Kamis, 19 April 2018

Revitalisasi Perumusan Kompetensi Lulusan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN



Oleh :
Ahmad Faisol

A.    Rasionalitas
Gelegar Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (MEA) telah menggema, meskipun belum diterima sepenuhnya oleh seluruh masyarakat. Mengapa demikian, karena kehadiran pasar ini tampil dengan perspektif ekonomi saja, sehingga masyarakat yang berada di luar ranah ekonomi, bisa jadi tidak tahu atau tidak mau tahu. MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) yang akan di-launching pada 31 Desember 2015, memungkinkan mudahnya mobilitas barang, jasa, dan orang antarnegara di wilayah ASEAN. Tentu saja ini merupakan angin segar bagi yang siap bersaing, namun menjadi badai yang melumpuhkan bagi yang tidak siap. Kita akan melihat betapa mudahnya barang, jasa, dan orang di wilayah ASEAN memasuki negara kita demikian juga sebaliknya apabila kita memiliki daya saing. Berbagai kemungkinan bisa terjadi seperti: supir angkot orang Kamboja, buruh pabrik dan pekerja bangunan orang Laos dan Vietnam, pedagang di pasar orang Thailand dan Malaysia.
Jutaan orang akan bersaing dengan tenaga kerja asing pasca mereka lulus dari satuan pendidikan tertentu. Suatu fakta yang tidak bisa dihindari karena perjanjian tersebut telah disepakati oleh seluruh anggota ASEAN. Tema implementasi pasar tunggal ASEAN 2015 adalah sektor barang dan jasa. Tujuh sektor barang yang dimaksud yaitu produk berbasis pertanian, otomotif, elektronik, karet, tekstil, perikanan, dan barang dari kayu, sedangkan lima sektor jasanya adalah layanan transportasi udara, layanan dalam jaringan, pariwisata, kesehatan, dan logistik.
Meskipun saat ini hanya terbatas beberapa sektor, perjanjian ini menimbulkan tanda tanya besar bagi insan pendidikan tentang sejauh mana kemampuan anak didik kita dalam bersaing secara global. Semakin dekatnya MEA dan masih banyaknya masyarakat yang belum memahami hal ini, besar kemungkinan menjadi masalah besar bagi bangsa kita, sebab akan muncul kegagapan massal terutama bagi angkatan kerja yang tidak terdidik dan tidak  terlatih.
Bagaimana pendidikan (khususnya lembaga pendidikan Islam) kita merespon MEA yang sudah ada di pelupuk mata? Akankah kita korbankan generasi sekarang bersaing tanpa persiapan?. Era perdagangan bebas ASEAN harus disambut oleh dunia pendidikan dengan cepat, agar sumber daya manusia Indonesia siap menghadapinya tanpa banyak menimbulkan masalah.
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang menempati peran penting di muka bumi ini, karena dengan pendidikan Islam inilah nilai-nilai yang baik bisa di ajarkan. Sehingga dengan datangnya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini, lembaga pendidikan Islam pun harus melakukan perumusan setrategis agar mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing tinggi.


B.     Rumusan Masalah
1.    Apa yang harus di lakukan lembaga pendidikan Islam dalam mempersiapkan lulusan yang berkompeten dalam MEA ?

C.    Solusi
Keadaan yang digambarkan diatas tidak mungkin untuk dihindari, apalagi di cegah, sehingga satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menyiapkan diri dengan cara “Merevitalisasi kembali kompetensi apa saja yang di butuhkan dalam persaingan MEA”.
Minimal ada dua pendekatan dalam upaya “revitalisasi” peningkatan standar kompetensi lulusan lembaga pendidikan Islam, yakni :
1.    Mensosialisasikan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), dengan menentukan stadart kelulusan yang berskala ASEAN.
2.    Merumuskan kompetensi pokok, yang menjadi ciri lulusan lembaga pendidikan Islam sebagai modal mandiri dalam persaingan MEA.

Pada pendekatan yang pertama, standar kerangka kualifikasi ini harus ditentukan oleh negara. Standart tersebut mulai dari satu hingga sembilan. Standar satu sampai tiga untuk TK sampai MI, standar empat untuk SLTP (MTs), standar lima untuk SLTA (MA), standar enam untuk jenjang strata satu (S-1), standar tujuh untuk strata dua (S-2), standar delapan untuk spesialis atau master filosofi, dan standar sembilan untuk doktor.
Standart ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan Islam di Indonesia dapat setara dengan kualitas lembaga-lembaga pendidikan lain di seluruh anggota ASEAN. Juga dengan standart guru dan dosen sehingga mereka mengajar adalah guru yang memiliki kompetensi dan integritas bersekalan ASEAN.
Pada pendekatan yang kedua, merupakan bagian yang paling penting dimana lembaga pendidikan Islam harus memiliki rumusan grend desain setandart kompetensi lulusan yang dirumuskan dari hasil analisis kritis pokok-pokok ajaran Islam, diantaranya adalah lulusan pendidikan Agama Islam diharapkan memiliki spesifikasi kemandirian, berupa :
a.    Pandai Membaca, membaca yang tidak hanya terbatas pada bacaan tekstual, tetapi lebih mampu membaca situasi (kontekstual) “mampu meneliti”, sehingga barang siapa yang mampu membaca kondisi persaingan maka ia yang akan mampu bersaing.
b.   Pandai Mencipta, dengan MEA ini agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi penonton dan konsumen semata, maka kompetensi yang harus dimiliki adalah kreatifitas yakni inovatif partisipatif.
c.    Pandai Bekerja Sama, dengan datangnya masyarakat dari berbagai Negara ASEAN maka kemampuan bahasa yang komunikatif dalam menjalin kerja sama adalah hal pokok dan urgen untuk dikuasai.
d.   Pandai Menyelesaikan Masalah, dengan datangnya MEA maka masalah pun pasti semakin banyak, maka dibutuhkan individu-individu yang arif, bijaksana dan dewasaan dalam menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul.   

Empat point diatas, merupakan rumusan prinsip ideal yang menjadi kompetensi pokok dan ideal, hasil manifestasi dari berbagai ajaran keislaman yang sudah sepatutnya di implementasikan dan dikembangkan di lembaga pendidikan Islam melalui berbagai macam metode dan kebijakannya.
Sehingga lembaga pendidikan Islam pun dapat diperhitungkan peranannya dalam mempersiapkan generasi muda pada persaingan “Masyarakat Ekonomi Asean” yang mau tidak mau pasti akan dilalui.


1 komentar:

  1. The Casino - Dr.mcd.com
    The Casino. 양산 출장안마 Dr.mcd.com 전주 출장안마 has a 경기도 출장안마 reputation for being the best in 서울특별 출장마사지 the casino. It is home to a 군산 출장안마 variety of games and entertainment options.

    BalasHapus

Revitalisasi Perumusan Kompetensi Lulusan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh : Ahmad Faisol A.     Rasionalitas Gelegar Masyarakat Ekonomi A SEAN 2015 (MEA) telah menggema, meskipun belum diterima ...