami bahwa pada umur tujuh tahun sudah dapat dimasukkan aspek perintah karena pada umur ini anak sering merasa jenuh, dan kejenuhan inilah yang menjadikan anak malas melakukan perintah agama, maka diumur sepuluh tahun dapat dikenai hukuman (pukulan) yang sewajarnya, karena pada fase ini fisik siswa juga sudah berkembang dengan baik. Nabi juga mengajarkan bahwa diusia ini anak harus dibiasakan untuk mandiri, dimulai dari tidurnya yang harus dipisah dengan kedua orang tuanya.[65]

4.    Usia 12-15 Tahun (Sekolah Menengah Pertama)
Pada tingkatan SMP yakni rata-rata usia 12-15 tahun, ini masuk dalam golongan Pra-Pubertas. Dalam fase ini ditandai dengan semakin meningkatnya sikap sosial pada anak. Gejala yang dominan pada masa ini adalah kecenderungan untuk bersaing yang berlangsung antara teman sebaya dan lingkungan jenis kelamin yang sama. Pada periode ini ada kesempatan yang sangat baik untuk membantu anak, disamping menguasai ilmu dan teknologi yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya, juga menumbuhkan sikap tanggung jawab dan menghargai nilai-nilai, terutama yang bersumber dari agama Islam.[66] Untuk tingkat SMP cara penyampaiannya diperluas yaitu dengan mengemukakan alasan-alasan/dalil-dalil baik naqli maupun aqli, sehingga anak didik yang telah meningkat remaja itu dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikirannya dan selanjutnya dapat memahami alasan-alasan tersebut dan menjadikannya sebuah keyakinan.[67]
Pendekatan yang digunakan dalam fase ini adalah dengan pemberian perintah yang masih dibarengi dengan kasih sayang (kadarnya lebih dikurangi), sebagaimana misalnya Al-Qur’an menggambarkan cara luqman mendidik anaknya dalam QS. Luqman: 13.[68]

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Dari ayat di atas dapat difahami bahwa Luqman memberikan pelajaran berupa perintah untuk tidak mensekutukan Allah swt, tetapi sebelum kalimat perintah itu diberikan didahului dengan panggilan sayang, يَابُنَيَ “wahai anakku”. Kata “bunayy”, menunjukkan bahwa anak itu secara fisik memang masih kecil, dan dapat pula menunjukkan adanya hubungan kedekatan dalam arti kasih sayang.[69] Maka  memberikan perintah dengan cara yang baik, akan menjadikan anak mudah dan senang mengerjakan perintah atau kewajiban tersebut. Jika dilihat dalam segi psikologi pendidikan, mak fase ini dapat di golongkan dalam teori humanisme, karena pada fase ini siswa sudah berkembang dengan baik aspek kognitif, afektif dan psikomotornya. Sehingga mereka sudah mampu memahami dan melaksanakan sebuah perintah atau kewajiban dalam dirinya.

5.    Usia 15-18 Tahun
Dalam tingkatan SMA yang rata-rata usianya yaitu 15-18 tahun, merupakan usia yang tergolong dalam masa pubertas. Masa ini merupakan tahap akhir bagi individu dalam mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia dewasa yang berdiri sendiri. Pada fase ini anak banyak mengalami krisis, namun krisis itu tidak akan dirasakan berat jika sejak awal anak-anak dan para remaja telah hidup dalam keluarga yang menempatkan ajaran Islam sebagai penuntunnya. Jika dalam diri remaja telah tertanam nilai-nilai religi maka sebagai orang yang beriman, ia akan selalu mampu menyikapi permasalahan hidup, baik yang muncul dari dalam maupun dari luar dirinya.[70]
Pada tingkatan SMA cara penyampaiannya yaitu tiap materi yang disampaikan dilengkapi dengan faedah atau arti dari materi PAI tersebut, sehingga dengan demikian mereka dapat meningkatkan pengertiannya terhadap aspek yang sedang dipelajari setelah mendapat penjelasan tentang faedah atau artinya. Disamping itu dapat menolong untuk menentramkan jiwanya dalam menghadapi banyak kegelisahan yang timbul dalam jiwa mudanya.[71] Dalam konteks psikologi anak pada usia ini adalah masa dimana mereka butuh pengakuan atau eksistensi, yang pertama mereka cari adalah eksistensi dalam keluarga, disinilah peran penting keluarga karena jika itu tidak ia dapatkan dalam keluarga biasanya mereka akan mencari eksistensi tersebut diluar rumah bergaul dengan teman-teman tongkrongan yang bisa memberikan pengakuan pada dirinya. Pada dasarnya anak yang suka keluar rumah atau nongkrong itu bukan otomatis ia anak yang nakal tetapi memang pada periode ini mereka dapat taraf pencarian jati diri.
Maka pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran PAI adalah mengurangi aspek perintah dan mengajak mereka diskusi atau shering, hal ini dicontohkan oleh nabi Ibrahim ketika ia mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya (Ismail) Ibrahim menyampaikannya tidak dengan perintah tetapi bertukar pikiran (shering), sehingga Ismail pun dengan sikap dewasa memberikan argumen atau pendapatnya, sebagaimana dalam, QS. As.Shaffat: 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. 

Jika dilihat dari aspek psikologi pembelajaran maka pada fase ini dapat dimasukkan dalam teori pembelajaran kontruktivisme artinya tidak semua pengetahuan itu bersumber dari guru tetapi siswalah yang aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Pendekatan ini memandang bahwa belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya.[72]







BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia dengan cara mengkaji sisi perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan bahwa setiap perilaku manusia berkaitan dengan latar belakang kejiwaannya. Sedangkan perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (Maturation) yang berlangsung secara sitematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (Rohaniah). Sehingga psikologi perkembangan merupakan ilmu psikologi yang mempelajari tingkah laku dan aspek kejiwaan individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang mempengaruhinya sejak masa dilahirkan sampai dengan meninggal.
Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif ke dalam empat fase perkembangan yaitu: Fase sensomotor (usia 0-2 tahun), pada fase ini intelegensi/kognitif anak tampil dalam bentuk kegiatan senso motorik. Fase praoperasional (2-7 tahun), dalam fase ini intelgensi/kognitif anak tampil dalam bentuk berpikir secara intuitif. Fase Operasional Konkret (7-12 tahun), Pada masa ini intelgensi/kognitif anak menampilkan diri dalam bentuk kemampuan berpikir logis dan rasional terhadap kejadian dan peristiwa yang tampil secara kongkrit. Fase Operasional Formal (12-tahun sampai dewasa), Fase ini merupakan fase terakhir dalam perkembangan kognitif. Pada masa ini intelgensi/kognitif menampilkan diri dalam bentukkemampuan berpikir secara abstrak, yang ditampilkan dalam bentuk kemampuan mengajukan hipotesis dan memprediksi hal-hal yang akan terjadi.
Pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar dengan melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar dan PAI sebagai obyek atau mata pelajaran yang ingin disampaikan dan di tanamkan pada diri setiap peserta didik. Secara umum materi pembelajaran pendidikan agama Islam dapat golongkan menjadi empat, yakni; yang barkaitan antara manusia dengan Tuhan, Manusia dengan manusia yang lain, manusia dengan alam sekitar, dan antara manusia dengan dirinya sendiri. adapun materinya dapat di ringkas menjadi pelajaran Al-Qur’an, fiqih, akidah, akhlak dan SKI.
Sehingga dari dua aspek (psikologi dam pembelajaran PAI) di atas dapat di pahami bahwa untuk usia 0-2 thn, sebagian besar berpusat pada orang tua, karena pada usia ini termasuk usia vital pertama, kemudian usia 2-6 thn, anak sudah menunjukkan perkembangan kognitif, afektif, psikomotorik yang baik sehingga mereka menjadi lebih aktif bergerat dan mudah meniru apa saja yang dilihatnya, maka pada usia ini harus dibiasakan hal-hal baik sehingga anak mulai terbiasa. Usia 6-12 tahun, masuk pada usia sekolah dasar, pada usia ini anak sudah dapat berinteraksi secara baik dengan orang lain dan mengalami perkembangan yang pesat sehingga menjadikan mereka semakin banyak bergerak, maka guru harus menyampaikan materi dengan metode atau media yang menarik perhatian (fokus) mereka. Usia 12-18 tahun merupakan usia pra pubertas, tanda-tanda perkembangan pubertas sudah mulai terlihat. Mereka juga sudah bisa berfikir secara abtraks dan sistematis. Sehingga pembelajaran PAI dapat disampaikan secara lebih rinci dan sistematis. Dan terakhir usia 15-18 tahun merupakan masa pubertas atau tahap operasional konkrit,pada usia ini anak sudah mulai berifir mandiri dan butuh pengakuan diri, sehingga metode pembelajaran yang cocok adalah dengan pendekatan diskusi atau shering.




















B.  Daftar Pustaka
Abdul Majid dan Dina Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005
Ahmad Munjin Nasih, dkk, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama. Islam, Malang : PT Refika Aditama, 2009
Alex  Sobur. Psikologi umum, Bandung: Pustaka Setia. 2003.
Baharuddin, Pendidikan & Psikologi Perkembangan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009
Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.
Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran: landasan dan Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Bukhari Umar,  Ilmu Pendidikan Islam , Jakarta: Amzah, 2010
Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005
Fuad Nashori, Potensi-potensi Manusia seri pesikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Hamdan, Pengembangan dan Pembinaan Kurikulum (teori dan praktek kurikulum PAI), Banjarmasin: Al-Hikmah Pustaka, 2009
Imam Musbikhin, Mendidik Anak ala Shinchan, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004
Ki Furdyanrtanta, Psikologi Umum I dan II , Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Kementerian Agama RI, Modul pengembangan pendidikan agama Islam, Jakarta, Kementerian Agama RI, 2010
Kartini kartono, Psikologi anak,Bandung : Alumni, 1986
Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), Bandung : Mandar maju, 1990
Labib MZ., Namaku Nama Islami, Surabaya: Cipta Karya, 2003
Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prothetic Parenting, cara nabi mendidik anak, Yogyakarta: Pro-U Media, 2010
Muhibbun Syah.  Psikologi Pendidikan, Bandung.PT. Remaja Rosdakarya, 2010
Miftahul Huda, Idealisme Pendidikan Anak, Tafsir tematik QS. Luqman, Malang: UIN Press, 2009), hlm.97
Muhaimin, Peradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Munawur Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang NU, Yogyakarta : LKIS Pelangi Aksara, 2006
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta,2001, Cet.2
Nana Syaoudih Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2014, Cet. 16
Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 1999
Rosleny Marliany, Psikologi Umum. CV Pustaka Setia : Bandung, 2010
Sarlito W Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012
Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012
Saebani Ahmad Beni dan Akhdiyat Hendra, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung:CV Pustaka Setia, 2009
Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting pendidikan anak metode Nabi,Solo: Aqwam, 2010
Sugiyono dan Mukarom Faisal Rosidin, Hadits Madrasah Aliyah Program Keagamaan Kelas XII, Kementrian Agama RI Provinsi Jawa Tengah, 2010-2011
Zuhairimi, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Offset Printing, 1981
Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992
Abdul Mustaqim, Berbagai Penyebutan Anak dalam Al-Qur’an: Implikasi Maknanya dalam Konteks Qura’anic Parenting, dalam (file:///C:/Users/semesta/Downloads/226-540-1-PB.pdf).






[1] Alex  Sobur. Psikologi umum, (Bandung : Pustaka Setia. 2003), hlm. 19
[2] Rosleny Marliany, Psikologi Umum. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 13
[3] Ki Furdyanrtanta, Psikologi Umum I dan II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.1
[4] Sarlito W Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 6
[5] Ki Furdyanrtanta, Psikologi Umum I dan II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.9
[6]  Muhibbun Syah.  Psikologi Pendidikan (Bandung.PT. Remaja Rosdakarya, 2010) hlm:41
[7] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009), hlm. 4
[8] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012), hlm 15
[9] Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hlm. 46
[10] Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran . .  hlm. 118
[11] Sudaryono,Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran,... hlm. 47-49
[12] Nana Syaoudih Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[13] Penggunaan bibir dan lidah selain untuk menyusu dan menelan makanan, juga digunakan untuk “menjelajahi” dunia sekitar. Sekalipun bayi sudah bisa menggunakan penglihatan dan pendengaran, namun masih menggunakan mulut dan buburnya untuk “memahami arti” macam-macam benda. Hal ini ditandai dengan ketika bayi mampu meraih dan memegang benda-benda tertentu, maka hampir selalu akan dimasukkannya ke dalam mulut, Lihat, Kartini kartono, Psikologi anak (Bandung : Alumni, 1986), hlm.102-103.
[14] Karena kondisi fisik dan mental bayi menjadi fondasi kokoh baik perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya, pada periode ini pula berlangsung proses pertumbuhan yang cepat sekali, secara lengkap lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 78. hal ini juga dikuatkan dengan firman Allah dalam QS.Al-Baqarah[2]: 233, dimana seorang ibu dianjurkan untuk menyusui anaknya selama 2 tahun. Ini artinya pada usia ini seorang bayi sangatlah butuh asupan gizi (ASI) agar bayi dapat tumbuh dengan sehat.
[15] Nana Syaoudih Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[16] Nana Syaoudih Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[17] Sebab minat anak periode ini begitu tercekam oleh Realitas di sekitar dirinya, sehingga ia tidak mempunyai untuk menyibukkan diri dengan masalah “dibalik kehidupan” atau hal yang abstrak. Pandangan anak betul-betul mengarah pada masalah kehidupan sekarang. Tetapi bukan berarti tidak ada tetapi belumlah menonjol.
[18] Kehidupan fantasi mengalami perubahan penting, pada usia 8-9 thn, anak menyukai sekali cerita-cerita dongeng yang hebat, ajaib atau mencekam. Lambat laun unsur kritis mulai muncul, dan anak mulai mengkoreksi peristiwa yang dihayati. Kini anak menghendaki peristiwa real yang betul-betul terjadi, atau semestinya harus terjadi, karena itu anak lalu menyenangi cerita-cerita tentang kepahlawanan. Lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 138.
[19] Nana Syaoudih Sukmadinata, Landasan Psikologi Porses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 118
[20] Pada fase ini anak akan sangat berhasrat sekali mempelajari dan “menguasai” dunia secara obyektif, untuk aktifitas tersebut ia memerlukan banyak informasi. Karenanya dia selalu haus-bertanya, meminta bimbingan, menuntut pengajaran, serta menginginkan pendidikan. lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 134.
[21] Sehingga merupakan tindakan keliru jika orang tua bersikap keras, serta menggunakan ancaman dan paksaan untuk menghilangkan rasa takut pada diri anak. Sebab sekalipun anak tampaknya bisa diam (kelihatan tenang), namun dia masih belum bisa menghilangkan rasa takutnya. Maka cinta kasih orang tua akan menambah kepercayaan-diri dalam setiap tingkah laku akan.
[22] Pada saat pertumbuhan ini anak muda atau pubescens pada umumnya mengalami satu bentuk kritis, berupa kehilangan keseimbangan jasmani dan rohani. Kadang kala harmoni fungsi-fungsi motoriknya juga terganggu. Sehingga dengan kejadian tadi pubescens sering tampak kaku, canggung, tidak sopan, kasar tingkah lakunya, juga perubahan pada muka yang agak buruk. Juga pada periode ini muncul gejala helliogene acceleratie (akselerasi heliogin), yakni peroses pematangan tubuh, disebabkan aleh pengaruh aktifitas terbuka, juga pengaruh makanan sehingga tubuh kadang bertambah besar.
[23] Energi yang keluar berlimpah-limpah memanifestasikan diri dalam bentuk keberanian, keriangan, kericuhan, perkelahian, dan olok-olokan atau saling mengganggu. Sedangkan pada anak gadis gejalanya tidak begitu “panas” seperti laki-laki. Biasanya ditampilkan dengan sikap yang ketus, cerewet dan tertawa “ngikik-ngikik” tanpa sebab penting, menjadi centil, banyak lagak, sombong, gaya berpakaian, dan perhiasan. Lihat. Kartini kartono, Psikologi anak (psikologi perkembangan), (Bandung : Mandar maju, 1990), hlm. 153
[24] Anak puber ini mulai menemukan diri sendiri atau jatidirinya, dan seperti pada setiap penemu, anak melebih-lebihkan AKU-nya. Segala sesuatu yang menyangkut diri sendiri, sekarang menjadi maha penting. Sedangkan sesuatu yang berbau tradisi dan kakuasaan orang dewasa”, ingin dibuangnya jauh-jauh.
[25] Oleh karena itu ia suka berlagak dewasa, antara lain; dengan merokok, ngebut naik motor, banyak “ngibul”, dan bergaya seperti orang dewasa.
[26] Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 57-83
[27] Ratna Yudhawati, Teori-teori Dasar Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Prestasi Pustakarya, 2011), hlm. 41
[28] Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 30
[29] Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2008), Cet. 3, hlm. 62.
[30] Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 44
[31] Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 44, aliran ini muncul sebagai bentuk ketidak setujuan pada dua pandangan sebelumnya, yakni pandangan behavioristik dan psikoanalisis dalam menjelaskan konsep manusia. Behavior dianggap terlalu kaku, pasif, statis dan penutut, sedangkan psikoanalisis dianggap menunjukkan psimisme suram serta keputus asaan.  Lihat. M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2001), Cet.2, hlm. 30.
[32] Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm.115-117
[33] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran: landasan dan Aplikasinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 265.
[34] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), Cet. 16, hlm. 201.
[35] Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm. 57
[36] Muhaimin, Peradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 145
[37] Ibid., h. 183
[38] Zuhairimi, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 1981), hlm. 25
[39] Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 86
[40] Muhaimin, et, al,. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 7
[41] Abdul Majid dan Dina Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 132
[42] Ahmad Munjin Nasih, dkk, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama. Islam, (Malang : PT Refika Aditama, 2009), hlm. 9
[43] Kementerian Agama RI, Modul pengembangan pendidikan agama Islam, (Jakarta, Kementerian Agama RI, 2010), hlm. 17-18.
[44] Saebani Ahmad Beni dan Akhdiyat Hendra, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung:CV Pustaka Setia, 2009) hal 46
[45] Hamdan, Pengembangan dan Pembinaan Kurikulum (teori dan praktek kurikulum PAI), (Banjarmasin: Al-Hikmah Pustaka, 2009), hlm. 41-42
[46] Kementerian Agama RI, Modul pengembangan pendidikan agama Islam, (Jakarta, Kementerian Agama RI, 2010), hlm. 16-17
[47] Zuhairini dkk., Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usana Offset printing, 1983), 68.
[48] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompetensi (Bandung: Remaja Rosada Karya, 2006), 147.
[49] Zuhairini dkk., Methodik…,68.
[50] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan…, hlm. 147.
[51] Zuhairini dkk., Methodik…, hlm. 69.
[52] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan…, hm. 148
[53] Fuad Nashori, Potensi-potensi Manusia seri pesikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 135
[54]  Munawur Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang NU (Yogyakarta : LKIS Pelangi Aksara, 2006), hlm. 313
[55] Labib MZ., Namaku Nama Islami, (Surabaya: Cipta Karya, 2003), hlm.  v.
[56] Syaikh Jamal Abdurrahman, Islamic Parenting pendidikan anak metode Nabi (Solo :Aqwam, 2010), hlm.47
[57] Fuad Nashori, Potensi-potensi Manusia seri pesikologi Islami (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 145
[58] Bahkan sejak masih dalam kandungan bayi sudah mendengar berbagai suara yang akan terekam dalam memori otaknya. Secara detai Lihat, Widodo Judarwanto, Perkembangan Normal dan Stimulus Dini Fungsi Pendengaran Bayi, dalam (kompasiana, 20 Agustus 2013), https://www.kompasiana.com/ sandiazyudhasmara/ perkembangan-normal-dan-stimulasi-dini-fungsi-pendengaran-bayi_552e14d06ea834f9338b45a3.
[59] Baharuddin, Pendidikan & Psikologi Perkembangan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm.71
[60] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prothetic Parenting, cara nabi mendidik anak, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hlm. 137-184
[61] Imam Musbikhin, Mendidik Anak ala Shinchan, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), hlm.10-11
[62] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 156.
[63] Bukhari Umar,  Ilmu Pendidikan Islam  (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 120.
[64] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 134
[65] Sugiyono dan Mukarom Faisal Rosidin, Hadits Madrasah Aliyah Program Keagamaan Kelas XII, (Kementrian Agama RI Provinsi Jawa Tengah, 2010-2011), hlm. 17-18
[66] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam  (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 121.
[67] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 134
[68] Miftahul Huda, Idealisme Pendidikan Anak, Tafsir tematik QS. Luqman (Malang: UIN Press, 2009), hlm.97
[69] Abdul Mustaqim, Berbagai Penyebutan Anak dalam Al-Qur’an: Implikasi Maknanya dalam Konteks Qura’anic Parenting, dalam (file:///C:/Users/semesta/Downloads/226-540-1-PB.pdf).
[70] Bukhari Umar,  Ilmu Pendidikan Islam  …, hlm. 122.
[71] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam  …., hlm. 135.
[72] Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 115-116

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Revitalisasi Perumusan Kompetensi Lulusan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh : Ahmad Faisol A.     Rasionalitas Gelegar Masyarakat Ekonomi A SEAN 2015 (MEA) telah menggema, meskipun belum diterima ...